Harga Diri Yang Tak Tergantikan

Harga Diri Yang Tak Tergantikan
Mantai bersama


__ADS_3






HARI MINGGU


★VIKA★


Aku lagi sedang mantai bersama Reza, Leo, dan Dicky. Kita sedang rebahan di kursi tidur pantai.


"Kak, enak ya mantai rame-rame? Malah makin seru." kataku.


"Iya Vik, kamu suka kan mantainya?" tanya Reza.


"Suka banget kak Za."


Dicky dan Leo duduk.


"Yo, beli es degan yuk. Haus nih." ajak Dicky.


"Ayok deh. Dek, kamu mau es degan kan?" tanya Leo padaku.


"Mau kak, aku mau es degan." kataku.


"Oke, kakak beliin."


"Woy Ky, gue nitip ma elo ya? Gue juga mau nih." Reza.


"Iya Za."


Dicky dan Leo pergi beli es degan. Aku di sini sama Reza. Menikmati suasana pantai yang indah. Tak lama kemudian, Dicky dan Leo datang. Mereka membawa es degan.


"Uh.. Seger nih kayaknya. Mana punya gue Ky?"


"Nih Za." memberi degan ke Reza.


Reza menerima degan itu. Lalu meminum nya.


"Adekk, bangun dulu ah. Jangan tidur." perintah Leo.


"Iya kak."


Aku duduk di sebelah Leo. Leo memberiku degan.


"Makasih ya kak."


"Masama adekku sayang."


Kita berempat minum es degan.


"Eh, foto kak." kataku.


"Oh iya, guys yuk kita foto bareng." ajak Leo.


"Ayok Yo." kata Reza.


Kita pun foto-foto bareng. Sampai ada banyak banget tuh fotonya. Foto yang sendiri-sendiri. Sama foto rame-rame. Tiba-tiba saja perutku berbunyi.


"Adek kenapa?"


"Hehehe, adek laper kak."


"Oh, ya udah kalau gitu, kita makan aja yok." ajak Leo.

__ADS_1


"Ayok deh." kata Reza.


"Yah, berarti kita udahan dong mantainya?" tanyaku.


"Ya iyalah dek. Kita udahan mantainya. Habis makan, kita langsung pulang." kata Leo.


"Kamu belum puas Vik mantainya? Kan kita udah dari tadi di sini." kata Reza.


"Iya tuh, tadi juga kamu udah jalan-jalan sama Leo. Foto bareng pula. Masa masih mau di sini sih?" tambah Dicky.


"Tadi kan adek juga udah buat rumah pasir dari tanah. Masa adek belum puas?"


"Iya dah iya kak. Aku dah puas kok. Makasih ya udah mau ke sini?"


"Iya, ya udah, yuk makan siang." kata Reza.


"Iya kak."


Kita berempatpun mencari warung makan. Lalu makan di sana.


★ERIK★


Aku melihat status di wa Leo.


"Gila, mereka berempat mantai lagi. Ah, sial banget sih. Tuh si Leo sama Vika kenapa makin deket aja sih? Jadi susah nih gue buat misahin mereka." kesalku.


Aku langsung berangkat pergi ke rumah Bayu. Sesampainya di sana, ada Bayu yang sedang berdiri di halaman rumahnya. Aku mematikan mesin motorku. Lalu menghampiri Bayu.


"Lo ngapain Bay?"


"Nunggu tukang bakso lewat Rik."


"Dah, mendingan lo dengerin gue cerita aja."


"Hm.. Ya deh."


Aku dan Bayu masuk ke dalam rumahnya. Kita duduk di sofa ruang tamu.


"Gini Bay, tadi itu di status wanya Leo. Dia lagi mantai sama Vika, Reza, dan Dicky."


"Lah terus?"


"Gue jadi bingung nih Bay. Harus pake cara apa buat misahin mereka. Gue gak mau Vika itu makin deket sama Leo. Gue maunya, Vika itu makin deket sama gue."


"Erik Erik, gak usah lo pisahin juga mereka berdua pasti udah deket. Udah, mendingan nih ya? Lo cari cewek lain aja. Kelar tuh urusan lo."


"Haduh, lo ini gak ngerti apa gimana sih? Gue kan maunya Vika itu yang deket sama gue."


"Ya gue tau Rik. Tapi mau gimana lagi hah? Vika udah jadi pacar Leo. Lo masih tetep juga buat misahin mereka? Jangan bodoh deh Rik."


"Gue gak bodoh Bay. Intinya, gue harus cari cara."


"Cara buat apa lagi sih Rik?"


"Yang pasti, buat Vika makin deket sama gue."


"Terserah elo dah."


"Lo gak ada ide kah?"


"Gak ada Rik. Lo sendiri?"


"Sama, gue juga gak ada ide. Nih pikiran gue gak bisa berpikir jernih buat cari ide."


"Lebih baik, lo sekarang tenangin diri lo. Lupain masalah lo. Lalu lo coba buat mikir." saran Bayu.


"Iya Bay, thanks."


"Ya."

__ADS_1


★LEO★


Aku, Vika, Dicky, dan Reza sedang berada di dalam mobil. Dicky yang nyetir. Reza duduk di depan. Aku dan Vika duduk di belakang.


"Seru kan mantainya?" tanya Reza.


"Seru banget kak Za."


"Eh iya, habis sampai rumah. Kamu langsung tidur aja Vik. Biar fres ntar setelah bangun." saran Dicky.


"Nah, bener banget tuh kata Dicky dek. Adek harus tidur, biar adek gak sakit."


"Iya kak Yo. Kalau sekarang boleh gak adek tidur?"


"Boleh lah dek. Sini kakak peluk. Adek tidurnya di pelukan kakak aja."


"Iya kak."


Vika sekarang ada di pelukkanku. Aku memeluknya, begitu juga dengan Vika.


"Ekhem... Ky, di belakang kayaknya ada yang romantis tuh." sindir Reza.


"Ah, biarin aja kali Za. Namanya juga lagi pacaran. Biasalah tuh."


"Napa Za, lo pingin kayak gue ma adek lo ini?" tanyaku.


"Eh, sapa juga yang pingin. Enggak kok Yo."


"Hallah, bilang aja lo pingin Za."


"Enggak Yo, gue gak pingin."


"Sstt.. Vika lagi tidur tuh, jangan berisik ah. Ntar ganggu dia lagi." kata Dicky.


"Iya Ky." kataku dan Reza bersamaan.


Aku mengelus rambut Vika. Lalu aku juga ikutan tidur kayak Vika.


★VIKA★


Aku terbangun dari tidurku. Aku melihat sekelilingku. Ada di kamar.


"Perasaan, aku tadi ada di mobil deh." gumanku.


Aku pun beranjak dari kasurku. Lalu aku keluar dari kamar menuju ke dapur. Di sana ada Reza yang lagi makan. Aku duduk di kursi.


"Kak, perasaan aku tadi di mobil deh. Kok aku bangun ada di kamar ya?"


"Oh, itu tadi Leo yang gendong kamu ke kamar. Habisnya, kamu tidur sih. Leo gak enak kalau banguninnya. Akhirnya Leo yang bawa kamu ke kamar deh."


"Oh.. Kak Leo baik banget ya kak? Aku jadi tambah sayang aja sama dia."


"Iya Vik. By the way, kamu habis bangun tidur kan?" tebak Reza.


"Hehehe, iya kak, kok tau?"


"Iyalah, orang kamu bau asem gini."


"Ah, masa sih kak aku bau asem?" gak percaya.


"Iya Vikaa.. Kamu itu bau asem."


Aku mencium bau badanku sendiri.


"Emang iya sih aku bau asem." batinku.


"Dah, sono kamu mandi dulu Vika. Biar wangi dan lebih fres. Lagian, ini udah sore banget tuh. Jam 17.00, cepetan mandi. Ntar keburu maghrib lho." perintah Reza.


"Iya kak. Aku mandi dulu aja deh. Kakak lanjutin aja makannya."

__ADS_1


"Iya, nih juga aku lagi lanjutin makanku."


Aku melihat Reza melanjutkan makannya. Lalu aku pergi ke kamar mandi untuk mandi sore.


__ADS_2