Hamil Oleh Mantan Suami

Hamil Oleh Mantan Suami
34.Ghafin Alfarizqi Herlambang


__ADS_3

Hari demi hari, keadaan Laras berangsur membaik. Bahkan kini tubuh lemasnya sudah bisa duduk meski harus bersandar pada bantal yang empuk.


Laras juga sudah mulai bisa makan normal yang asalnya hanya memasukan nutrisi kedalam infua kini Laras sudah bisa makan bubur.


Dan rencananya, hari ini Laras akan dipertemukan dengan putra mereka setelah dipaksa menahan rindu karena tidak bisa bertemu dengan nya, dikarenakan kondisinya yang masih dalam pantauan dokter.


Rasa bahagia dan juga berdebar tidak henti henti nya Laras rasakan saat sang Mama, pergi ke ruangan perawatan bayi untuk menjemput anggota keluarga baru mereka itu.


"Aku kok tegang ya Mas?" tanya Laras dengan nada lirihnya, menggengam erat tangan Bian yang tidak pernah pergi dari sisinya.


"Kamu bahagiakan, akhirnya bisa bertemu dengan putra kita,"


"Tentu saja Mas, aku sudah tidak sabar untuk melihat wajahnya,"


Tak berselang lama, Mama Asih pun tiba dengan mendorong box bayi yang berisikan bayi mungil milik Laras dan Fabian.


"Assalamu'alaikum, Mama, Papa aku datang," seru Mama Asih menirukan gaya bicara anak kecil saat masuk keruangan itu.


"Wa'alaikumsalam sayang, sini gendong sama Mama Nak," jawab Laras masih dengan suara yang lirih.


Mama Asih pun langsung mengangkat tubuh mungil itu lalu membawanya kedalam dekapan sang ibu.


Laras menatap nanar wajah mungil yang begitu mirip dengan suaminya itu. Begitu indah anugrah tuhan yang dia terima kini.


Beribu ribu ucap rasa syukur pun terus dia panjatkan. Meski harus melahirkan dengan cara yang tidak baik, bahkan sempat dinyatakan meninggal dunia.

__ADS_1


Namun Laras tetap bersyukur karena akhirnya dia bisa melihat buah hatinya yang selama ini mereka tunggu tunggu.


Bertubi tubi ciuman didaratkan diwajah mungil yang masih terlelap itu hingga membuat si bayi terusik dan akhirnya memangis seakan tidak terima jika tidur nya diganggu.


Dan itu membuat kedua orang tuanya dibuat gemas oleh tingkah bayi yang baru berusia satu minggu itu.


"Ya ampun, dia lucu sekali Mas. Mirip kamu kalau dibangunin," seru Laras tertawa geli saat merasa jika bayi mungil itu sudah seperti ayahnya yang selalu susah dibangunkan.


Bian ikut terkekeh melihat tingkah sang bayi, tidak henti hentinya dia berucap syukur atas apa yang terjadi dalam hidupnya.


"Lalu, apa kamu sudah memberikan nya nama Mas?"


"Sudah ada satu nama, semoga kamu suka,"


"Ghafin Alfarizqi Herlambang, apa kamu suka?"


"Nama yang bagus, suka Mas. Aku mengukainya,"


.


***


***


.

__ADS_1


Sementara ditempat yang berbeda...


"Loh, kamu mau kemana Flo? Kok bawa koper segede itu?" tanya sang mama saat melihat putrinya membawa keluar koper besar dari kamarnya.


"Flo ingin liburan Mah, bosan disini terus dan nggak ada kegiatan," jawab nya berusaha tetap tenang saat dihadapan sang mama.


"Tumben? Sudah bosan ya ngejar si Bian?"


"Nggaklah, hanya ingin cuti sejenak. Ya sudah, aku pergi ya Mah,"


Flora pun segera berlalu dan bergegas keluar dari rumah itu. Fokusnya kini hanya satu, pergi jauh untuk melupakan kejadian mengerika tempo hari karena ulahnya.


Namun, saat membuka pintu rumah nya. Flora dikejutkan dengan kehadiran beberapa orang polisi yang sudah berdiri dihadapan nya.


"Permisi, dengan nona Flora?" ujar salah satu nya saat seseorang membuka pintu rumah itu bahkan sebelum mereka mengetuk pintunya.


"I_iya, ada apa ya Pak?" jawab nya benar benar merasa takut namun tetap bersikap tenang.


"Bisa ikut dengan kami ke kantor polisi?"


"Ikut? Memangnya putri saya kenapa Pak, kok harus ikut kalian?" tanya Mama Flora saat mendengar keributan didepan pintu rumah nya.


Dan betapa terkejutnya saat melihat beberapa orang polisi yang meminta putrinya untuk ikut bersama mereka.


"Maaf Bu, jika kedatangan kami mengejutkan Ibu dan anda nona Flora. Namun, kami menerima laporan prihal tindak keriminal yang dilakukan oleh putri anda dan semua bukti sudah ada di kantor polisi. Jadi demi kelancaran pemeriksaan, silahkan ikut kami,"

__ADS_1


__ADS_2