
"Owalah..." kompak.
"Gue aja kalo jadi Vika ya pasti gue takut ma ancaman lo Za. Orang gak dikasih uang saku selama 1 hari aja gue dah gak kuat nahan beli sesuatu. Apalagi 1 bulan. Waduh..."
"Sama gue Ky. Gue juga kayak lo."
"Hahaha, iya guys. Makanya itu deh Vika ke sekolah juga. Ya, walaupun telat sih."
"Ampe dihukum pun dia mau aja." kataku.
"Iya Yo." Reza.
★ERIK★
Aku tengah berada di taman bersama temanku. Namanya Bayu.
"Em, Bay, gue rasa-rasa, gue suka deh ma Vika."
"Vika?" heran.
"Iya."
"Adeknya Reza tuh bukan Rik?"
"Iya Bay, Vika adeknya Reza."
"Gila, ya jangan dia lah Rik. Vika kan pacarnya Leo."
"Iya sih, tapi gue suka dia Bay."
"Mencintai seseorang itu tak harus memiliki orang itu. Ingat kata-kata gue Rik."
"Iya Bay, gue tau itu. Tapi kan gue juga gak salah kalo gue suka ma Vika. Rasa cinta itu datang tiba-tiba. Tak melihat status, fisik, sama materi. Yang ada hanya rasa suka, cinta, dan sayang. Semua rasa itu bercampur aduk menjadi satu. Jadi, gue gak bisa nolak rasa itu yang telah muncul di hati gue ini."
"Iya sih. Tapi kan Vika dah punya Leo Rik. Masa iya lo mau rebut Vika dari Leo? Ya gak lah ya. Lo kan temennya Leo. Masa iya lo tega sama Leo."
"Iya Bay. Tapi gue juga bakal perjuangin cinta gue ke Vika. Kalau dalam waktu dekat Vika gak jadi milik gue. Jangan salahin gue kalau gue rebut Vika dari Leo secara paksa."
"Rik, lo jangan kayak gini. Kasihan Leo kalo Vika lo rebut."
"Gak usah mikirin Leo Bay, Leo aja gak mikirin gue."
"Ya lo jangan nikung teman lah Rik. Gue yakin, kalo lo jujur ma Leo. Leo pasti mikir perasaan lo juga. Intinya, lo jangan rebut Vika Rik."
"Hem... Sebelum janur kuning melengkung. Gue akan terus usaha buat deketin plus dapetin Vika Bay. Lo dukung gue aja."
"Lo tuh cowok Rik. Lo pasti bisa ngertiin Leo. Coba kalau lo di posisi Leo. Pacarnya ditikung teman sendiri. Pasti lo kesel kan Rik. Gak terima. Dan pingin marah ma temen lo itu. Makanya, lo jangan kayak gitu. Gue mah cuma ngingetin aja Rik. Sesama teman kalau temannya salah pasti diingetin. Begitu juga sebaliknya."
"Hem, ya lo ngomong kayak gitu enak Bay. Lha gue? Gue yang ngalamin kayak gini mah sakit."
"Iya Rik, gue tau perasaan lo saat ini. Gue ngerti Rik. Tapi coba lo pikir Rik. Emang tega lo nikung Leo? Leo tuh temen kita Rik. Temen baik."
"Ya sih." mikir.
__ADS_1
"Kalau kita sayang sama seseorang, kita harus merelakan orang itu bersama orang lain jika itu membuat orang yang kita sayangi bahagia."
"Tapi sakit Bay kalo merelakan orang yang paling disayangi itu. Apalagi bahagianya dia bukan sama gue. Tapi sama Leo."
"Iya, gue tau kok Rik. Lo yang ikhlas aja. Semoga kelak lo dapet yang lebih dari Vika."
"Hem..."
★VIKA★
Saat aku berjalan ke kelas. Di lorong aku bertemu dengan Dio. Ku lihat dia, dia juga lihat aku. Kita pun tidak saling menyapa. Aku pun langsung pergi ke kelas.
"Dulu kamu itu teman baikku Di. Tapi sekarang, kamu MUSUHKU. Musuh yang ada hanya membawa luka. Aku kecewa ma kamu Di. Andai waktu itu kamu gak kayak gitu ma aku Di. Pasti kita masih bersama sekarang." batinku.
★DIO★
Aku duduk di bangku ku dalam kelas.
"Yah, diantara kita sekarang hanya ada kata MUSUH Vik. Aku gak nyangka banget kita bakal seperti ini. Coba aja dulu kamu mau aku ajak setubuh. Pasti kita bakal bersenang-senang setiap hari. Menikmati hubungan badan dimanapun dan kapanpun yang kita mau. Tapi sayangnya lo kayak gini. Gak mau, dan sok nolak. Padahal asal lo tau aja Vik. Hal terindah dan ternikmat dalam dunia ini itu hanya setubuh. Berhubungan badan sesama lawan jenis. Tak melihat status kita temen. Yang jelas sama-sama nikmat. Dan tentunya, kita lupain semua masalah kita yang ada. Dengan cara kita sendiri. Tapi itu hanya mimpi. Mimpi yang tak akan pernah menjadi kenyataan." batinku.
★
★
★
★
★
_______________
Siang hari yang begitu panas. Sehingga membuat semua orang sangat ingin membeli es untuk mengatasi kegerahannya. Apalangi hembusan angin, itu sangat dibutuhkan di cuaca yang seperti ini.
_______________
★ERIK★
Aku sedang duduk di kursi taman kelas sembari melihat Vika dan teman sekelasnya berolah raga. Mereka berolah raga basket di lapangan basket.
★VIKA★
"Anak-anak penilaian basket dah selesai. Waktunya kalian istirahat."
"Asyikkk...." ucap semuanya.
Semua anak pun bubar jalan ke tempat yang mereka tuju masing-masing.
"Vik, ke kantin yok."
"Iya tuh, ayok, gue haus banget nih." Vio.
"Gak ah, gue mau ke kelas aja. Kalian ke kantin sono."
__ADS_1
"Yakin nih?"
"Yakin Stev, udah, sono kalian ke kantin."
"Iya-iya." Vio.
"Kita duluan Vik."
"Iya."
Aku pun pergi ke kelas. Tapi di lorong, aku ketemu seseorang cowok. Dia menghentikan langkahku.
"Hey Vik, kenalin gue Erik." mengulurkan tangan.
"Oh, iya kak. Gue Vika." bersaliman tangan.
Kita pun melepas saliman tangan.
"Habis olah raga basket kan?"
"Iya kak."
"Pasti lo haus. Nih gue kasih lo minum." memberi minuman dingin Floridina padaku.
Aku sungkan, secara kan baru kenal. Aku pun diam. Bingung mau apa.
"Ambil aja Vik. Nih tadi gue beli di kantin kok."
"Hem..."
Erik menarik tangan kananku. Lalu memberi Floridina itu pada tanganku dengan tangannya.
"Dah, gpp kok Vik. Santai aja."
"Tapii..."
"Dah, gak usah tapi-tapi an. Minum cepat." suruhnya.
Aku ragu untuk minumnya.
"Gak usah malu kali Vik. Santai aja."
"Em, kak, gue bawa aja minumannya ke kelas. Gue capek mau istirahat di kelas."
"Oh, oke Vik. Tapi jangan lupa di minum lho."
"Hm.. Permisi kak, mau lewat."
"Iya Vik." memberi jalan.
Aku langsung pergi ke kelasku. Tanpa melihat cowok tadi.
"Aneh, tuh cowok kenapa ya? Perhatian amat ma aku. Padahal, kita baru saja kenal." kataku dalam hati.
__ADS_1
★LEO★
Aku dan Dicky telah melihat kejadian Vika dan Erik di lorong sekolah pinggir lapangan basket dari jarak yang rumayan dekat dari situ. Tapi kita masih bisa mendengar dengan jelas suara Erik dan Vika. Posisiku dan Dicky di belakang Vika. Saat mereka pergi Vika berjalan lurus. Sedangkan Erik belok kanan pergi ke kelasnya.