
"Em, iya dek, sakit banget."
"Maaf ya kak. Tadi adek tuh juga bingung. Kok tiba-tiba kak Erik minta kenalan trus ngasih minuman ke adek. Adek udah bilang gak usah. Tapi kak Erik maksa." nunduk.
Leo mengangkat daguku, lalu menyuruhku menatapnya. Aku pun menatap mata Leo.
"Dek, kakak udah tau. Kakak tau semuanya. Intinya aja ya dek. Kakak berharap banget adek gak buat kaka sedih."
"Iya kakak, adek ngertiin perasaan kakak kok. Adek gak bakal buat kakak sedih."
"Iya dek." mengelus rambutku.
Leo menyenderkanku di dadanya yang bidang.
"Adek sayang kakak."
"Kakak juga sayang adek."
Tiba-tiba saja Reza datang dari dalam kamarnya. Dia langsung duduk di sofa.
"Gue ganggu kalian gak nih?" tanya Reza.
"Ya enggaklah Za. Lo nggak ganggu kita kok. Iya kan dek?" tanya Leo padaku.
"Iya kak Yo."
"Eh iya, masalah kalian udah selesai?" tanya Reza.
"Udah Za." jawab Leo singkat.
"Syukurlah kalau gitu."
"Iya Za."
"Eh iya kak, hari minggu ntar. Kita renang yuk."
"Ayuk aja dek."
"Boleh juga tuh. Ayo deh."
"Asyikk..." senangku.
★
★
★
★
★
KEESOKAN HARINYA
★VIKA★
Aku sedang berada di dalam kelas bersama Steva dan Vio. Kita bertiga duduk sambil mengobrol bersama.
"Vik, lo gak kangen apa sama Dio?" tanya Vio kepadaku.
"Kangen?"
"Iya, kan lo dulu main sama Dio. Sekarang udah enggak. Jadi, apa lo gak kangen sama dia?" tanya Vio lagi.
"Oh, biasa aja lah Vi."
"Masa sih?" gak percaya.
"Iya Vioo.."
"Oh."
"Lagian, lo kenapa nanya kayak gitu sih Vi? Kan lo tau sendiri, kalau Vika itu udah punya pacar."
"Iya juga sih Stev. Ya, gue cuma nanya aja sih."
"Yakin lo cuma nanya aja? Lo gak ada maksud lain gitu?" tanya Steva pada Vio.
"Iya, gue cuma nanya aja kok."
__ADS_1
"Oh."
"Jangan jangan.. lo suka ya sama Dio Vi?" tanyaku pada Vio.
Vio langsung kaget mendengar pertanyaanku itu.
"Vi?" tanyaku pelan.
"Eh.. Em.." bingung harus jawab apa.
Dari jawaban Vio, gue tau kalau Vio itu suka sama Dio.
"Oh, lo suka sama Dio? Ngomong kek. Jujur aja kali, gpp kok." kataku.
"Yakin lo suka Dio Vi?" tanya Steva.
"Eh, iya guys, gue suka Dio. Tapi, itu dulu kok guys. Sekarang mah, gue gak suka dia lagi." jawab Vio.
"Loh, kenapa sekarang lo gak suka Dio?" tanyaku.
"Karna Dio gak suka gue Vik. Lagiankan, cinta itu gak harus memiliki. Gue mau mundur aja darinya. Lupain dia, dan cari yang lain. Yang lebih baik dari Dio."
"Oh." jawabku singkat.
"Lo bener dalam ambil keputusan Vik. Dio itu gak baik buat elo." kata Steva.
"Iya Stev."
★LEO★
Aku, Reza, dan Dicky sedang berkumpul di ruang tengah rumah Reza. Kita menonton TV.
"Za, adek gue mana?" tanyaku pada Reza.
"Ada tuh, di kamar."
"Ngapain dia di kamar Za?" tanyaku lagi.
"Lagi belajar Yo. Kenapa emangnya? Lo mau ganggu dia?"
"Oh, gpp sih Za. Gue cuma tanya aja. Gue gak bakal ganggu adek kok. Kan dia lagi belajar. Biar pinter kayak gue." senyumku.
"Enggaklah Ky, emang kenapa sih?"
"Lo aja kadang nyontek jawaban gue."
"Bener tuh kata Dicky. Kadang juga lo nyontek jawaban gue Yo."
"Ah, kayak lo pada gak gitu aja. Lo Ky, Za, kadang juga nyontek jawaban gue. Iya kan?"
"Iya sih." kata Dicky.
"Iya juga."
"Tuh, jadi kita impas lah." kataku enteng.
"Bukan impas Yo, tapi saling membantu." kata Reza.
"Ya lah ya lah. Terserah elo Za."
Tiba-tiba saja, Vika datang dari dalam kamarnya. Dia langsung duduk di sebelahku.
"Kakak ke sini kok gak ngomong adek sih?" melihatku.
"Ya maaf adekku sayang. Kan tadi adek lagi belajar. Kakak gak mau ganggu adek aja." mengelus rambutnya.
"Oh.."
"Eh guys, kita pergi sekarang yok?" kata Dicky.
"Pergi kemana Ky?" tanya Reza.
"Makan bakso kayaknya enak tuh." kata Dicky.
"Wihh, iya juga tuh Ky. Kayaknya enak sih." kataku.
"Boleh kak Ky. Kak Yo, ayo?"
"Iya adek, ayo."
__ADS_1
"Eh, tunggu dulu." ucap Dicky.
"Apa Ky?" tanya Reza.
"Lo yang bayar ya Za? Lo kan gak pernah tuh nraktir gue ma Leo. Iya gak Yo?"
"Nah, bener banget tuh kata Dicky. Lo yang nraktir ya Za?"
"Ah, lo semua gitu deh." kesal.
"Ayolah kak Za. Traktir gih. Aku juga pingin makan bakso nih."
"Iya dah iya. Gue traktir kalian makan bakso."
"Nah, gitu kek dari tadi." kata Dicky.
Kita semua pun pergi ke warung bakso.
★ERIK★
Aku sedang berjalan ke warung bakso di dekat rumahku. Sesampainya di sana, aku memesan bakso. Lalu menunggu baksonya datang. Aku duduk di salah satu kursi sambil memainkan hpku.
★VIKA★
Aku, Dicky, Leo, dan Reza sedang menunggu pesanan bakso datang.
"Kak, rame juga ya?"
"Iya Vik, rame."
"By the way, gue ambilin teh sosro 4 ya?" tanya Dicky.
"Okey deh Ky." kata Leo.
Sekitar lima menit kemudian, pesanan pun datang. Dan juga, Dicky telah mengambil minumannya. Kita semua pun makan bakso. Tapi, tak lama kemudian, ada seorang cowok yang ikut duduk di meja kita. Bahkan tanpa izin dulu.
"Eh, lo ngapain di sini?" tanya Reza.
"Suka-suka gue lah. Toh, ini warung juga bukan milik lo. Jadi, gue bebas duduk dimana aja." kata cowok tersebut di sebelahku.
Aku melihat cowok tersebut. Ternyata itu Erik.
"Astaga.. Kak Erik." batinku.
"Dek, kamu pindah tempat duduknya di tempat kakak." perintah Leo.
"Iya kak."
Aku dan Leo tukaran tempat duduk. Di sebelah kananku ada Leo. Dan di sebelah kiriku ada Dicky. Trus kita makan lagi.
"Vik, lo jangan deket-deket sama Leo. Dia itu gak baik." kata Erik.
"Eh, lo tuh kalau ngomong dijaga dong." mulai emosi.
"Sabar yo sabar. Jangan sampai lo terpancing emosi." kata Dicky.
"Bener tuh, dah, lo gak usah anggep Erik. Anggap aja gak ada." kata Reza.
"Kak Yo, jangan marah." kataku pelan.
Leo langsung melihatku.
"Iya adek. Kita lanjutin makannya ya?"
"Iya kak."
Kita semua pun melanjutkan makannya. Sekitar lima menit kemudian, kita semua udah selesai makan baksonya.
"Dah, yuk kita pulang. Udah malem nih." kata Reza.
"Ayuk kak Za."
"Gue anterin lo pulang ya Vik?" tawar Erik.
"Gak perlu, Vika pulang sama gue." jawab Leo.
"Yee, gue tanya Vika. Bukan elo." sewot abis.
"Kak Rik, gue pulang sama kak Leo sama kak Reza. Kakak pulang aja sana."
__ADS_1
"Tuh, lo denger sendiri kan? Lo disuruh pulang sama Vika." kata Reza.