Happy Family?¿

Happy Family?¿
perasaan sedih


__ADS_3

setelah pesta anniversary selesai mereka pulang dengan mengendarai mobil yang disewaPutra.


didalam mobil terjadi obrolan rngan antar suami istri yang terlihat saling mencintai.sedangkan Bana sudah bermimpi ndah di jok belakang.


"pah,kok bisa papa kepikiran bikin acara kaya gitu?aku gak nyangka"tanya Luna dengan senyum manis merekah.


malam ini dia sangat bahagia merasa kalau dunia hanya milik mereka berdua sedangkan yang lain hanya menyewa.


dengan senyum sejuta watt-nya Putra memggemgam tangan kanan istrinya dengan lembut dan sayang.


"papa hanya ingin membuat kenangan yang indah,kenangan yang akan membuat mama selalu ingat papa biar gak mikirin gosip artis,hahaha..."jawab Putra dengan sedikit bercanda.


meski jawaban Putra terkesan bercanda tap Luna tau betapa dia merasa dicintai dengan begitu besar dan tulus.


"ish...."


"jawabannya nyebelin tapi aku suka"senyum Luna terukir dengan lebih manis biar Putra makin klepek-klepek.


ha..haa..ha...


begitu renyah tawa suami istri itu dalam malam yang cerah dan indah ini.


setelah sampai rumah Luna turun lebih dulu lalu membuka pintu belakang untuk menggendong Bana.


sedangkan Putra akan pergi lagi ntuk mengembalikan mobilnya.


"papa pergi dulu mah dan tunggu papa ya?"pamit Putra langsung pergi melajukan mobilnya.


Luna sudah membaringkan Bana diranjangnya dan berniat kembali ke kamarnya sendiri namun langkahnya terhenti didepan meja belajar sang anak karena melihat sebuah buku berwarna hitam.


perasaan dia tidak pernah membelikan buku seperti itu.


karena penasaran Luna duduk di kursi belajar sang anak dan mengambil buku hitam itu lalu membuka halaman pertama.


sebuah kalimat pengatar yang membuat bibir Luna tersenyum.


halo buku diary...


aku akan memanggilmu budi


ini pertama kali aku menulis jadi mohon kerjasamanya ya...


jangan jadi kotor dan aku akan memberi tahukan sebuah rahasia...


tapi bukan hari ini


hehehe.....

__ADS_1


sampai jumpa besok.


lucunya....


Luna membalik halaman berikutnya masih dengan tersenyum.


Bana bercerita tentang teman-temanya tentang harinya di sekolah hingga senyum Luna luntur setelah membalik halaman tengah.


disana tertulis perasaan Bana dan ada jejak tetesan air yang sudah mengering.


hai budi...


hari ini aku mendengar suara ribut diluar meski sudah terbiasa namun tetap saja aku merasa sedih padahal aku tau semuanya tapi aku berusaha tetap tersenyum.


hai budi....


mama dan papa adalah orang yang paling Bana sayang.


sebenarnya Bana mau bilang jangan bertengkar terus wahai orang tuaku tapi Bana takut.


hai budi....


hari ini mama dan papa lagi perang dingin seperti orang asing.


Bana jadi bingung mau bersikap seperti apa.


hai Budi....


dan masih banyak tulisan Bana yang membuat hati Luna terenyuh.


selama ini dia hanya berpikir kalau Bana pasti mengerti kalau Bana pasti paham.


ya Allah...


apa selama ini dia egois tanpa memperdulikan perasaan sang anak.


dia bertengakar didepan anak bahkan sampai melampiaskanke Bana kalau dia sedang marah dengan suaminya.


"apa yang telah aku lakukan?"perasaan bersalah dan kecewa pada diri sendiri membuat air matanya luruh dengan derasnya.


rasanya dia telah berdosa kepada sang anak.


"aku harus kasih tau mas Putra"setelah menenangkan perasaanya Lna bergegas keluar dari kamar Bana.


kini Luna duduk di ruamg tamu menunggu sang suami untk mencurahkan semua perasaannya dan perasaaan Sang anak yang dtulis di buku diarinya.


tak menunggu terlalu lama terdengar suara deru mesin motor diluar.

__ADS_1


Luna bergegas berdiri menghampiri pintu dan membukanya.


dilihatnya sang suam yang sedang memarkirkan motornya.


melihat kedatangan sang istri dengan belinang airmata membuat Putra kaget,ada apa gerangan padahal tadi masih tersenyum dengan manis.


Luna langsung memeluk putra dengan erat.


"pah..."


hiks...hiks...


Putra menuntun sang istri untuk mask kedalam rumah.


sesampainya di kamar dan duduk ditepi ranjang Luna menyerahkan buku hitam milik Bana.


Putra menerima dengan heran namun dia langsung membukanya.


sama seperti Luna,Putra pun tersenyum saat membaca halaman pertama namun langsung luntur.


hah...


menghela dengan kasar sambil memandang kearah istrinya.


"mah"....


meletakan buku hitam itu Putra memeluk Luna dari samping dan menyandarkan kepala Luna ke bahunya.


"kita ternyata telah menyakiti hatinya tanpa sadar tapi dia masih tetap tersenyum dengan riangnya didepan kita itu membuatku lebih sakit pah"ucap Luna dengan sesegukan dia merasa telah mengabaikan perasaaan sikecil.


"seandainya dia tantrum dan memberontak malah lebih baik karena itu sesuai dengan umurnya tapi Bana malah memendamnya dan berpura-pura kalau dia baik baik saja,maaf pah..maaf..aku belum bisa jadi ibu yang baik"rancau Luna masih didekapan sang suami.


sedangkan Putra hanya diam sambil mengelus bahu sang istr untuk memberi efek menenangkan.


"papa juga mah!belum bisa jadi suami dan ayah yang baik,seandainya papa lebih perhatian mungkin gak akan membuat mama marah dan Bana jadi merasa senang,jadi ayo kita sama sama belajar jadi lebih baik"kata kata Putra membuat perasaan Luna jauh lebih baik dan dia menganggukan kepalanya tanda setuju.


"ibadah terpanjang adalah membina rumah tangga dan belajar terpanjang juga tentang bagaimana cara menjadi lebih baik"ucap Putra kembali membuat perasaan Luna lebih tenang.


"iya pah,maaf dan terima kasih padahal papa sering menasehati mama,"jawab Luna mengurai pelukan mereka diiringi dengan senyum.


Putra memegang pipi istrinya menghapus sisa air mata dan mencium keningnya.


belum sempat ciuman sampai kebibir Luna langsng melepaskan diri dan berlari ke keluar kearah kamar mandi


Putra kecewa dan kaget dengan gerakan istrinya dengan menggaruk tengkuknya.


di luar kamar terdengar suara Luna memanggil dan Putra bergegas menyusul sang istri.

__ADS_1


hoek...hoek....hoek...


"mah....


__ADS_2