
"Assalamu'alaikum," ucapan salam menyapa kedua paruh baya yang kini tengah asik berbincang diruang keluarga ditemani oleh seorang wanita cantik yang tampak antusias membahas sesuatu.
"Wa'alaikumsalam, kamu ingat pulang juga ternyata Bi?" sindir sang Mamah saat Bian datang dan menyalami nya dengan takzim.
Tidak lupa Bian cuma menggumamkan kata maaf saat memeluk tubuh wanita yang sudah melahirkan nya itu.
"Maaf Mah, pekerjaan Bian sangat menyita waktu Bian. Jadi maaf jika Bian terkesan abai, tapi sungguh tidak ada niat seperti itu," jawab Bian sambil mengurai pelukan ditubuh sang Mamah dan beralih ke sang ayah.
"Sehat Pah? Maaf baru sempat pulang," sapa Bian menyalami dengan takzim.
"Alhamdulillah, kamu sendiri bagaimana Nak? Bagaimana? Lancar?" tanya nya ambigu, membuat semua orang menatap penuh tanya.
"Alhamdulillah, doakan semoga semua sehat dan lancar sampai waktu nya," jawab Bian tidak kalah ambigu nya dengan sang ayah.
Membuat dua wanita beda usia yang ada disana hanya saling lirik dengan raut wajah yang penuh dengan tanya.
"Hai Bi, apa kabar?" tanya Flora bengkit ingin memeluk Bian namun, gerakan tangan Bian menghentikan langkahnya.
"Baik Flo, terima kasih. Dan aku harap mulai sekarang jangan pernah lagi melewati batasmu,"
"Tapi Bi, kita kan akan bertunangan masa peluk saja nggak boleh? Eh maksud ku, menyalami mu," jawab nya tergeragap saat menyadari jika salah ucap didepan kedua orang tua Bian.
"Tapi, bukan kah sudah aku tegaskan jika aku sudah tidak bisa melanjutkan pertunangan itu. Bahkan aku sudah mengatakannya kepada ayah mu Flo,"
__ADS_1
Deg...
"Apa? Apa maksudmu Bi?" tanya Flora dan Mamah Sinta secara bersamaan.
"Maaf Mah, Bian tidak bisa melanjutkan pertungan dengan nya. Bian tidak suka dengan orang yang manipulatif, bahkan dia memfitnah Bian dan Bian tidak suka itu,"
"Tapi Bi, semua sudah direncanakan dan persiapan pun sudah 75%. Bagaimana mungkin dibatalkan." ucap Flora tidak terima.
"Bukan kah sudah lama aku mengatakan ini, jika aku tidak bisa melanjutkan pertunangan ini,"
"Tapi___"
"Sudah cukup. Nak Flora, maaf jika Om menyela. Namun untul saat ini, biar keputusan Om yang ambil alih. Dan Om, menolak melanjutkan perjodohan ini," tegas Papah Sandi.
"Tapi Pah___"
"Tidak bisa begitu dong Om, selain kami sudah pernah menghabiskan waktu bersama, lalu bagaimana dengan kerugian yang akan aku tanggung? Kenapa dibatalkan setelah banyak biaya yang keluar,"
"Kami akan mengganti semua kerugianmu. Dan untuk hal yang kamu katakan tadi, Om sudah memgkonfirmasinya dan hal itu tidak pernah terjadi. Ingat, Om bukan orang yang mudah kamu kelabuhi Nak Flora,"
Deg...
Tubuh Flora membeku ditempat saat mendengarkan ucapan dari Papah Sandi. Sungguh tidak pernah dia bayangkan jika kebobongan nya akan mudah diketahui oleh orang tuan Fabian.
__ADS_1
Tanpa berucap apapun lagi, Flora beranjak dan mulai pergi meninggalkan rumah itu dengan membawa rasa kesal didada saat mendapatkan penolakan langsung dari orang tua Fabian.
***
***
Hening tercipta diruangan itu setelah kepergian Flora dari sana. Helaan nafas panjang dam berat terlihat dari Mamah Sinta yang lagi lagi gagal membujuk anak nya untuk menikah lagi.
Bahkan, entah sejak kapan sang suami pun kini berpihak.pada putranya. Padahal Mamah Sinta tahu betul bagaimana besarnya ke inginan sang suami untuk memiliki cucu dari fabian.
"Apa tidak bisa dipertimbangkan lagi Bi?" tanya Mamah Sinta membuka suara, setelah beberapa menit terdiam.
"Jika alasan Mamah membujuk Bian itu karena masalah cucu, Mamah tenang saja. Delapan bulan kedepan Mamah akan mendapatkan nya," jawab Bian yang mungkin akan meberitahu prihal kehamilan Laras saat ini.
"Ma_maksud kamu apa Bi? Kamu nggak sembarangan membuat anak dengan asal wanita kan?"
"Tentu saja tidak, tapi maaf. Untuk saat ini Bian belum bisa memberitahu Mamah siapa wanita itu. Yang pasti, dia wanita baik dan di pastikan dia akan menjadi ibu yang baik untuk anakku dan juga cucu Mamah nantinya," jelas Bian pada sang Mamah.
Mungkin untuk saat ini, lebih baik menyimpan dulu siapa wanita yang kini tengah mengandung buah hatinya.
Bian takut jika sesuatu terjadi pada istri dan anaknya jika terlalu banyak tekanan. Bian takut pengalaman pertama pernikahan nya akan terulang.
Apalagi saat ini usia kehamilan Laras yang masih rawan, tentu saja Bian begitu intens menjaga sang istri dan calom buah hatinya.
__ADS_1
Bian tidak mau jika sampai kehilangan mereka lagi. Belum lagi sang calon anak yang sudah ditunggu sejak bertahun tahun lamanya.
Tentu Bian akan sangat posesif memperlakukan sang istri dan calon buah hatinya yang kini tumbuh dirahim sang istri.