
setelah melihat bagaimana keadaan mamanya Bana semakin merasa sedih apalagi melihat dengan kedua matanya saat ini mamanya sedang menangis dan berantakan.
Bana hanya diam mematung melihat itu semua apa yang harus dilakukan haruskah seperti biasanya tertawa ceria seolah olah dia tidak mengerti dengan keadaan ini atau ini saatnya menunjukan kalau dia sedang terluka.
"Bana main dengan steven dulu ya sekalian sampai nanti siang?"perintah sang ayah mengembalikan lamunan Bana.
mendapati perintah sang ayah Bana paham kalau saat ini mamanya sedang tidak baik-baik saja.
"iya pah!"jawab Bana berbalik langsung menuju pintu keluar rumah.
setelah didepan rumah Bana berhenti lalu berjongkok dan menutup wajah dengan kedua tangannya.
hiks...hiks....
apa yang terjadi dengan mama ya Allah
lindungilah mama Bana ya Allah....
"Bana sedang apa disitu?"tanya seorang wanita setengah baya.
dia melangkah mendekat ke arah Bana yang masih diam.
mendapati kedatangan seseorang buru buru Bana mengelap airmata dan ingus yang keluar lalu mengadahkan kepalanya untuk melihat siapa yang menghampirinya.
"budhe janah"gumam Bana sambil berdiri lalu menjulurkan tangannya untuk salim.
"kamu sedang apa jongkok begitu?lalu papa sama mama kamu dimana?"tanya bu janah dengan mensejajarkan badannya lalu memegang pundak Bana.
"mama sama papa ada didalam budhe,Bana lagi nunggu steven lewat"jawab Bana setengah benar setengah bohong.
dengan sedikit senyum khas anak anak bu Janah yang awalnya curiga jadi percaya dengan perkataan Bana mana mungkinkan anak kecil berbohong.
"kalau gitu mau ikut sama budhe ke rumah Steven kebetulan budhe mau jemput Reyhan"tawar bu Janah dengan berdiri lalu memandang Bana dengan senyum teduhnya.
"boleh budhe"jawab Bana dengan seceria mungkin agar tidak ada orang yang tau kalau saat ini dia sedang sedih.
__ADS_1
***
di rumah steven sudah ada Reyhan yang sedang makan kue brownis kesukaan Bana.
steven sendiri saat ini sedang mandi setelah olahraga pagi dengan reyhan.
sebenarnya steven ingin Bana juga ikut olahraga meski hanya jalan santai tapi anak itu seperti berubah jadi guling kalau sudah diatas kasur susah dibangunkan.
setelah selesai mandi dan memakai pakaiannya Steven keluar untuk menemui reyhan.
namun alangkah terkejutnya setelah sampai diruang tamu yang ada malah bocah yang seperti guling yang sedang duduk disofa dengan entengnya makan kue kesukaannya.
"lho kamu kok udah disini aja,lalu reyhan mana?"tanya steven menghampiri Bana lalu duduk disampingnya.
"udah pulang tadi dijemput Budhe janah"jawab Bana dengan menghela nafas setelah menghabiskan tiga potong brownies.
mendengar jawaban sahabatnya steven hanya mengangguk namun dia mengeryitkan dahi karena Bana menghela nafas Steven tau kalau Bana sedang sedih.
"ada apa lagi kali ini Ban?"tanya Steven dengan duduk bersila disofa dan menyenderkan punggunnya.
"ya elah udah paten dilidah ha...ha...ha..."jawab Steven dengan entengnya tanpa bersalah.
huft...
helaan Bana membuat tawa Steven berhenti dan sama sama menghela nafas.
"jadi mau cerita?"tanya Steven memandang Bana dengan teduh.
"mami sama papi kamu dimana?"tanya Bana dengan serius.
"papi sama mami lagi ke kota mau ke mall katanya"jawab Steven tak kalah serius.
sedangkan Bana mendengar jawaban steven malah meledeknya.
tak taukah Bana demi siapa dia jarang ikut pergi kedua orangtuanya agar sang sahabat tidak kesepian.
__ADS_1
gini nih sahabat gak ada ahklak dasar ban serep.
"jadi cerita gak?"tanya Steven lagi bagaimanapun saat ini Bana kelihatan lebih sedih dari biasanya.
"mama tadi kayanya ngamuk dikamar soalnya barang barangnya berantakan"
"padahal semalam kita habis kekota dan makan malam dengan bahagia tapi tadi pagi suasananya jadi suram"keluh Bana dengan menyenderkan punggungnya.
mendengar cerita Bana membuat Steven bingung apa penyebab perubahan suasana secara drastis.
"apa saat kamu tidur mereka bertengkar?"tanya Steven seperti detektif.
hem...
"kayanya enggak deh,kalaupun berantem pasti kedengeran mama kan orangnya berisik"jawab Bana kebingungan.
bingung juga ya...
"ya udah untuk sekarang..."
belum sempat Steven melanjutkan perkataannya dia melihat Bana yang sedang menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.
hiks...hiks....
"aku takut ven,aku takut..."keluh Bana disela tangisannya membuat Steven juga merasa sedih.
menurut Steven,Bana adalah anak yang kuat mentalnya bayangkan diusianya yang masih lima tahu harus berpura pura tersenyum dan ceria didepan orang yang telah menorehkan luka.
kalau aku di posisi Bana mungkin aku akan memberontak dan berbuat sesuka hati.
tapi inilah Bana sahabatnya yang akan selalu dia banggakan.
"sabar ya Ban,mungkin ini ujian"hibur Steven dengan mengambil brownies lalu memberikan ke Bana.
mendapati brownies di depan mata membuat tangis Bana berhenti dan beralih menatap sahabatnya dengan perasaan kesal.
__ADS_1
"dasar kampret"