
"Ayo Mas, nanti kita terlambat," ajak Laras yang sudah siap untuk pergi kerumah duka.
Pagi ini, tepatnya setelah melaksanakan sholat subuh. Laras medapatkan kabar kalau Pak Anwar, ayah dari Meli orang kepercayaan Laras dalam mengurus dan menjaga kedua toko nya meninggal dunia.
Tepat pukul 12 malam, Pak Anwar menghembuskan nafas terakhirnya. Dan Meli baru memberikan kabar duka itu tepat pukul 4 subuh.
Dan Laras baru membaca pesan tersebut setelah sholat subuh bersama dengan suaminya. Dan pagi ini pun Laras dan Bian langsung bersiap untuk bertakziah kerumah duka.
Setelah menitipkan baby Ghafin pada kedua nenek yang memang masih disana, Laras dan Bian pun langsung bertolak kerumah Meli.
Dan setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya mobil Bian pun tiba di depan rumah sederhana milik Meli.
Namun saat Bian dan Laras turun dari mobil, mereka kompak mengerutkan dahi mereka masing masing saat melihat kehadiran Reza dengan penampilan yang berbeda.
Reza tampak begitu ramah menerima tamu yang datang. Dengan mengenakan baju koko dan juga peci dikepalanya, Reza seperti seorang tuan rumah yang tengah menyambut para pelayat yang pagi ini datang silih berganti kerumah Meli.
"Reza? Kamu juga disini?" tanya Bian saat sudah mendekati rumah tersebut.
"Iya tuan, mari silahkan masuk. Mel, ini ada tuan Fabian dan juga nyonya Laras," seru Reza dari depan teras menanggil si pemilik rumah.
__ADS_1
"Iya Mas, sebentar," jawab Meli dari arah dalam dan sontak hal itu kembali membuat dahi keduanya semakin mengerut, bahkan sampai hampir menyatu.
"Mbak Laras, Pak Bian," sapa Meli dengan wajah sedih dan juga mata yang sembab.
Keterkejutan mereka berdua kembali bertambah saat melihat Meli keluar dari dalam rumah dengan menggunkan baju muslim lengkap dengan kerudungnya.
Dan baju muslim yang dikenakan oleh Meli ternyata adalah baju muslim couple dengan baju muslim yang dikenakan oleh Reza.
"Mas Reza, pemakaman nya sudah siap. Jadi lebih baik sekarang kita bawa jenazah ke mesjid dulu untuk di sholatkan," ucap salah satu warga yang membantu dalam proses pemakaman Pak Anwar.
"Iya baik Pak, kita bawa sekarang saja,"
Semua warga laki laki pun mulai sibuk menyiapkan keranda untuk membawa jenazah Pak Anwar untuk dibawa ke mesjid untuk di sholat kan.
Reza dengan sigap membantu mengangkat jenazah lalu memasukannya kedalam keranda. Saat dibawa ke mesjid pun, Reza menjadi orang yang paling depan yang membantu mengangkat keranda itu.
Sementara disamaping nya ada Bian yang ikut serta dalam membawa keranda itu ke arah mesjid komplek, dimana jenazah akan disholat terlebih dahulu sebelum dikebumikan.
Bian dan Laras mengikuti dengan seksama setiap proses pemakaman itu, meski banyak sekali pertanyaan didalam benak mereka namun mereka coba tahan hingga semua selesai.
__ADS_1
Dan kini, disinillah mereka. Duduk diteras belakang rumah Meli, memandangi lautan padi yang terhampar luas disana.
"Bisa minta penjelasan nya? Ada apa ini?" tanya Bian melirik ke arah baju couple yang dikenakan oleh Reza dan juga Meli.
"Jadi, selama ini kalian memiliki hubungan? Wah,kamu mengejutkan aku Mel," sambung Laras yang terlihat antusias dengan kedekatan karyawan sekaligus teman untuknya itu.
"Bukan begitu Mbak, kami hanya," ucapan Meli pun terputus, entah bagaimana dia harus menjelaskan statusnya saat ini pada Laras.
"Cepat halalin kalau begitu Za, jangan menunggu lagi. Apalagi umur kalian yang____"
"Kami sudah menikah tuan, jadi kami ini pasangan halal," potong Reza saat Bian mengelurkan saran nya yang sok bijak itu.
"APA?" pasangan suami istri itu kompak membulatkan matanya saat Reza dengan tegas mengatakan jika dirinya dan Meli sudah menikah.
.
***
"Berhubung kemarin aku nggak bisa up dikamar ini, maka ini aku bonusin ya. Semoga suka dan maaf jika akhir akhir ini Othor kurang maksimal up nya 🙏🙏🥺🥺."
__ADS_1