
★DIO★
Aku dan Alex sampai rumahku. Kita duduk di sofa ruang tamuku.
"Sial, kita gagal." kataku.
"Iya Di, malah kita yang bonyok kaya gini."
"Dah, putus harapan kita buat nyetubuhi Vika."
"Ya, lo benar Di. Kita harus lupain masalah ini. Anggap aja gak ada."
"Iya. Gue bakal lupain Vika."
"Itu lebih baik."
★VIKA★
Aku gak bisa tidur. Karena aku terus-terusan kepikiran Fredi.
"Duh, gimana ya keadaan Fredi? Aku khawatir dia kenapa-napa. Kan dia jadi seperti ini gara-gara nyelametin aku."
Beberapa menit kemudia aku memutuskan sesuatu.
"Sudah ah, aku tidur saja. Besok aku baru jenguk Fredi di rumahnya. Aku harus istirahat. Biar kondisiku gak sakit."
Aku pun memejamkan mataku lalu tidur dengan nyenyaknya.
★
★
★
★
★
KEESOKAN HARINYA
★VIKA★
Aku ada di rumah Fredi. Aku habis mengobati lukanya.
"Fre, makasih banyak karna semalem lo udah nolongin gue."
"Iya Vik, sama-sama."
"Maaf juga, lo jadi begini gara-gara gue."
"Gpp kale Vik, santai aja."
"Iya."
"Oh ya Vik, gue kan semalem dah nyelametin lo. Sekaligus gue udah hajar mereka berdua hingga mereka kalah dan babak belur. Nah, gue boleh gak minta sesuatu sama lo?"
"Minta apa?"
"Gue pingin jadi pacar lo."
"Hah? Em.."
"Gimana?"
"Aku bingung harus jawab apa. Kalau iya, aku gak cinta. Kalau enggak, aku takut Fredi marah." batinku.
__ADS_1
"Jawab Vik."
"Em.. Maaf Fre, gue gak mau lo jadi pacar gue."
"Kenapa?"
"Karna, gue gak cinta sama elo."
"Cinta itu bisa datang kapan saja Vik."
"Tapi gue gak cinta sama elo Fre. Cinta itu gak bisa dipaksakan. So, jangan memaksa seseorang untuk mencintaimu."
"Hem... Lo tuh harusnya balas budi ma gue Vik. Dan lo, harus jadi pacar gue."
"Gue tau caranya balas budi Fre, tapi gak kayak gini juga dong. Masa iya gue harus nerima elo buat jadi pacar gue? Kan gue gak mau. Jangan maksa dong." kesal.
"Terserah apa kata lo. Sekarang gue tanya ma lo. Lo mau jadi musuh gue ato jadi pacar gue?" serius.
"Em.. Gue gak pilih dua-duanya Fre. Pilihan lo gak ada yang cocok buat gue pilih."
"Lo harus pilih."
"Oke kalo itu mau lo. Gue pilih jadi musuh lo."
"Okey. Lo bakal nyesel Vik karena dah nolak gue."
"Hm.."
"Ingat Vik, kalau gak karena gue. Lo udah diperkosa bareng-bareng. Lo tuh harusnya sadar Vik."
"Iya Fre, gue sadar. Makasih dah nyelametin gue waktu itu. Maafin gue, gue gak bisa balas budi ma lo. Gue gak bisa jadi pacar lo. Maafin gue Fre."
"Iya, jangan pernah lo temuin gue lagi Vik. Gue dah gak mau ketemu ma lo lagi."
"Dan ingat, mulai sekarang lo jangan hubungi gue lagi. Kita lost kontak."
"Iya Fre."
"Dah, sono lo pergi. Gak usah balik lagi."
"Tanpa lo suruh pun gue juga mau pergi dari sini. Dan inget kata gue ini. Lo bakal nyesel karena udah maksain gue buat jadi pacar lo. Lo bakal nyesel karena udah kayak gini ma gue."
"Ya ya ya, terserah lo."
"Okey."
Akupun pergi dari rumah Fredi. Aku pulang menuju rumahku. Sesampainya aku di rumah, langsung aku masuk kamar.
"Fredi, lo jahat banget ma gue. Gue tau gue berhutang budi ma lo. Tapi ya gak kayak gini. Gue gak bisa bohongi perasaan gue sendiri. Gue emang gak ada rasa cinta sama lo. Jadi, gue gak mau jadi pacar lo. Maafin gue Fre. Moga aja lo gak nyesel karena ini."
Aku pun tidur siang. Agar kondisi badanku fit. Dan karena aku juga lelah sekali saat ini. Beberapa menit kemudian, aku pun sudah ada di alam mimpi.
★FREDI★
"Gue jamin, lo bakal nyesel karena lo udah kayak gitu ma gue Vik." gumanku sambil memainkan kunci motor.
★VIKA★
Malam pun telah tiba. Aku sedang berada di kamarku. Aku duduk di ranjang sembari memeluk bantal. Aku membuka hp. Tiba-tiba saja aku membuka wa nya Leo. Aku melihat foto profilnya. Dimana Leo sedang mengekspresikan diri di kamera. Tiba-tiba saja aku pingin cerita ke dia. Aku pun mengirim chat.
***
Kak, bisa ke sini gak?
***
__ADS_1
Bisa Vik, tapi ada apa?
***
Pingin cerita aja sih kak.
***
Oh, tunggu bentar ya. Aku kesana sekarang.
***
Iya kak.
Akupun menunggu Leo datang ke sini.
★LEO★
Aku telah sampai di rumah Reza. Pas kebetulan, Reza di ruang tamu. Aku pun langsung masuk dan duduk di sofa. Reza melihatku.
"Eh, elo Yo. Ada apa nih ke sini?"
"Vika nyuruh gue ke sini Za. Katanya sih mau cerita gitu."
"Ciee... Kayaknya si Vika suka deh ma lo Yo."
"Ya, moga aja dah Za."
"Ya ya ya, kalo ampe lo jadian ma adek gue. PJ nya jangan lupa bro."
"Oke deh. Siap Za."
"Iya yo. Santuy."
"Mana nih adek lo Za?"
"Di kamar mungkin. Lo samperin aja sono. Gue mo ke kamar dengerin musik."
"Oh, oke dah."
Aku pun menuju kamar Vika. Sedangkan Reza masuk ke kamarnya.
★VIKA★
Ada suara dari balik pintu kamarku.
"Vik, Vika."
"Itu kan suara kak Leo. Pasti dia dah dateng." gumanku.
Akupun membuka pintu kamarku. Ternyata benar, Leo di depan pintu kamarku.
"Yuk duduk di ruang tengah Vik."
"Iya kak."
Akupun menutup pintu kamar lalu pergi duduk di ruang tengah. Kita berdua pun telah duduk di sofa ruang tengah. Leo duduk di sebelahku pas.
"Kamu mau cerita apa Vik?"
"Em. Tapi kakak janji dulu ya ma aku. Kalau kakak gak bakal ceritain cerita aku ke siapa-siapa."
"Em.. Iya dah Vik, aku janji gak bakal ceritain cerita kamu ke siapa-siapa tanpa seizin kamu."
"Em, jadi gini kak, aku punya temen cowok namnya Fredi. Dia temenku waktu aku TK. Nah, kemarin tuh kita ketemuan di taman jam 18.20 kak. Nah, kita cuma ngobrol biasa. Waktu udah jam 19.00 kita pulang. Kan aku dibonceng naik motornya. Pas di tengah jalan, Dio ma Alex ngehentikan kita. Nah, mereka bilang ke Fredi suruh nyerahin aku ke mereka buat diperkosa. Fredi gak mau, akhrnya Fredi pake cara berantem. Sapa yang menang berhak untukku. Awalnya aku marah ma Fredi, karena dijadiin taruhan. Tapi karena Fredi nyuruh aku saat berantem aku disuruh pergi naik motor. Aku akhirnya tau. kalau Fredi tuh baik. Akhirnya aku pulang. Nah, tadi pagi aku jenguk dia di rumahnya. Aku ngobati lukanya sambil minta maaf. Dia bilang aku harus mau jadi pacarnya untuk balas budi soal kemarin. Karena dia udah ngalahin Dio ma Alex. Aku gak mau, karena aku gak ada rasa cinta ma dia kak. Trus dia marah, aku juga kesal banget ma dia kak. Dia maksa banget ma aku kak."
__ADS_1