Harga Diri Yang Tak Tergantikan

Harga Diri Yang Tak Tergantikan
Leo tau tentang Vika


__ADS_3

"Oh gitu? Oke lah, lo pulang aja Vik."


"Iya Di. Lo pulang sono."


"Gue emang mo pulang dari tadi Vik. Tapi saat mo pulang gue lihat lo di sini. Ya udah gue ke sini aja."


"Oh. Maaf ya Di."


"Iya Vik, gpp kok. Ya udah yuk kita pulang."


"Iya Di, ayuk."


Kita semua pun pulang kerumah masing-masing. Tentunya naik motor masing-masing juga.


★VIKA★


Aku sudah berada di rumah. Lebih tepatnya di dalam kamarku. Aku duduk di ranjang sambil memeluk bantal.


"Hm.. Enaknya ngapain ya? Bosen juga nih." pikirku.


Tak lama kemudian hpku berbunyi. Aku pun melihat layar hpku.


"Telpon dari Vio. Kebetulan nih, bisa cerita. Hehehe."


Aku pun mengangkat telpon tersebut.


"Hallo Vik, lo sibuk kagak?"


"Kagak nih Vi. Ada apa lo nelpon gue?"


"Gue cuma mau tanya aja, lo udah ngerjain PR belum?"


"Udahlah, gue gitu lho."


"Oh."


"Eh iya, kebetulan banget nih elo nelpon gue Vi. Gue pingin cerita nih sama elo."


"Cerita apa emangnya Vik?"


"Tadi itu gue ketemu Fredi Vi. Nah, gue baru inget kalau Fredi itu temen gue waktu di TK."


"Oh. Bagus dong kalau gitu Vik. Ketemu teman lama."


"Iya Vi. Eh, udah dulu ya? Gue mau makan nih. Laper."


"Oh. Oke."


Aku pun menutup telponnya. Lalu aku berjalan pergi ke dapur untuk makan.


★VIO★


Aku sedang berpikir. Ya, aku sekarang tengah duduk di kursi teras depan rumahku.


"Wah, itu bagus banget kalau Vika bisa deket sama Fredi. Kan jadinya Vika gak jadi suka sama Dio. Hingga akhirnya, kesempatan Dio buat gue miliki bisa banyak. Tapi, apa Dio mau ya sama gue?" guman Vio.


★FREDI★


Aku sedang duduk di sofa yang ada di kamarku. Selintas saja aku kepikiran dengan Vika.


"Em.. Kalau dipikir-pikir sih, Vika cantik juga ya. Orangnya asyik, gak sombong pula. Kayaknya, bisa lah gue deketin dia. Buat dijadiin pacar gue." guman Fredi.


★VIKA★


Saat malam tiba, sekitar pukul 19.00. Aku tiba-tiba saja pingin makan cimol. Aku pun langsung keluar kamar mencari Reza. Saat di dapur, aku ketemu Reza. Dia lagi duduk sembari makan donat di kursi meja makan. Aku pun menghampirinya.


"Kak, anterin aku beli cimol yuk. Aku pingin banget nih."


merengek manja.


"Hm.. Iya Vik, aku anterin. Tapi bentar ya, nunggu aku habisin donatnya dulu. Sabar ya Vik, gak lama kok."


"Iya kak Za. Tapi cepetan makannya."


"Ya gak bisa cepet lah Vik. Ntar aku keselak."


"Iya dah iya kak."


Aku pun duduk di kursi.


"Kamu gak mau Vik donatnya? Enak lho."


"Gak kak, aku maunya cimol. Bukan donat."

__ADS_1


"Okelah. Kalo gitu aku habisin lho donatnya."


"Iya, kakak habisin aja semua donatnya."


"Okelah."


Sekitar 2 menit kemudian, Reza selesai makan donatnya.


"Udah nih Vik. Ayo beli cimol."


"Iya kak."


Kita pun pergi beli cimol. Naik motor. Reza yang nyetir, aku yang dibonceng.


★LEO★


Aku sedang berada di taman dekat alun-alun bersama Dicky. Kita ngopi bareng.


"Gimana PDKT lo ma Vika?"


"Ya gitu Ky, makin deket sih."


"Oh, ya baguslah lah Yo kalo lo makin deket ma Vika."


"Iya Ky."


★VIKA★


Aku lagi makan cimol di atas motor. Reza di sebelahku sedang berdiri. Aku melihat sekeliling taman ini. Tiba-tiba saja aku melihat Dicky dan Leo.


"Kak Za, itu kak Dicky ma kak Leo kan?" aku nunjuk mereka berdua.


Reza melihat arah yang ku tunjuk itu.


"Iya Vik, itu mereka. Kita kesana yuk. Ikut gabung."


"Ayuk kak."


Kita pun menghampiri Dicky dan Leo.


"Hai guys." sapa Reza.


"Eh, elo Za. Ngapain di sini?" tanya Dicky.


"Oh." ucap Dicky.


"Sini Vik, Za, duduk. Masa iya berdiri." Leo.


"Iya Yo."


"Iya kak Yo."


Aku dan Reza pun duduk.


"By the way, lo berdua ngapain ke sini?" tanya Reza.


"Biasa Za, ngopi."


"Bener tuh kata Dicky Za."


"Ah, lo pada mah tega ma gue. Ngopi gak ngajak-ngajak."


"Hehehe. Sorry Za, bukannya gak ngajak. Tapi takut ganggu waktu lo aja."


"Iya tuh, bener kata Leo."


"Alesan."


"Gak alesan kok. Iya gak Yo?"


"Iya Ky."


"Ya, ya, ya, terserah lo pada deh."


"Iya." kompak.


Cimol yang ku makan telah habis.


"Enak Vik cimolnya?"


"Enak kak Yo."


"Oh. Kamu mau kopi gak Vik?" tawar Leo.

__ADS_1


"Gak mau ah Kak. Aku gak haus."


"Oke lah."


"Za, by the way, lo gak ngopi nih?"


"Rencananya sih gue mau ngopi Ky. Tapi takutnya Vika marah."


"Aku gak marah kok kak Za. Kalau kakak mau ngopi. Ngopi aja kak. Gpp kok."


"Tapi nanti kalau aku ngopi pulangnya entar Vik. Kan kamu pengen pulang sekarang." kata Reza.


"Aku gak pengin pulang sekarang kok kak. Kakak ngopi aja."


"Oh, ya udah lah. Kamu mau kopi gak Vik?" tanya Reza kepadaku.


"Gak kak."


"Yakin nih gak mau kopi?"


"Iya kak Za. Aku gak mau kopi."


"Iya dah."


Kulihat Reza pesen kopi. Lalu membawa kopi pesenannya ke tempat semula Reza duduk.


"Vik, gimana sekolah kamu?"


"Baik kak Yo."


"Syukurlah."


"Iya kak."


"Vik, kamu udah punya pacar?" tanya Dicky.


"Belum kak Ky. Kenapa nanya gitu?"


"Gpp aja Vik, cuma pingin tau."


"Oh."


"Itu malah bagus Vik. Kamu harus fokus ke sekolah kamu. Belajar aja yang rajin. Biar jadi pintar." ucap Leo.


"Iya kak Yo, kalau itu mah gak usah dikasih tau. Aku emang udah rajin dan pintar."


"Hehehe, iya juga sih." pikir Leo.


"Helleh, bilang aja lo mau pacarin Vika." ceplos Reza.


"Zaa..." geram Leo.


"Eh eh, aduh, maaf Yo. Hehehe." Reza sadar kalau dia keceplosan.


Leo menatap Reza dengan tatapan sangar. Aku sangat bingung dengan sikap Leo dan Reza.


"Dah, lupain aja Vik. Gak penting kok." saran Dicky.


"Nah, bener tuh." tambah Leo.


"Iya dah kak." kataku.


"Eh iya, kamu sama Dio gak ada hubungan istimewa kan Vik?" tanya Leo.


"Hubungan istimewa?" tanyaku.


"Iya, kayak pacaran gitu, atau bisa juga TTM."


"Apa itu TTM kak Yo?"


"Teman Tapi Mesra."


"Oh, gak ada kok kak. Aku sama Dio cuma teman aja. Gak lebih."


"Bagus deh kalau gitu." kata Leo.


"Waktu itu Dio pernah nembak aku sih." ucapku terus terang.


Sontak Reza, Leo, dan Dicky langsung melihatku.


"Kenapa?" tanyaku pada mereka.


"Trus kamu jawab apa saat ditembak Dio?" tanya Leo kepadaku.

__ADS_1


"Aku bilang gak mau jadi pacarnya."


__ADS_2