
"Bapak, Bapak kenapa?" tanya Meli saat masuk dan melihat sang ayah yang terbaring lemah dikasur yang mungkin digelar oleh warga yang menolong Pak Anwar yang malam itu pingsan di mesjid komplek.
Saat akan pulang setelah berjamaah sholat Isya, Pak Anwar tiba tiba saja pingsan. Sementara Meli sebagai satu satunya keluarga tidak bisa dihubungi karena memang hp nya kehabisan daya.
Dan karena kesibukan nya, hingga Meli pun mengabaikan ponselnya yang dalam keadaan mati. Hingga Meli pun tidak tahu jika sang ayah pingsan.
Sampai jam 9 malam Meli pun baru tahu keadaan sang ayah saat dirinya pulang kerja di antar oleh rekan kerja nya Reza.
Meli pun langsung menghampiri sang ayah yang kala itu terlihat begitu pucat di ikuti oleh Reza yang ikut panik dan ikut masuk begitu saja saat melihat warga memanggil Meli dengan terburu buru.
"Kamu sudah pulang Nak? Bapak tidak apa apa, Bapak hanya pusing saja, kamu kesini di antar pacar mu ya? Sini Nak, mendekat," ujar Pak Anwar yang membuat dahi Meli mengerut.
'Pacar? mana ada, memikirkan nya saja tidak. Lalu bisa punya pacar dari mana?' benak Meli bermonolog.
Namun seketikan dia dibuat tersentak saat Pak Anwar menatap seseorang dibelakang nya. Dan alangkah terkejutnya Meli saat Pak Anwar memanaggil Reza untuk mendekat.
Reza pun mengangguk sopan lalu beranjak mendekati pria paruh baya yang saat ini tengah berbaring lemah di atas kasur yang digelar dilantai.
Meski ragu, namun Reza pun akhirnya duduk disamping Meli dan menyimak apa yang akan disampaikan oleh ayah dari rekan kerja nya itu.
__ADS_1
"Siapa namamu Nak?" tanya Pak Anwar dengan suaranya yang lirih.
"Reza Pak. Nama saya Reza Ahmad Rahadi,"
"Nama yang bagus, sudah berapa lama kalian saling mengenal?"
Seketika, Reza dan Meli pun refleks saling melirik satu sama lain. Entah apa maksud dari pertanyaan yang Pak Anwar baru saja layang kan pada nya namun, Reza mencoba menjawab seadanya saja.
"Sudah hampir satu tahun Pak," jawab Reza jujur karena memang sejak saat Bian mulai kembali mengejar Laras dan kembali bersatu dengan Laraslah Reza mulai mengenal Meli.
Kerap diminta membantu pekerjaan wanita muda itu di toko milik Laras membuat Reza akhirnya mengenal Meli.
Pak Anwar pun tersenyum lembut lalu menatap sang anak dan pemuda yang duduk disamping sang putri.
"Bisa Bapak minta tolong, nak Reza?" tanya nya lagi dengan suara semakin lirih.
"Bisa Pak, apa yang bisa saya bantu?"
"Bapak sudah tidak punya waktu lagi, apa Nak Reza bisa mengambil alih tanggung jawab Meli, mulai dari saat ini?"
__ADS_1
Deg...
Baik Reza dan Meli sama sama dibuat terkejut dengan permintaan yang Pak Anwar katakan. Meli menatap penuh dengan kebimbangan.
Keduanya bukan lagi anak ABG yang tidak tahu akan makna yang tersirat dari setiap kata yang terucap dari bibir Pak Anwar.
Namun yang menjadi kenadala adalah, keduanya bahkan tidak memiliki hubungan yang lebih. Sekedar kenal ditempat kerja, itu pun hanya bertemu satu bulan sekali saat mengerjakan pembukuan bulanan dari dua toko milik Laras.
Lalu, bagaimana mungkin Meli bisa selancang ini pada Reza. Tentu saja Meli sangat tahu diri, bahkan status sosial antara dirinya dan Reza pun jauh berbeda tentu saja Meli akan meolak permintaan sang ayah.
"Pak, Bapak salah paham. Kami tidak memiliki hubungan seperti itu Pak, kamu hanya_____"
"Saya sanggup Pak, bahkan jika Bapak meminta hal itu saat ini juga. Akan saya lakukan,"
Ucapan Meli terpotong saat dengan tegas Reza menjawab permintaan dari Pak Anwar. Seketika Meli pun tidak bisa berkata kata, hanya bisa menatap penuh dengan tanya pada pria yang selalu irit bicara saat bersama dengan nya itu.
Reza sendiri hanya tersenyum tipis saat melihat bagaimana terkejutnya Meli saat ini. Reza mengangguk kecil demi meyakinkan Meli dengan apa yang akan terjadi setelahnya.
Meli sendiri hanya bisa menunduk dengan derai air mata yang kini hadir di wajah cantiknya.
__ADS_1