
Flora berdecak kagum saat memasuki rumah yang sudah beberapa waktu lalu ditempati oleh Laras dan juga Bian.
"Ayo, Mah masuk," ucap Bian membimbing sang mama menuju keruang keluarga.
Mama Sinta tampak menurut di ikuti oleh Laras yang tampak berjalan agak kesusahan membawa perutnya yang sudah membesar.
"Aku akan buatkan minuman," Laras berniat bangkit dari duduknya namun Bian langsung mencegahnya dan menyuruh Laras kembali duduk.
"Biar aku suruh Bi Erna untuk membuatkan minuman nya. Kamu duduk saja disini,"
Laras menurut, namun tidak ada suara yang keluar dari ketiga wanita itu saat Bian pergi meninggalkan ruangan itu untuk memberi tahu art nya untuk membuatkan minuman.
Tidak lama kemudian Bian pun kembali untuk bergabung diruangan itu. Bian duduk tepat disamping Laras bersebrangan dengan mama Sinta dan juga Flora.
"Bisa jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dan kapan kalian mulai kembali bersama?" tanya mama Sinta membuka suaranya.
"10 bulan yang lalu, tepat saat perusahaan ku yang disini mengalami masalah. Aku kembali dipertemukan dengan Laras, aku yang tidak suka dan tidak rela Laras bersama dengan pria lain.
Akhirnya menjebaknya dalam sebuah hubungan terlarang. Berharap apa yang kami lakukan saat itu bisa menumbuhkan satu nyawa baru didalam rahimnya.
Puji syukur, Allah mengabulkan doaku Mah. Meski melalui jalan salah dan dosa. Tapi pada akhirnya, aku bisa membuat Laras hamil anakku.
__ADS_1
Anak yang selama ini Mamah inginkan dan Mamah tunggu tunggu. Maaf jika semua ini begitu mengejutkan. Dan maaf karena aku tidak memberitahu kan prihal pernikahanku dengan Laras," jelas Bian yang membuat mamah Sinta dan juga Flora sama sama terkejut.
"Apa? Kamu sudah menikah lagi, dengan dia Bi?" seru Flora yang tidak terima dengan apa yang di katakan oleh Bian.
Namun Bian kembali mengabaikan gadis itu. Fokusnya kini hanya pada mama Sinta saja. Sedangkan mama Sinta lebih memilih diam dan memberikan waktu pada Bian untuk menjelaskan semuanya terlebih dahulu.
"Tapi Mamah tidak usah khawatir, aku sudah meminta ijin dan restu dari Papah," lanjut Bian.
"Jadi, Papahmu sudah tahu semua ini?" tanya mama Sinta sendu.
Dengan gerakan pasti, Bian mengangguk. Bian menghela nafas panjang saat melihat waut wajah sedih dari mama Sinta.
Seandainya dulu tidak ada pengalaman yang tidak menyenangkan. Mungkin orang pertama yang Bian hubungi untuk mengabarkan prihal kehamilan Laras saat ini adalah sang mama.
***
***
Sepanjang perjalanan nya menuju ke hotel dimana mama Sinta dan juga Flora menginap. Mama Sinta tidak bersuara sedikit pun.
Setelah mendengar penjelasan dari Bian, mama Sinta memilih untuk menepi terlebih dahulu. Bahkan mama Sinta menolak saat Bian dan juga Laras menawari untuk menginap dirumah mereka.
__ADS_1
Rasa shock dan juga kecewa membuat mama Sinta memilih untuk pulang ke hotel terlebih dahulu sebelum pulang ke ibu kota.
Niat berlibur selama beberapa hari disana pun urung dilakukan dan memilih untuk pulang hari itu juga dengan mengambil penerbangan sore.
"Kenapa pulang sih tante? Kita baru saja mau main,"
"Maaf Flo, tante butuh waktu sendiri. Bisa tinggalkan tante sendiri?"
Flora tertegun, dia tidak menyangka jika mama Sinta akan mengusirnya. Dengan wajah yang berenggut Flora pun akhirnya mengalah dan pergi keluar dari kamar mama Sinta.
Mama Sinta sendiri saat ini tengah termenung, memikirkan apa yang selama ini dia alami. Keterkejutan nya pada kabar pernikahan Bian dan Laras masih belum biaa dia cerna dengan baik.
Belum lagi, kabar kehamilan Laras yang saat ini sudah memasuki bulan ke 8. Sedangkan mama Sinta tidak tahu sedikit pun prihal kabar sang anak.
Sesak, sudah pasti. Namun, semua yang dia alami semua juga berawal dari dirinya sendiri.
.
...*****...
"Mohon maaf jika seminggu kedepan akan slow respon. Berhubung Othor masih di kampung halaman, Othor juga masih sibuk menyiapkan persiapan pernikanan keponakan.
__ADS_1
Harap dimaklum ya, setelah acara pernikahan selesai insya Allah Othor akan up secara normal kembali. ๐๐๐,"