Harga Diri Yang Tak Tergantikan

Harga Diri Yang Tak Tergantikan
Ending


__ADS_3






KEESOKAN HARINYA


★DIO★


Aku berjalan sendirian ke kantin sekolah. Saat di kantin sekolah, aku melihat ada Vika, Leo, Dicky, dan Reza sedang makan. Aku dengan memberanikan diri pergi ke sana.


"Boleh ngomong?" tanyaku pada mereka.


"Lo mau ngomong apa?" tanya Leo padaku.


"Gue mau minta maaf ma Vika."


"Percuma lo minta maaf, ujung-ujungnya juga lo ulangi lagi tuh kesalahan elo." kata Reza blak-blak'an.


"Gue serius kak Za. Gue gak bohong. Gue gak akan ulangi kesalahan gue lagi."


"Apa alasan lo minta maaf ma Vika?" tanya Dicky.


"Karena gue denger kabar, kalau Fredi kalian laporin ke polisi. Makanya gue minta maaf ma Vika."


"Oh, jadi elo gak mau dilaporin ke polisi?" tanya Leo.


"Em.. Iya kak."


"Okey, lo tenang aja. Gue ma temen-temen gue gak bakal ngelaporin elo ke polisi kok." Leo.


"Asal dengan syarat." tambah Reza.


"Apa syaratnya kak?" tanyaku.


"Lo jauhi Vika. Lo itu cuma buat Vika sedih doang dengan tindakan lo itu."


"Iya kak, gue bakal jauhi Vika kok. Dan gue gak akan ganggu hidupnya lagi."


"Bagus deh." Reza.


"Ya, gue maafin elo Di. Dah, sana lo pergi dari hadapan gue. Gue males lihat elo." ucap Vika.


"Iya Vik. Thanks udah mau maafin gue lagi."


"Ya." jawabnya singkat.


Aku langsung pergi ke kelas. Padahal tadi aku berencana untuk makan. Tapi sekarang, selera makanku sudah hilang. Saat di kelas, aku melihat Rudi dan Aldi. Aku menghampiri mereka. Lalu ikutan duduk di sebelah mereka.


"Cepet amat lo ke kantinnya. Lo makan apa cuma ke sana aja sih?" tanya Aldi.


"Ya, gue tadi rencananya mau makan. Tapi gak jadi, karena gue udah gak selera buat makan."


"Oh.." Aldi.


"By the way, lo udah minta maaf sama Vika?"


"Udah Rud, gue udah minta maaf sama Vika."


"Jadi, lo sama Vika kayak dulu lagi dong?" tanya Rudi kepadaku.


"Enggak."

__ADS_1


"Loh, kenapa Di? Bukannya elo dah minta maaf." Aldi.


"Iya, gue emang udah minta maaf sama Vika. Tapi bukan berarti, gue sama Vika kayak dulu lagi."


"Oh, mungkin karena kesalahan lo." pikir Rudi.


"Ya, lo benar Rud. Ini memang karena kesalahan gue kok."


"Lo yang sabar ya? Gue yakin, lo pasti menemui cewek yang kayak Vika lagi."


"Iya Al, moga aja cewek yang kayak Vika masih ada di muka bumi ini."


"Iya Yo."


"Eh iya Di, lo kali ini memang bener-bener nyesel kan? Bukan karena kayak dulu lagi kan?"


"Iya, gue emang bener-bener dah nyesel Rud. Bukan, gue kali ini gak kayak dulu. Gue emang beneran nyesel atas tindakan bodoh gue ini."


"Syukurlah kalau gitu." kata Rudi.


"Iya, jujur sih guys, gue pingin kayak dulu. Tapi itu semua gak bisa. Yang main sama Vika, ngobrol bareng gitu."


"Iya Di, gue tau kok perasaan elo." kata Aldi.


"Waktu gue denger kalau kak Erik dipenjara gara-gara ngancem Vika. Gue jadi sadar, kalau tindakan gue itu salah banget. Gue pernah dikasih peringatan sama kak Reza dan kak Leo. Tapi gue gak gubris. Untung saja gue belum sempat masuk penjara. Kalau udah, haduhh, gak kebayang gue kayak gimana guys."


"Ya udah lah Di. Lo lupain aja semuanya. Jadiin ini itu sebagai pelajaran buat elo. Agar ke depannya, lo gak ngulangin kesalahan yang sama lagi."


"Nah, bener tuh kata Aldi."


"Iya guys."


★VIKA★


Aku, Dicky, Leo, dan Reza baru saja selesai makan.


"Eh, Dio tadi kayaknya serius deh." kata Leo.


"Iya juga sih. Tapi Za, gue tuh tadi bisa lihat kalau Dio itu tulus minta maafnya." Leo.


"Ya kalau Dio emang nyesel ya alhamdulillah. Kalau enggak ya wassalam aja." kataku.


"Nah, bener tuh kata Vika Yo. Lebih baik kita semua berpikir positif aja. Jangan berpikir negatif." saran Dicky.


"Iya dah Ky." kata Reza.


"Eh iya, kak Yo, kakak ntar sore sibuk gak?" tanyaku.


"Em.. Emang kenapa dek nanya gitu?"


"Ya kan aku cuma tanya aja kak. Kalau gak boleh ya udah."


"Iya tentu boleh lah dek. Kan adek itu pacar kakak yang tersayang." senyum.


"Iya dah. Jadi apa kak?" tanyaku lagi.


"Apanya?" tanyanya kepadaku.


"Is, kakak gitu deh." cemberut.


"Hahaha, bercanda tau dek. Iya iya, kakak gak sibuk kok ntar sore."


"Asyiikkk... Berarti ntar sore kakak bisa kan ke rumah adek?"


"Bisa dong." kata Leo.


Aku senang sekali.

__ADS_1


"Bilang aja mau diapelin Leo." ceplos Reza.


"Hehehe, kak Reza mah tau aja. Pinter deh."


"Yee, emang aku pintar kali Vik. Dari dulu malah." kata Reza dengan pdnya.


"Iya dah iya kak."


★LEO★


Aku datang ke rumah Reza dengan membawa jajan siomay satu bungkus. Lalu aku masuk ke dalam rumah Reza. Di ruang tengah, ada Reza yang bermain hp. Aku menghampiri Reza. Lalu duduk di sofa. Aku menaruh siomay tadi di atas meja. Lalu aku senderan di sofa.


"Za, lagi ngapain sih lo? Kok kayaknya sibuk amat." kataku.


"Main game Yo." sibuk dengan hpnya.


"Game apa sih?" tanyaku.


"Cacing Yo. Lo mau ikutan?"


"Boleh tuh, lo di level berapa?"


"Level 12 Yo. Nih gue ada di urutan no 3."


"Wah, sama dong. Gue juga di level 12. Okelah, gue main juga."


Aku mengeluarkan hp dari saku ku. Lalu aku ikutan Reza, yaitu main game cacing.


★VIKA★


Aku baru saja selesai mandi. Aku berjalan menuju ke ruang tengah. Di sana aku melihat Leo dan Reza sedang sibuk main game. Aku pun menghampiri mereka. Lalu aku duduk di sebelah Leo.


"Ayo Za.. Gue di no 2 nih." ucap Leo.


"Awas lo Yo. Gue salib ntar."


Aku melihat layar hp Leo.


"Kak Reza di no 4 ya?"


"Iya Vik, aku di no 4."


"Oh.." ucapku singkat.


"Dek, kakak beliin siomay tadi buat kamu. Tuh ada di meja. Kamu makan aja." fokus ke hp.


"Iya kak."


Aku memakan siomay ku. Tak lama kemudian, Leo dan Reza berhenti main gamenya secara bersamaan. Hp yang mereka pegang langsung di letakkan di meja.


"Udah selesai?"


"Udah Vik, capek."


"Siapa yang tertinggi?"


"Reza dek."


"Oh, kak Yo mau?" tawarku sambil menunjukkan siomay ku.


"Boleh dek. Aaaaa..." membuka mulutnya.


Aku menyuapi Leo siomay. Leo memakannya. Aku juga makan siomay.


"So sweet amat kalian berdua."


"Iya dong kak, kan kita pacaran."

__ADS_1


"Iya dah Vik."


Aku dan Leo tersenyum secara bersamaan.


__ADS_2