
"Ghafin sudah tidur sayang?" tanya Bian saat masuk kedalam kamar sudah mendapatkan sang istri tengah duduk santai di ranjang dengan ponsel ditangan nya.
Laras melirik lalu tersenyum menyambut kedatangan sang suami yang hari ini begitu terlihat lelah setelah seharian ini menyambut para tamu undangan yang datang untuk mendoakan keluarga kecil itu.
"Sudah Mas, baru saja aku tidurkan di box nya. Bersih bersih sana, lalu istirahat kamu terlihat cape,"
"Iya sih, aku bersih bersih dulu ya, cup,"
Usai memberikan tanda sayang di kening sang istri, Bian pun langsung melesat ke kamar mandi. Membersihkan diri dan berganti pakaian dengan piyama tidur.
Bian langsung menyusul sang istri, naik ke atas ranjang namun tidak langsung berbaring. Duduk disamping Laras yang tampak asik dengan ponselnya.
"Asik banget sih Mah, lagi chatingan sama siapa coba? Sampai Papa yang sudah ganteng dan wangi ini di anggurin,"
"Sebentar ya Papa Ghafin, ini lagi bahas masalah toko dulu. Kasihan Meli, sudah dua bulan ini dia bekerja sendirian,"
"Nggak sendiri kok, ada Reza yang selalu membantunya,"
"Reza? Asisten Mas Bian? Loh, kok bisa?"
"Bisalah, apa sih yang nggak bisa buat istriku tercinta ini. Sudah jangan terlalu cape dan jangan mikirin kerjaan dulu. Fokus sama Ghafin dan kesehatan kamu saja dulu, itu yang harus kamu utamakan sayang,"
"Iya Mas. Ya sudah, kita istirahat yukk?"
"Iya, ayo."
__ADS_1
Keduanya pun langsung membaringkan tubuh lelah keduanya. Dengan berbalut selimut tebal, mereka mulai memasuki alam mimpi yang menenangkan dan mendamaikan.
.
***
***
.
Sementara ditempat lain...
"Bagaimana? Apa Bian mau mencabut laporan nya untuk flora?" tanya Bu Marisa pada suaminya.
"Sudahlah, lupakan. Lagi pula, kesalahan yang dibuat oleh putrimu sudah sangat fatal. Dia hampir menghilangkan nyawa seseorang, bukan hanya Bian. Mungkin jika itu terjadi pada Papa, maka Papa akan melakukan hal yang sama seperti yang Bian lakukan. Biarkan putri kita belajar, kalau ambisinya itu bukan hanya merugikan dirinya sendiri tapi juga orang lain. Semoga ini akan menjadi pelajaran untuk putri kita, agar bisa merubah dirinya jauh lebih baik lagi,"
Toh memang benar adanya, apa yang dilakukan oleh Flora sudah diluar batas. Pantas jika Bian tidak mau memaafkan nya karena Bian hampir saja kehilangan istri dan anak.
Akhirnya, Bu Marisa pun ikut pasrah. Semoga dengan kejadian ini, Flora bisa berubah menjadi lebih baik lagi dan tidak lagi menjadi seseroang yang berambisi hingga menjerumuskan ke lembah yang terdalam dan tak tertolong lagi.
.
***
.
__ADS_1
"Kamu mau langsung pulang Mel?" tanga Reza yang saat ini baru saja selesai membantu menyelesaikan pembukuan bulanan di dua toko milik Laras.
"Iyalah, ini juga sudah larut. Ya sudah, aku duluan ya," jawab gadis itu sembari berjalan menuju ke arah jalan raya.
"Loh, kamu nggak bawa kendaraan?" tanya Reza yang baru saja akan masuk kedalam mobilnya namun urung dia lakukan saat melihat Meli pergi dengan jalan kaki menuju ke arah jalan raya.
"Iya, motor aku masih dibengkel. Tapi udah pesen taksi kok, tinggal jalan kedepan bentar,"
"Cancel aja, ayo masuk. Biar aku antar kamu pulang. Ini sudah malam dan rawan bagi wanita pulang sendiri,"
"Tapi___"
"Ayo masuk, aku tidak akan macem macem kok,"
Akhirnya, meski ragu. Meli pun ikut masuk kedalam mobil Reza. Sepanjang perjalanan menuju rumah kontrakan Meli, keduanya terlibat obrolan yang cukup seru.
Karena ternyata mereka memiliki banyak kesamaan dan hobi yang sama juga. Hingga waktu terasa berjalan dengan cepat dan kini mobil Reza pun sudah sampai di depan rumah kontrakan Meli.
Seketika kerutan didahi Meli pun terlihat saat didepan halaman rumah kontarakan nya sudah dipenuhi oleh warga.
Sedangkan diteras rumah, sudah ada Pak rt yang tengah menunggu dengan wajah yang gelisah.
"Meli, kamu kenapa baru pulang? Bapak kamu Mel,"
"Bapak? Bapak kenapa Pak?"
__ADS_1
"Ayo, lebih baik masuk dulu saja."