
★
★
★
★
★
KEESOKAN HARINYA
★LEO★
Saat ini aku dan temanku sedang ada di kelas. Sekarang jam istirahat. Kita ngobrol di dalam kelas.
"Yo, gue pikir-pikir, lo makin deket ma Vika. Kapan nih lo nembak Dia?"
"Iya tuh Yo, cepetan tembak dia Yo, keburu Vika nya diambil orang." Reza.
"Iya juga sih guys. Gue takut aja kalo Vika gak cinta ma gue."
"Vika tuh cinta ma lo Yo. Lo gak inget kemarin? Dia ampe nangis gara-gara lo ngobrol ma Silla? Padahal Silla kemarin kan cuma ngebalikin buku yang dia pinjem ke lo." Dicky.
"Iya tuh Yo. Itu tuh bukti kalau Vika cinta ma lo. Dia cemburu Yo. Tunggu apa lagi sih Yo? Lo tembak adek gue secepatnya."
"Hem.. Iya juga sih guys, ya udahlah ntar gue tembak Vika."
"Nah, gitu kek dari tadi Yo." Dicky.
"Iya Ky."
"Moga sukses Yo. Gue dukung lo banget."
"Apalagi gue Yo, gue juga dukung lo banget buat nembak Vika." kata Dicky.
"Iya Za, Ky. Thanks atas dukungan lo pada ke gue."
"Masama." jawab Dicky dan Reza secara bersamaan.
★VIKA★
Aku tengah berada di kantin bersama temanku. Kita makan jajan sambil ngobrol.
"Vik, gimana hubungan lo ma kak Leo?" tanya Vio.
"Baik-baik aja kok Vi."
"By the way, soal kemarin gimana? Yang lo cemburu itu." tanya Steva.
"Udah kelar masalah itu Stev. Ternyata cewek itu namanya kak Silla. Dia temen kak Leo tapi beda kelas. Dia juga gak ada hubungan apa-apa sama kak Leo. Waktu yang gue lihat kemarin. Dia ngembalikin buku yang dipinjamnya gara-gara gak bawa buku itu. Trus karena kasihan kak Leo pinjemin deh bukunya. Gitu.."
"Owalah." kata Steva dan Vio kompak.
"Syukurlah kalo gitu Vik."
"Iya Vi. Gue jadi lega."
"Iya Vik."
"Lega karena kak Leo gak ada hubungan apa-apa sama kak Silla." sindir Steva.
"Hehehe. Iya Stev lo bener."
"Iyalah, Steva gitu lho."
"PD amat lo Stev." Vio.
"Emang. Haha."
"Iya dah iya." kataku.
★LEO★
Aku sedang ada di kamar rumahku. Melihat diriku sendiri dari cermin sembari menyisir rambutku.
"Aku harus bisa ngungkapin perasaan ini. Soalnya kalau lama-lama aku pendam. Aku gak bisa, karena takut juga kalau adek diambil orang." kataku.
__ADS_1
Selesai aku menyisir rambut. Aku pun pergi ke rumah Vika. Naik motorku.
★VIKA★
Hari ini aku lagi menonton TV di ruang tengah bersama Leo.
"Dek, kakak mau ngomong nih sama kamu."
"Ngomong apa kak? Silahkan."
"Kakak suka, sayang, dan cinta sama kamu dek. Kakak mau kamu jadi pacar kakak."
Aku diem. Leo menatap mataku.
"Adek mau kan jadi pacar kakak?"
"Em.. Gimana ya kak? Aku bingung."
"Gak usah bingung atuh dek. Dah gini aja, kakak kasih adek pertanyaan tapi adek harus jawab jujur. Adek gak boleh bohongin kakak. Gimana?"
"Em, apa hubungannya pertanyaan sama bingungku kak?"
"Ya.. Biar kakak bisa nyimpulin, adek tuh cinta gak sama kakak. Kalo cinta, berarti adek mau jadi pacar kakak. Kalo enggak, ya adek gak jadi pacar kakak. Ini tuh biar adek gak bingung."
"Oh. Iya deh kak." kataku.
"Okey, kakak mulai ya pertanyaannya?"
"Iya kak."
"Adek kalo di deket kakak gimana rasanya?"
"Nyaman kak."
"Adek kalo gak ketemu kakak gimana rasanya?"
"kangen kak."
"Adek kalo ngelihat kakak ngobrol sama cewek lain gimana rasanya?"
"Pingin marah."
"Sakit, pingin nangis."
"Nah, itu berarti adek cinta kakak."
"Masa sih kak itu namanya adek cinta kakak?"
"Iya adek, itu namanya adek cinta kakak."
"Oh, iya kak."
"Jadi?"
"Jadi apa kak?"
"Kita..."
"Kita kenapa kak?"
"Pacaran."
"Em, aku gak tau kak."
"Ya udah, kakak gak maksa adek buat ngakuin nya. Tapi yang jelas kakak mulai sekarang anggap adek sebagai pacar kakak."
"Tapi kan kak..."
"Gpp dek, kalo adek belum nganggap kakak pacar mah kakak gak maksa. Intinya adek cinta ma kakak. Cuma adek belum tau aja apa itu cinta."
"Oh, gitu ya kak? Jadi adek sekarang pacar kakak gitu?"
"Iya dek."
"Okelah."
"Makasih ya dek, kakak sayang sama adek." meluk aku.
__ADS_1
"Iya kak. Aku juga sayang kakak." meluk balik.
"Kakak janji bakal bahagiain adek. Apa pun yang adek mau kakak bakal kasih demi adek bahagia."
"Iya kakak, adek juga bakal lakuin apapun itu biar kakak bahagia ma adek."
Leo melepaskan pelukannya.
"Adek janji ya ma kakak, jangan pernah buat kakak sedih."
"Iya kakak adek janji gak bakal buat kakak sedih. Tapi kakak juga janji gak bakal buat adek sedih ya?"
"Iya adek, kakak janji gak bakal buat adek sedih kok."
"Bagus lah."
Mulai saat itulah aku dan Leo pacaran. Tiba-tiba saja Reza datang dari dalam kamarnya. Reza mendekati ku. Reza pun duduk di sofa.
"Ciee... Ada yang baru pacaran nih." sindir Reza.
"Hahaha, iya Za. Lo benar sekali."
"Enak dong. PJ nya Yo jangan lupa."
"Iya Za, gue gak lupa kok. Ntar lah gue kasih."
"Vik, sekarang Leo udah jadi pacar kamu. Jadi, kamu jangan sungkan-sungkan sama Leo."
"Iya kak Za."
"Trus, kalau ada masalah, cerita aja ke Leo."
"Iya kak. Tapi, kalau masalahnya sama kak Leo gimana kak?"
"Ya kamu cerita ke aku lah. Aku kan kakak kamu Vik. Kalau ada masalah sama Leo. Ya kamu harus cerita ke aku. Biar aku bisa bantu nyelesain masalah kamu sama Leo. Gitu aja kok tanya."
"Iya dah kak. Maaf lah."
"Iya dah Vik."
Leo merangkulku. Dia menaruh tangan kirinya di pundakku.
"Duilee.. Romantis amat lo Yo. Jadi pingin nih gue."
"Hahaha, makanya, buruan lo punya pacar. Biar bisa romantis-romantisan."
"Bener tuh kak Za."
"Ya gimana.. Orang jodohnya belum dikasih juga."
"Ya berarti elo harus sabar Za."
"Iya Yo. Dah tau gue mah kalau itu. Gak usah lo kasih tau juga gue dah tau."
"Hehehe, iya dah iya Za." senyum.
"Aku merasa nyaman sekali di dekat kak Leo. Hm.." batin Vika.
★LEO★
Aku tengah berbaring di kasurku. Sembari melihat ke langit-langit kamarku.
"Akhirnya, adek juga cinta ma aku. Aku lega rasanya kalau udah begini. Aku jadi merasa tenang dan gak khawatir kalau adekku diambil orang lain."
Tiba-tiba saja Dicky menelponku.
"Hei Yo, gimana? Lo udah nembak Vika?" tanyanya.
"Udah Ky."
"Terus, terus Yo?"
"Gue dan Vika pacaran Ky."
"Widih, selamet ya bro. Moga langgeng tuh hubungan elo ma Vika."
"Iya Ky, thanks atas do'anya."
__ADS_1
"Iya Yo."