
Aku pun berdiri lalu pergi ke kamar Vika. Di depan pintunya aku mengetuk pintu.
Tokk... Tokk... Tokk...
"Vik, Vika.."
Terdengar suara dari dalam kamar.
"Iya kak, masuk aja, gak dikunci kok pintunya."
"Iya Vik."
Aku pun membuka pintu lalu masuk kamar dan menutup kembali pintunya. Aku berjalan ke ranjang dan duduk di ranjang melihat Vika. Vika yang tadinya rebahan langsung duduk.
"Vik, kamu kenapa kok gak keluar kamar? Kamu capek ya habis mantai sama Leo tadi sore?" tanyaku.
"Hem.. Iya kak, aku capek banget."
"Oh, pantesan. Aku perhatiin kamu dari sepulang mantai belum makan. Apa kamu gak laper Vik?"
"Ya laper sih kak. Tapi males pergi ke dapur."
"Kenapa gak nyuruh aku buat ambilin makanan aja sih Vik?"
"Takut ganggu kakak aja. Makanya deh aku gak nyuruh kakak buat ambilin aku makanan."
"Gak lah, kamu gak ganggu aku kok. Ya udah, bentar aku ambilin makanan dulu ya Vik?" berdiri.
"Iya kak."
Akupun pergi ke dapur mengambil makanan. Setelah itu aku balik ke kamar Vika. Aku menaruh makanannya di meja. Aku ambil piring yang sudah ada makanannya.
"Mau aku suapin atau makan sendiri Vik?"
"Suapin kak."
"Oke lah. Aaa..."
Vika membuka mulutnya. Aku langsung menyuapinya.
"Aem.. Nyam nyam nyam."
Aku menyuapi Vika hingga akhirnya Vika pun selesai makan. Aku mengambil minuman lalu memeberikan pada Vika.
"Minum Vik." suruhku.
Vika menerima gelas dariku lalu meminum airnya. Setelah selesai minum, Vika menaruh gelas tersebut di meja.
"Udah kenyang kan Vik?" tanyaku memastikan.
"Udah kak, makasih ya?"
"Iya Vik, sama-sama. By the way, tadi Vika seneng gak mantai nya?"
"Seneng banget kakak. Tapi sayangnya cuma sebentar." sedih.
"Gpp lah Vik, lain kali kita mantai bareng. Pas harinya libur jadi biar bisa lama di pantai."
"Serius kak Za?" semangat.
__ADS_1
"Iya Vika."
"Asyiikk... Makasih kak Za."
"Iya Vika, sama-sama. Dah, kamu istirahat sana. Biar besok badan kamu fit. Kan kamu lagi capek. Aku mau nonton TV dulu. Kalo ada apa-apa panggil aja aku."
"Iya kak Za, siap."
"Sip."
Aku pun membawa piring dan gelas ke dapur. Tak lupa aku menutup pintu kamar Vika. Setelah aku menaruh piring dan gelas Vika di wastafel. Aku pergi menonton TV ke ruang tengah.
Aku sedang rebahan di kasur ranjangku.
"Hem, soal kejadian aku sama Vika tadi di parkiran. Kok aku was-was ya? Takut kalau mereka bertiga ngelakuin lagi. Masalahnya ini udah ke dua kalinya mereka begitu. Aku pingin ngomong ma Reza ma Dicky. Tapi dah janji sama Vika buat gak cerita masalah itu. Tapi kalau aku gak cerita. Akunya yang khawatir. Bingung aku."
Beberapa detik kemudian aku mulai ngantuk.
"Hem.. Dah ngantuk. Aku tidur aja lah. Masalah itu, lihat aja ntar kayak gimana. Yang penting aku harus tidur. Jaga kesehatanku jangan sampai aku sakit."
Lagi di rumahku bersama Dio dan Alex.
"Tuh cowok siapa sih? Jago banget berantemnya. Ampe kita bertiga kalah."
"Dia Leo Fre, temennya Reza. Reza tuh kakaknya Vika." Alex.
"Iya Fre, bener banget tuh."
"Oh, trus kenapa mereka tadi pergi berdua? Apa mereka ada hubungan ya?"
"Gue gak tau Fre, setau gue, Leo ma Vika emang deket." Dio.
"Oh."
SATU BULAN KEMUDIAN
Aku tengah berjalan di koridor menuju kelasku. Aku habis dari toilet. Tiba-tiba Silla menghentikanku. Dia membawa buku paket ku. Dia beda kelas denganku. Tapi satu jurusan.
"Eh Yo, nih buku lo gue balikin. Makasih ya?" memberiku.
"Oh, iya Sill, masama." menerima bukunya.
"By the way, lo mau kemana?"
"Kelas Sill."
"Oh, ya udah gue cabut dulu mo ke kantin laper."
"Oh, silahkan Sill."
Silla pun pergi dan aku pun pergi ke kelasku. Kenapa bukuku ada di Silla? Karena saat itu dia lupa membawa buku paket. Akhirnya dia pinjem buku ku. Ya aku pinjeminlah. Kasihan sih dianya.
Aku tengah berjalan ke kantin untuk membeli minuman. Saat aku berjalan di koridor. Aku melihat Leo sedang mengobrol dengan cewek. Dan cewek itu memberi buku kepada Leo. Entah kenapa hati aku langsung sakit banget saat itu.
"Siapa cewek itu? Kenapa dia memberi buku pada kak Leo? Kenapa dengan diriku ini? Kenapa aku merasa sakit di hati dan pingin nangis." batinku.
Ku lihat cewek itu pun pergi. Begitu juga dengan Leo. Leo pergi juga. Mereka berlawanan arah. Tak terasa air mata ku menetes. Aku pun menghapusnya lalu berjalan menuju toilet cewek. Di sana aku masuk toilet lalu mengunci pintunya. Aku duduk memeluk lututku.
"Hiks,, hikss,, kenapa ini? Kenapa aku jadi gini. Hati aku sakit banget lihat tadi. Apa.. apa kak Leo berpacaran sama cewek tadi?"
__ADS_1
Aku pun menangis. Aku berusaha menenangkan diriku sendiri.
"Za, ntar kita kelompok dimana?" tanyaku.
"Hm.. Dimana ya?" mikir.
"Di rumah lo aja Yo." saran Dicky.
"Nah, bener banget tuh. Di rumah lo aja Yo."
"Oh, okelah. Ntar gue tunggu."
"Oke."
Aku memasuki kelas dengan mata yang masih berkaca-kaca. Aku langsung duduk di kursi bangkuku.
"Vik, lo habis nangis?" tanya Steva.
"Gak kok. Tadi gue kelilipan aja."
"Gak usah bohong Vik. Gue tau kok." kata Steva.
"Iya tuh, kita tuh temen lo Vik. Jadi jangan bohongi kita."
"Iya dah, gue habis nangis guys."
"Kenapa lo nangis Vik?" tanya Steva.
"Coba lo cerita ma kita. Sapa tau kita bisa bantu."
"Bener tuh kata Vio."
"Hem.. Tadi tuh kan gue hendak ke kantin. Nah, di jalan gue lihat kak Leo sama cewek ngobrol di koridor. Ceweknya ngasih buku ke kak Leo. Entah kenapa hati gue sakit saat itu."
"Hem.. Lo cemburu Vik sama Leo?"
"Hah? Cemburu Stev?"
"Iya lo cemburu Vika. Lo gak suka lihat kak Leo sama cewek lain selain lo."
"Dan itu namanya cemburu Vika." tambah Vio.
"Hem.. Gue gak tau guys. Dah ah, gue males bahas ini."
"Hem.. Oke lah Vik." Vio.
"Ya."
Saat aku hendak pergi ke rumah Leo. Aku melihat Vika di ruang tengah.
"Hm.. Seperti nya Vika habis nangis deh. Matanya bengkak tuh. Aku tanya aja ah." batinku.
Aku pun menghampiri Vika yang lagi duduk. Aku ikut duduk di sebelahnya.
"Vik, kamu kenapa?" tanyaku.
"Aku gak pa-pa kok kak."
"Jangan bohongi aku Vik. Aku tau kamu habis nangis. Ayolah cerita ma aku. Kamu kenapa?"
__ADS_1