Happy Family?¿

Happy Family?¿
kebahagiaan yang seperti hilang


__ADS_3

setelah pulang dari klinik putra membuatkan susu ibu hamil yang dibeli saat diperjalan tadi.


menurut dokter saat ini kondisi Luna butuh perhatian khusus apalagi mengingat kejadian semalam setelah membaca buku hitam milik Bana.


Luna merasa gagal menjadi seorang ibu sedangkan sekarang dia sedang hamil yang mana membuat gejolak hati Luna bertambah tak karuan.


dia senang,sedih dan kecewa disaat bersamaan.


hah....


"kenapa jadi seperti ini"keluh Putra merasa frustasi.


setelah susu ibu hamil jadi dia membawanya masuk ke kamar untuk diberikan ke Luna.


betapa kagetnya Putra melihat Luna diranjang sedang mengis lagi.


mungkin selain karena merasa sedih juga karena pengaruh hormon kehamilan.


"mah..."panggil Putra bergegas menghampiri sang istri setelah meletakan segelas susu.


hiks...hiks....


tangisan Lina begitu pilu didengar setelah didekap Putra.


"mah,udah ya nangisnya kasian dedenya entar ikut nangis"hibur Putra dengan lemah lembut agar suasana hati bumil lega.


namun bukannya berhenti malah membuat tangisan Luna tambah kencang.


"ya Allah mah,mama gak kasian sama papa?"tanya Putra memelas dengan mimik muka sedih.


mendengar peryataan sang suami malah membuat kening Luna mengernyit.


kok malah kasian ke dia sih?...


"maksud papa?"tanya Luna dengan mendongakan kepalanya lalu melapas pelukannya pada Putra.

__ADS_1


"maksud papa,papa tuh jadi bingung padahal semalem kita habis pesta eh sekarang malah kaya gini"keluh Putra dengan menghela nafas lalu memandang kewajah istrinya.


mendengar perkataan suaminya membuat Luna kembali mengingat acara semalam sebelum menemukan budi (buku diary).


ya saat itu dia begitu bahagia bahwa kecurigaannya tidak terbukti.


bahkan Putra menyakinkan kalau dia begitu mencintainya.


bahkan Bana juga tersenyum ceria saat itu.


tapi apa sekarang seakan kita terbang lalu satu sayap kita patah sebelah.


seperti bahagia akan datang tapi juga akan hilang.


menyadari sikapnya pada sang anak apalagi sejak pagi dia belum bertegur sapa dengan Bana.


"Bana mana pah?"tanya Luna dengan khawatir apalagi Bana tadi pasti lihat keadaannya.


Luna takut membuat Bana jadi sedih lagi.


mendengar jawaban Putra membuat Luna jadi merasa bersalah.


sejak pagi hingga siang begini Bana belum juga pulang apa dia takut?


"panggil Bana pah"perintah Luna dengan mata berkaca kaca.


"aku akan buat makanan kesukaan Bana"lanjut Luna berbicara dengan bibir tersenyum.


mendapat perintah dari istrinya Putra tersenyum bahagia ini menandakan bahwa Luna sudah merasa lebih baik.


"iya sayang emuach..."bahagia Putra mencium kening sang istri.


sepeninggal Putra,Luna berjalan menuju kedapur untuk membuat makanan kesukaan sang anak.


***

__ADS_1


tiba dirumah Steven


Putra memanggil pemilik rumah dengan sedikit kencang.


itu sudah kebiasaan kalau ke rumah steven karena kadang pemilik rumah ada di taman belakang.


mendengar suara teriakan dari luar steven yang sedang bermain ps dengan Bana bergegas keluar.


"om nyari Bana?"tanya Steven dengan serius.


"iya ven"jawab Putra dengan tersenyum.


"om kalau bisa jangan bertengkar di depan Bana apalagi sampai terdengar ditelinga Bana,kasian dia om kalau kesini pasti nangis"nasehat dari anak beruasia lima tahun dengan wajah serius.


mendengar perkataan dari Steven membuat sudut hati Putra tersentil.


bagaimana bisa dia diajari anak kecil?


hah...


kadang kita belajar dan mendengar nasehat dari arah yang tak terduga.


"terima kasih Steven kamu akan menjadi motivator yang handal"ucap Putra sambil mengacak gemas rambut Steven.


"aku mau jadi dokter"jawab Steven dengan menyilangkan tangan seperti pria gagah.


mendengar jawaban Steven membuat alis Putra naik sebelah.


mau jadi dokter dengan sikap begitu yang ada pasienya kabur.


hiyy...


"ya ya ya..semoga cita citanya tercapai"ucap Putra dengan malas.


mendengar panggilan Steven,Bana keluar dari kamar dan menemui kedua orang yang sedang berdiri diteras.

__ADS_1


"papa"


__ADS_2