
"Mas," lirih Meli saat Reza melepas pangutan nya dibibir sang istri.
"Kenapa sayang? Tenang saja, hanya ini kok. Mas tidak akan memaksa jika kamu memang belum siap melakukan itu sekarang. Anggap saja ini sebagai perkenalan akan hubungan halal kita, apa kamu keberatan?"
Meli hanya mampu menggelengkan kepalanya untuk merespon pertanyaan dari Reza. Jujur, Meli sama sekali tidak keberatan dengan apa yang Reza lakukan. Toh memang itu kewajiban Meli sebagai seorang istri, melayani suaminya dan memenuhi permintaan sang suami. Apalagi Reza sudah memberikan yang terbaik untuknya selama beberapa hari ini.
Reza bahkan tidak segan segan keluar uang banyak untuk sekedar memesan makanan dari salah satu tempat catering ternama untuk menjamu para tamu yang selalu setia hadir dalam acara tahlilan untuk mendoakan mendiang mertuanya.
Melihat Meli yang selalu terlihat sibuk mengurusi ini dan itu, belum lagi dengan wajah Meli yang selalu terlihat lelah dan sedih. Membuat Reza tidak tega dan akhirnya memutuskan untuk memesan saja dari jasa catering.
Dengan begitu Meli bisa istirahat sebanyak mungkin karena acara tahlilan itu masih akan berlangsung dua hari lagi. Dan hal Itu sudah membuktikan jika Reza sudah memulai tanggung jawabnya sebagai seorang suami.
Lantas, bagaimana dengan Meli? Meski Reza sudah bilang akan menunggu sampai Meli siap. Tentu saja, Meli harus memikirkan akan tanggung jawabnya sebagai seorang istri mulai dari sekarang.
__ADS_1
Karena pada dasarnya, hubungan suami istri akan terjalin dengan baik salah satu caranya adalah dengan urusan peranjangan. Dan Reza adalah pria normal, tubuhnya pasti akan langsung bereaksi saat dirinya berdekatan dengan lawan jenis.
Apalagi hubungan mereka halal dan resmi, sudah barang tentu tidak akan ada lagi yang membatasi keduanya untuk melakukan hal yang lebih dari pelukan dan ciuman.
"Ya sudah, pengenalan nya sampai disini dulu saja. Sekarang lebih baik kita istirahat ya?" lanjut Reza membelai lembut pucuk kepala Meli.
Reza pun mulai merubah posisi nya dengan mulai merangkak naik ke atas ranjang. Membaringkan tubuh lelahnya di ranjang sebelah kiri sedangkan Meli sendiri masih duduk terdiam memperhatikan gerak gerik suaminya.
"Kenapa? Tidak nyaman ya kalau aku tidur disini? Kalau begitu Mas keluar deh, Mas tidur diluar saja,"
"Kenapa, hhmm?"
"Ja_jangan keluar. Tidur disini saja, bersamaku. Bu_bukan kah suami istri itu harus tidur satu kamar dan satu ranjang," lirihnya.
__ADS_1
Meski cukup lirih, namun Reza masih bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Senyum menyembang pun kini hadir diwajah tampan nya itu.
Reza pun kembali memposisikan dirinya untuk bersiap tidur malam ini yang di ikuti oleh Meli. Meli berbaring tepat disamping Reza dengan sedikit berjarak.
Melihat Meli yang masih memberi jarak, Reza pun akhirnya menarik tubuh ramping itu untuk mendekat padanya. Bahkan Reza mendekap tubuh Meli hingga mereka kini tidak berjarak sedikit pun. Bahkan tubuh keduanya kini sudah menempel sempurna.
"Suami istri itu, tidak hanya tidur satu kamar dan satu ranjang saja. Tapi mereka juga tidur dengan cara seperti ini," bisik Reza semakin mempererat pelukkan nya di tubuh Meli.
Meli sendiri hanya bisa terdiam sembari menikmati detak jantung nya yang kian menggila didalam sana. Reza membenamkan satu kecupan sayang dikening Meli, dan itu sontak membuat Meli semakin dilanda rasa gugup yang teramat.
"Tidurlah, semoga esok hari kita dipertemukan dengan hari yang jauh lebih baik," bisiknya lagi sebelum akhirnya benar benar memejamkan matanya.
Meli sendiri mulai memberanikan diri mengusakkan wajahnya bersembunyi didada bidang Reza untuk mencari sebuah kenyamanan dan ketenangan.
__ADS_1
Ajaibnya, setelah Meli membalas pelukkan itu. Rasa gugup dan juga takutnya seketika hilang begitu saja. Kini Meli pun sudah mulai merasa nyaman dan tenang, hingga keduanya pun terlelap penuh dengan rasa damai yang menenangkan.