
setelah berkunjung ke rumah Paman Bagus, keluarga itu pun kini sedang beristirahat.
Luna yang mengingat kejadian tadi merasa kesal, namun dia tak menunjukan kepada suaminya.
"mah lagi apa? " tanya Putra menghampiri istrinya yang sedang duduk di kursi makan.
Luna yang di tanya hanya diam bahkan tanpa menoleh ke arah suaminya saat di tanya.
Putra yang merasa di abaikan pun hanya menghela nafas pasrah.
kejadian tadi pagi dan siang hari benar - benar membuat dia menyesal.
"mah... " panggil Putra dengan nada yang lirih seakan dia tidak mempunyai tenaga.
"mah, jangan diem aja dong, papa lebih suka mama yang cerewet dan marah-marah, please mah bersuara sedikit" bujuk Putra sambil memegang tangan Luna dan menciumnya.
"apa papa tadi bersuara saat wanita itu bicara? " tanya Luna sambil melirik sinis ke arah Putra.
"mah tadi papa..."
"apa? bingung mau bersikap? apa was - was takut ketahuan kalau ada apa apa? "
cerca Luna memotong perkataan Putra.
"aku tuh heran lho pah sama kamu, papa bisa bersikap tegas sama bu Waffa tapi kenapa lembek sama dia, kenapa pah kenapa? " marah Luna dengan mata berkaca kaca. selama ini Luna selalu memendam kesedihan terhadap suaminya yang selalu bersikap lembut terhadap mantannya.
Putra yang mendapat pertanyaan seperti itu hanya diam karena tahu saat ini emosi Luna sedang tinggi, jadi percuma untuk membahasnya sekarang.
"mah, udah ya jangan marah - marah lagi lebih baik mama istirahat tenangkan pikiran mama dulu biar setannya pergi, yah? " bujuk Putra sambil memegang kedua pundak Luna agar menghadapnya.
Luna yang mendengar bujukan suaminya hanya diam dan langsung pergi menuju kamarnya.
Setelah kepergian istrinya Putra pun langsung membuka pesan dari seseorang.
maaf mas soal tadi, mba Luna gak papa kan? _ Bella
iya gak papa
santai aja bell _ Putra
syukurlah kalau begitu
oh ya mas besok jadi kan kita ketemuan
soalnya udah gak sabar
hehehe _ Bella
jadi Bell
besok aku kabarin waktu dan tempatnya
udah dulu ya _ Putra
ok
sampai jumpa besok mas _ Bella
Setelah selesai berkirim pesan Putra langsung menyusul Luna kekamarnya.
Bana sendiri saat ini sedang didalam kamar sambil duduk di kursi belajarnya.sebenarnya dia merasa sedih dengan pertengkaran kedua orang tuanya yang hampir tiap hari.
"ya Allah Bana ingin Bahagia seperti Reyhan yang ayah dan ibunya gak pernah bertengkar andai aja aku anaknya tante Jannah" batin Bana sambil menelungkupkan kepalanya diatas tangan.
__ADS_1
terdengar isak tangis yang tertahan agar kedua orang tuanya tidak mendengar.
tanpa diketahui Bana selalu menangis diam diam didalam kamar kalau orang tuanya bertengkar.
didalam kamar, Luna hanya duduk bersender di samping ranjang tanpa bergerak sedikitpun. saat ini hati dan pikirannya bercampur aduk.
tok.... tok... tok...
terdengar ketukan pintu dari luar namun Luna enggan untuk membuka nya.
tok... tok... tok...
"mah, buka pintunya mah! " titah Putra sambil mengetuk pintu agar Luna mau membukakannya.
"mah buka mah,please mah" rengek Putra tanpa henti.
"malam ini kamu tidur diluar! " teriak Luna dari atas ranjang.
"mah, tolong jangan kayak anak kecil! dikit dikit marah dikit dikit ngambek, maunya kamu apa mah? " Luna yang mendengar perkataan suaminya tambah emosi.
"maksud kamu apa? kamu nuduh aku kekanak-kanakan? " teriak Luna dari dalam kamar.
Putra yang mendengar jawaban istrinya mulai pasrah dan dia pun berjalan kembali ke ruang tengah untuk istirahat, karena seharian ini pikirannya sudah lelah.
ingin rasanya Putra kembali ke jaman dulu di mana dia tidak akan pernah memiliki seorang pacar.
menurutnya memiliki seorang mantan sungguh membuat dirinya di masa sekarang menyesal.
Hari sudah berganti pagi,tapi suasana di dalam keluarga kecil itu masih terlihat suram karena sangat istri masih dilanda sedih.
sarapan pun sudah tersedia di atas meja namun Luna enggan menyuruh suaminya untuk sarapan.
"Bana sayang, ayo bangun udah siang" rayu Luna sambil mengelus pelan kepala anaknya untuk bangun.
"iya mah, Bana ke toilet dulu yah? " jawab Bana sambil beranjak keluar menuju ke kamar mandi.
Luna pun berdiri mengikuti anaknya namun dia menuju ke ruang makan untuk sarapan, namun disana sudah ada suaminya yang sedang duduk membelakangi.
merasa ada seseorang yang berjalan mendekat ke arahnya Putra pun menoleh untuk melihat siapa yang ada di belakangnya.
mengetahui kalau itu istrinya Putra langsung tersenyum bahagia, walau Luna sedang marah tapi dia tidak pernah lupa untuk membuatkan sarapan kesukaannya.
Luna pun segera duduk tanpa bersuara, dia masih merasa kesal kepada suaminya.
"selamat pagi sayang! " sapa Putra sumringah sambil mencoba memegang tangan kiri istrinya untuk di cium.
Namun Luna langsung menepis pelan tangan suaminya.
Putra pun hanya menghela napas pelan dan mencoba bersabar.
"mah, marah melewati matahari terbenam itu dosanya besar apalagi kepada suami sendiri tanggungannya berat mah" rayu Putra sambil mencoba tersenyum.
"gak papa kalau belum tiga hari" jawab Luna diplomatis, Putra yang mendengar jawaban istrinya pun hanya menghela napas.
"selamat pagi mama dan papa! " sapa Bana ceria sambil duduk di kursi makan.
sebenarnya Bana tadi mendengar semua pembicaraan ke dua orang tuanya.
dia menduga kalau mama dan papanya masih marahan.
"pagi juga sayang" kompak suami istri tersebut menjawab sapaan anaknya
Bana pun hanya tersenyum karena merasa lucu dengan tingkah orang dewasa.
__ADS_1
Luna sendiri memalingkan muka ke arah lain sedangkan Putra terkekeh sambil mengelus lembut kepala anaknya.
setelah selesai sarapan Bana meminta izin untuk ke rumah Steven untuk bermain Game.
Putra sendiri sekarang sedang memperhatikan Luna yang sedang mencuci piring.
"mah, jangan lama-lama dong marahnya, papa kangen tau! " goda Putra yang masih memperhatikan istrinya.
"hem... " hanya deheman yang keluar dari mulut Luna.
"mah, bukanya aku gak tegas sama Bella tapi aku mencoba bersikap baik dan lagi pula kita gak ada masalah saat berpisah" akhirnya Putra membahas kejadian kemarin setelah seharian diam.
"ya iyalah bersikap baik wong mantan terindah" kesalahan Luna sambil melepas lap setelah selesai mencuci piring.
"ya ampun mah, aku tuh... " upss...
hampir saja keceplosan.
Luna mendengar perkataan suaminya belum selesai malah dibuat bingung karena melihat Putra yang menutup mulutnya seolah dia akan mengatakan sesuatu tapi tidak jadi.
Putra sendiri langsung berlari ke kamar
untuk berganti pakaian.
"mah, aku pamit keluar sebentar ya ada perlu? " izin Putra kepada istrinya yang sedang duduk di ruang tengah sambil rabahan dan menoton TV.
"hem.. " jawab Luna tanpa menoleh sedikit pun ke arah suaminya.
Putra pun langsung mengambil tangan istrinya untuk cium tangan.
setelah kepergian Putra,Luna menjadi bingung sendiri karena tidak biasanya suaminya ini pergi terburu buru.
mau kemana tuh suami tercinta. batin Luna sambil ngemil keripik singkong.
jam pun sudah menujukan angka 1 siang tapi suaminya ini tidak kunjung pulang.
akhirnya Luna pun memutuskan untuk pergi ke warung.
setelah sampai ternyata di warung sedang ada para ibu-ibu yang lagi ngerumpi.
"iya aku juga liat tadi pagi waktu aku pulang dari pasar! " cerita ibu Mawar menggebu.
namun belum sempat para ibu menanggapi Luna yang baru sampai pun penasaran.
"liat apa bu Mawar? " tanya Luna antusias, karena setiap cerita bu mawar selalu disertai fakta.
bu Mawar yang ditanya pun jadi salah tingkah sebab cerita yang akan disampaikan menyangkut keharmonisan rumah tangga pasangan muda yang terlihat bahagia.
"ada cerita apa emangnya bu? kok diem aja? tumben gak bagi bagi! " tanya Luna sambil mencolek bu Mawar.
bu Mawar sendiri masih kikuk untuk cerita sebab dia merasa masih tidak percaya dengan apa yang dilihat.
"udah bu, kasih tau aja biar kapok laki - laki begitu! " perintah bu Prita ke bu Mawar.
Luna pun jadi semakin penasaran sebab dia merasa kalau ini menyangkut tentang dirinya.
melalui tatapan yang memohon akhirnya bu Mawar pun cerita dengan perasaan sungkan.
"begini lho bu Luna.. em... tadi pagi pas mau pulang saya melihat... aduh.. tapi bu Luna jangan marah ya sama saya? " cerita bu Mawar belum selesai tapi dia sudah meminta persetujuan pada dirinya. Luna jadi semakin penasaran akhirnya pun dia hanya mengangguk.
"tadi saya liat pak Putra memboceng seorang wanita, tapi mungkin saudaranya saya juga kurang yakin bu Luna" bagai memakan ayam geprek level 10 emosi Luna pun mulai meningkat.
dia bertanya tanya dalam hati siapa wanita itu?
__ADS_1