
★
★
★
★
★
SATU MINGGU KEMUDIAN
★ERIK★
Aku sedang melihat diriku sendiri dari cermin kamarku sambil menyisir rambutku. Dari atas sampai bawah, aku terlihat sangan keren sekali.
"Hem.. Dilihat-lihat sih, gue ganteng juga, keren, dan pastinya idaman semua cewek dong." senyum.
Aku pun selesai menyisir rambut. Aku menaruh sisir itu di meja dekat cermin.
"Hem... Kalo gue pikir-pikir sih. Udah beberapa bulan ini rencana gue buat deketin Vika selalu aja gagal. Apa gue pake cara paksa aja ya? Habis, mau gimana lagi. Vika bukannya deket sama gue. Malah makin lengket aja tuh sama Leo." mikir.
★VIKA★
Vika tengah menunggu kakaknya yang memakai sepatu sekolah. Mereka sekarang sedang duduk di ruang tamu. Vika melihat Reza.
"Kak Za, ayo kak Za. Aku takut telat nih. Kan kalau telat dihukum kak. Aku gak mau itu, aku gak mau dihukum."
Reza melihat jam tangannya.
"Iya-iya Vik. Bentar, nih aku lagi naliin tali sepatu. Kalau pun kita telat. Kan telat bareng Vik. Jadi tenang aja. Dihukum pun akan bareng."
"Iih, aku gak dihukum kakak. Aku kan murid teladan."
"Teladan dari mana? Orang kamu pernah dihukum kok. Dijemur di lapangan satu jam."
"Itu kan gara-gara kakak juga. Coba aja kakak gak ngancem, udah pasti aku izin pake surat."
"Alasan sakit kan?"
"Iyalah."
"Itu namanya bohong. Orang kamu gak sakit juga."
"Ihh, nyebelin. Cepetan dong kak. Jangan lama-lama. Ntar telat beneran lho kita." kesal.
"Sabar lah Vik. Nih juga udah cepet-cepet."
"Hem..."
Sekitar 1 menit kemudian, Reza telah selesai memakai sepatunya.
"Udah nih Vik. Ayo berangkat." berdiri.
"Ayok kak." berdiri.
Aku dan Reza pun pergi ke sekolah bedua. Naik motor, yang bonceng Reza.
"Kak, ngebut kak."
__ADS_1
"Gak ah, ntar kita kenapa-napa lagi."
"Kalau gak ngebut, kita bisa telat kak."
"Biarin telat, asal selamat."
"Huh.." kesalku.
★LEO★
Bel pulang sekolah berbunyi barusan. Aku dan teman-temanku sedang berkemas-kemas di kelas. Tak butuh waktu lama, semua perlengkapan sekolah udah kita masukin ke dalam tas masing-masing. Saat ini semua siswa telah pulang. Di kelas hanya ada kita bertiga. Guru pun tadi waktu jam terakhir gak ngulang. Cuma dikasih tugas.
"Guys, yuk cabut." Dicky.
"Ayuk Ky." Reza.
Kita bertiga pun berjalan menuju parkiran.
★VIKA★
Saat ini aku sedang melewati lorong kelas. Aku berjalan menuju parkiran sendirian. Tiba-tiba saja ada tangan yang membekap mulutku dari belakang.
"Em.. Apa-apaan ini?" batinku.
Trus membawa aku mundur. Aku pun langsung injak kakinya dan menggigit tangannya. Sontak aku menghadap ke belakang. Aku ingin tau, siapa orang itu. Aku kaget bukan main saat melihat orangnya. Ternyata orang itu adalah Erik.
"Kak Erik." gak nyangka.
"Is lo Vik, sakit nih tangan ma kaki gue." ngibas-ngibasin tangannya.
"Kakak kenapa buat kayak gini tadi? Jangan nyalahin gue dong kak. Gue kan gak suka dibekap." kesalku.
"Maksudnya apa ya kak?"
"Kita setubuh sekarang juga. Gue bakalan nyari tempat yang aman buat kita ngelakuin itu. Lo tenang aja. Semua, udah gue atur."
"Gila. Kakak udah gak waras ya?"
"Gue masih waras kok Vik. Justru itu, karena gue masih waras, gue pingin itu ma lo. Gimana lo pasti mau kan?"
"Ogah ah, gue gak mau. Maaf kak. Itu tuh dosa besar. Sama aja kita berzina. Lagian, gue itu suka sama kak Leo. Gue gak mungkin buat kak Leo kecewa ma gue. Lebih baik ya nih kak? Kakak cari aja cewek lain. Jangan gue."
"Kenapa lo gak mau hah?" menatap tajam kepadaku.
"Karena gue bukan ******* kak. Maaf, silahkan kak Erik cari cewek lain aja."
"Oh. Tapi gue maunya sama elo Vik. Dan gue, gak mau ada kata penolakan. Lo ngerti?"
"Tapi gue gak mau kak. Lo jangan maksa gue. Lo gak berhak atas gue kak."
"Dah, gini aja, gue bakalan kasih apapun yang lo minta. Semuanya pasti gue turutin. Gimana Vik? Lo pasti mau kan?" tawarnya.
"Gue tetep gak mau kak. Harga diri itu gak bisa ditukar dengan barang ataupun uang. Inget tuh kak. Harga diri itu, jati diri seseorang."
"Oh, okey-okey kalau lo gak mau mah. Gpp, gue bisa kok maksa lo sekarang. Pumpung keadaannya sepi nih. Lagian, di sini gak ada orang Vik. Cuma kita berdua aja."
"Kakak jangan kurang ajar ya ma gue? Gue teriak nih sekarang juga."
"Teriak aja sana kalau bisa. Toh, udah gak ada orang juga."
__ADS_1
"KAAAKKKK YOOO, KAKKK ZAA, TOLONGIINN AKU..." teriakku.
★LEO★
Aku, Dicky, dan Reza berjalan ke parkiran. Saat kita berjalan di lorong kelas X. Tiba-tiba saja kita semua mendengar suara Vika teriak.
"Guys, lo denger kagak?" tanyaku.
"Iya Yo, gue denger." Reza.
"Sama, gue juga."
"Jangan-jangan adek kenapa-napa lagi." dugaanku.
"Ya udah, kita samperin Vika aja yuk. Suaranya sih dari depan kelas X IPA 3." Dicky.
"Ayok dah." aku.
Kita bertigapun berjalan pergi menuju tempat tersebut.
★VIKA★
"Mana tuh Leo ma Reza? Gak ada."
"Bentar lagi juga mereka kesini kok."
"PD amat lo. Gue yakin, mereka gak akan ke sini." berjalan mendekati Vika.
Aku pun berjalan mundur pelan-pelan.
"Kak Rik, STOP!"
"Gak mau. Gue gak mau berhenti."
Tiba-tiba saja aku menabrak dada Leo. Sontak aku langsung melihat belakang.
"Kak Yo."
"Iya adek sayang. Adek kenapa?"
Aku pun memeluk Leo erat sekali.
"Kakak, kak Erik jahat, dia ngancem adek kalau adek gak mau setubuh ma dia. Dia bakal perkosa adek."
Sontak Leo, Dicky, dan Reza kaget banget mendengar itu. Leo menenangkanku. Dengan cara memeluk dan mengelus rambutku. Sedangkan Dicky dan Reza langsung menangkap Erik.
"Gila ya lo Rik. Lo tega ama Vika. Gue gak nyangka." ucap Reza.
"Lo tuh jahat Rik." Dicky.
"Ah, Za, Ky, lo harusnya percaya ma gue. Kalian kan temen gue. Kenapa kalian lebih percaya Vika sih?"
"Karna Vika adek gue. Dan gue sebagai kakaknya gak terima adek gue diginikan." jawab Reza.
"Bener tuh." setuju Dicky.
"Dah, kita bawa aja Erik ke kantor polisi. Gue takut dia bertindak yang jauh lebih parah."
"Iya Yo." kata Dicky dan Reza kompak.
__ADS_1
Kita semua pun pergi ke kantor polisi. Untuk mencebloskan tindakan Erik yang kurang ajar ini.