
"Sayang, hari ini aku akan pulang ke Jakarta dulu. Aku akan menemui Mamah, Papah kemarin memberi kabar jika Mamah kurang sehat dan Mamah selalu menanyakan aku," ucap Bian saat Laras membantunya memakaikan dasi padanya pagi ini.
"Iya Mas, titip salam untuk Papah. Maaf belum bisa menemui beliau," lirih Laras merasa sangat menyesal telah menyembunyi kan fakta pernikahan nya dengan Fabian dari sang ibu mertua.
Namun mengingat jika hubungan keduanya akhir akhir ini tidak sebaik dulu membuat Laras memilih bungkam dan menyerahkan semua keputusan pada suaminya yang mungkin jauh lebih tahu apa yang harus dilakukan.
Belum lagi masa kehamilan Laras yang masih rawan tentu butuh perhatian yang extra baik dari Bian maupun Laras sendiri.
Kini Laras harus mulai belajar egois demi kebaikan nya dan sang jabang bayi. Laras tau apa yang dilakukan nya saat ini adalah sebuah kesalahan.
Namun demi menjaga calon bayi mereka tetap tumbuh dengan baik tanpa adanya guncangan dari sebuah tekanan batin yang mungkin saja akan mengganggu tumbuh kembang nya.
Dan hal terburuknya, bisa saja Laras kehilangan apa yang sudah dia tunggu selama ini. Dan Laras tidak mau itu terjadi. Apalagi saat melihat bagaimana Bian memperjuangkan hubungan pernikahan kedua mereka.
Tentu saja Laras harus memikirkan da menghargai semua usaha yang dilakukan oleh Bian. Dan salah satu hal yang harus Laras lakukan adalah dengan menuruti apa yang Bian katakan.
"Jangan begitu, kita melakukan ini juga demi kebaikan calon bayi kita. Kita pasti memberi tahu kabar bahagia ini pada semua nya, termasuk Mamah yang memang sudah lama menunggu cucu dari ku.
Tapi tidak sekarang sayang, apa lagi sekarang Mamah begitu percaya dengan Flora. Aku takut dia berbuat sesuatu yang akan membahayakanmu dan anak kita. Tenang lah, sekarang bersikaplah seperti tidak terjadi apapun antara aku dan kamu.
Ini demi kebaikan dan keselamatan kamu dan anak kita, sampai waktu nya tiba kita memberi tahu semua orang kalau perlu kita beri tahu seluruh dunia jika kamu adalah istriku dan kini kita akan memiliki seorang anak, mengerti?" jelas Bian panjang kali lebar.
""Baiklah, hati hati dijalan dan ingat kabari jika sudah sampai disana,"
"Tentu saja, mana mungkin aku bisa tenang sebelum menghubungi mu. Apalagi kita akan berjauhan, ingat jangan melakukan pekerjaan berat. Kalau mau ke toko cukup diam dan duduk saja, serahkan semua urusan toko pada Meli, ok?"
"Iya Papah, cerewet," jawab Laras.
Gemas rasanya diposesifin kaya begini. Mau apa apa serba terbatas dengan sagala banyak nya aturan yang diberikan oleh suami nya itu.
__ADS_1
Meski itu demi kabikan nya, tentu saja Laras merasa sedikit terbebani, pasalnya dia merasa cukup sehat untuk beraktifitas normal.
Tapi Laras mencoba memahami ketakutan sang suami. Pasalnya, mereka sudah menunggu moment ini selama 6 tahun lamanya.
Dan wajar jika saat ini Bian begitu posesif pada istrinya yang tengah mengandung anaknya, darah daging nya.
Setelah merampungkana sarapan, Bian pun akhirnya pamit untuk pergi kekantor dan untuk hari terlebih dahulu sebelum dirinya pulang ke ibu kota untuk menemui sang Mamah yang dikabarkan tengah kurang sehat karena merindukan nya.
Laras sendiri melanjutkan kegiatan nya hari ini dengan mengunjungi toko toko nya. Beberapa hari absen dari kedua tempat yang selama ini menjadi mata pencaharian nya itu, tentu membuat Laras rindu dan ingin tahu bagaimana perkembangan dengan kedua toko nya itu.
***
***
"Selamat siang semua," sapa Laras mengalihkan perhatian para karyawan nya tengah sibuk menyiapkan beberapa pesanan yang akan dikirim hari ini.
"Selamat siang juga Bu Laras," jawab semua nya terlihat kompak.
"Urusan nya sudah selesai Mel, tentu saja harus pulang. Bagaimana keadaan toko selama aku pergi, aman?"
"Alhamdulillah aman Mbak, tapi Pak Arya deh kayanya yang tidak aman," jawab Meli.
"Pak Arya? Memang kenapa dengan Pak Arya?" tanya Laras bingung.
"Beberapa hari ini Pak Arya terus saja mondar mandir kemari menanyakan Mbak Laras. Sampai cape aku jawab nya, kayanya dia ngebet banget deh sama Mbak Laras. Kenapa tidak diterima saja sih Mbak, kan lumayan. Selain seorang owner WO ternama, Pak Arya juga memiliki wajah yang ganteng nya paripurna. Kenapa masih menolaknya sih Mbak, kasihan tahu,"
"Kalau begitu, kenapa nggak kamu saja yang dengan nya. Aku ini sudah memiliki pasangan, mana mungkin menerima nya,"
"Apa? Ma_maksud Mbak?"
__ADS_1
"Kemarin, saat aku pulang. Aku menerima pinangan dari seseorang dan kami sudah resmi menikah, tapi tolong rahasiakan dari karyawan lain ya. Cuma kamu loh yang aku kasih tahu,"
"Yang benar Mbak? Ya ampun sungguh mengejutkan, tapi selamat ya. Ngomong siapa tuh yang akhirnya bisa meluluhkan hatinya Mbak Laras yang beku kaya es balok itu?"
"Iss, kamu itu. Nanti juga kamu tahu. Ayo sekarang fokus kerja dan serahkan laporan selama satu minggu ini."
.
***
.
"Untuk besok dan hari ke 2 lebaran, Othor libur dulu ya. Dan kita akan bertemu lagi di hari senin untuk lanjutkan kisah nya Laras dan juga Fabian ya.
Author Triyani mengucapkan selamat hari raya idul fitri 1 syawal 1444 H.
Minnal Aidin Wa Faidzin...
Mohon Maaf Lahir dan Batin...
Taqabbalallaahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, kullu 'ammin wa antum bi khair.
***
Mohon maaf bila selama ini Othor ada salah salah kata yang tercipta lewat sebuah goresan pena...Semoga Reader semua senantiasa mau memaafkan segala kesalahan dan kekhilafan yang Othor lakukan.
Dan terima kasih sudah membersamai perjalanan Othor selama menjadi seorang Author selama ini,semoga Allah SWT membalas semua kebaikan Reader semua.ππππ₯°π₯°π₯°
...***...
__ADS_1
...πΈ Happy Eid Mubarak 2023 πππ...