
Bian berlari menelusuri lorong rumah sakit. Dengan nafas yang memburu Bian langsung menodong dokter yang saat ini tengah menunggu dirinya untuk meminta persetujuan akan tindakan lanjutan terhadap sitrinya Laras, yaitu operasi sesar.
"Ba_bagaimana keadaan istri saya Dok? Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa sampai disini?"tanya Bian dengan nafas yang tidak teratur.
Sungguh bagaikan dihantam batu besar saat mendapatkan kabar jika istirnya masuk rumah sakit dan butuh penanganan segera untuk menyelamatkan bayi dan juga ibunya.
"Menurut informasi yang saya terima dari saksi mata yang ada dilokasi kejadian. Istri anda jatuh dari eskalator sebuah mall tuan, benturan yang diterima oleh istri anda membuat pendarahan cukup serius dan demi menyelamatkan keduanya, maka dibutuhkan operasi segera,"
"Baik Dokter, lakukan, lakukan yang terbaik untuk istri dan anak ku,"
"Baik, sebelum itu. Mohon untuk menyelesaikan administrasinya terlebih dahulu dan kami akan segera menyiapkan operasi untuk istri anda,"
"Baik Dokter, saya akan menyelesaikan semua nya sekarang juga,"
Bian pun langsung menuju ke bagian administrasi agar operasi sesar bisa langsung dilakukan untuk menyelamatkan anak dan juga sang ibunya.
__ADS_1
Dengan wajah yang gusah, Bian menunggu dengan setia didepan pintu ruangan operasi dimana istrinya tengah dalam penanganan dokter.
"Bain," suara lembut itu kini mengalihkan perhatian nya dari pintu itu ke arah sumber suara.
Bian langsung berdiri da berlari menghampiri Mama Asih, ibu mertuanya yang langsung datang setelah dikabari oleh Bian prihal apa yang terjadi pada putrinya.
"Laras Mah. Laras, maafkan Bian yang tidak bisa menjaga Laras seperti janji Bian pada Mamah dulu," lirih Bian saat memeluk erat tubuh ibu mertuanya itu.
"Sabar Nak, kita berdoa semoga mereka berdua bisa selamat," jawab mama Asih mengusap lembut punggung menantunya itu untuk memberi ketenangan.
"Bagaimana keadaan Laras Bi? Apa yang terjadi, kenapa Laras bisa masuk rumah sakit?" tanya mama Sinta saat sudah ada didekat Bian.
"Bian juga tidak tahu Mah,Pah. Tadi siang Laras memang ijin untuk pergi ke mall, Laras bilang ingin melakukan perawatan disalon langganan nya, namun satu jam kemudian Bian dapat telpon dari pihak rumah sakit kalau Laras kecelakaan. Dia jatuh dari eskalator mall Mah dan hal itu membuatnya menami pendarahan hebat. Bian takut Mah, Bian takut," jelas Bian yang kini beralih memeluk sang ibu dengan sangat erat.
"Tenang Bi, kita berdoa semoga mereka kuat dan selamat. Kamu jangan begini, mereka butuh dukungan kamu sayang," ucap mama Sinta memberi semangat pada putranya.
__ADS_1
Papa Sandi pun ikut mengelua pundak Bian yang tidak berhenti nergetar karena menangis. Sungguh rasa khawatir dan juga takut kini begitu besar dia rasakan.
Padahal baru tadi pagi Bian dan Laras tertawa bersama dan menikmati sarapan bersama. Kini wanita itu tengah berjuang antara hidup dan mati bersama dengan putra mereka.
Putra? Ya, setelah melakukan USG terakhir sebelum lahiran, akhirnya Bian dan juga Laras tahu jika calon anak mereka berjenis kelamin laki laki.
Beruntung saat berbelanja perlengkapan bayi, Laras memilih warna yang netral. Yang bisa dipakai oleh bayi laki laki dan perempuan.
Hingga mereka tidak perlu membeli ulang jika yang lahir bayi laki laki atau perempuan. Karena perlengkapan yang disediakan bisa dipakai oleh kedua bayi tersebut.
Seluruh keluarga pun tampak menunggu dengan wajah cemas menghiasi wajah masing masing. Hingga waktu dua jam pun serasa begitu lama, rasanya sudah tidak sabar lagi menunggu pintu ruang operasi itu terbuka.
Namun tampaknya, tuhan masih harus menguji kesabaran Bian, hingga waktu kembali berjalan 30 menit namun pintu itu masih belum terbuka juga.
"Ya Allah, tolong selamatkan anak dan istriku," gumam nya dalam diam.
__ADS_1