
Menu makan malam mereka adalah sup hangat, setelah menyelesaikan masakannya minhao mengambil mangkok dan meletakan sup itu ke dalamnya
Minhao menyerahkan mangkok berisi sup itu ke arah Bai Yuwen, mereka memakan sup hangat beratap langit berbintang dan beralaskan Padang rumput yang luas
Mereka berdua menikmati sup itu dengan hening tanpa pembicaraan sedikitpun, setelah menyelesaikan makan malamnya, mereka mencari posisi untuk tidur masing masing
Setelah membaringkan tubuhnya di bawah pohon yang cukup rindang, minhao segera memejamkan matanya menuju dunia mimpi
Tepat di pertengahan malam, minhao merasa perutnya sedikit sakit, ia segera berdiri dan mengedarkan pandanganya mencari semak semak untuk mengeluarkan isi perutnya tersebut
Namun pandanganya berhenti di sebuah batu cukup besar yang di atasnya terdapat sesosok wanita cantik tengah duduk seraya menatap langit yang penuh bintang
Minhao segera menghampiri wanita itu yang tidak lain adalah Bai Yuwen, minhao duduk di bawah dan bersandar pada batu besar tersebut yang diatasnya duduk Bai Yuwen yang masih menatap langit
Minhao mengangkat kepalanya dan ikut memandang langit berbintang yang cukup indah menurutnya.
"Apa kau menyukai puisi ?" Tanya Bai Yuwen tiba tiba tanpa menoleh ke arah minhao
Minhao segera memandang Bai Yuwen saat mendengar pertanyaan wanita tersebut, ia mengerutkan dahinya saat melihat wajah Bai Yuwen menggambarkan kesedihan yang mendalam
"Saya sedikit banyak mengerti tentang puisi, nona" jawab minhao seraya menoleh ke arah Bai Yuwen
**Angin yang berhembus di antara kita berdua
Membawa sepenggal rasa sepi dari suatu tempat
Langit setelah ia meneteskan air mata waktu itu Terlihat lebih mendung daripada sebelumnya
Kata-kata dari ibuku yang selalu terdengar lembut Hari itu entah kenapa terasa begitu hangat
Kebaikan, senyuman, cara berbicara tentang impian Semuanya tak kuketahui bahwa hari itu terakhir aku melihatnya
Lebih lama lagi, sedikit lebih lama lagi Bisakah kita bersama lebih lama lagi?
Minhao terpaku menatap Bai Yuwen, ia menyadari di puisi tersebut mengandung kesedihan yang begitu mendalam
Minhao memutar otaknya mencari cara agar dapat menghibur Bai Yuwen meski hanya sedikit, dan ia mencoba segera membalas puisi tersebut
**Telah kutemukan Suara yang sedih itu, Tak salah lagi, kesedihan itu adalah milikmu
__ADS_1
Sama seperti melepas kancing baju,
Hati dan tubuh manusia itu terpisah,
Sekali lagi, kejarlah hatimu
Tiupan angin menyampaikan padaku, untuk ikuti luka ini Sebelum aku runtuh oleh beban dunia
Ingatkah kau Langit penuh air mata itu? Luka itu telah memberimu perlindungan Karena luka itu akan selalu melindungimu
Semua (penderitaan), adalah untuk saat ini Aku yakin sedari awal kau sedah tahu Akulah yang takkan meninggalkanmu
Kucoba sadarkan dirimu, inilah tanda untukmu Bahwa luka itu ada untuk memberimu perlindungan
Kebaikan yang takkan menyakiti, lebih penting dari ketegaran untuk tidak terluka Maka kau tak perlu takutkan apapun lagi
Jangan lupa, alasanmu tersenyum karena aku selalu ada untukmu
"Nona, jangan membuat dirimu tertekan oleh kesedihan, jadikan luka itu sebagai kekuatan untuk bangkit, jika kau perlu sesuatu katakan saja, aku akan membatu sebisaku nona"
Setelah menyuarakan puisi itu, minhao mencoba menolehkan kepalanya berniat melihat reaksi Bai Yuwen
Namun tanpa sengaja pandangan mereka bertemu, kedua alis Bai Yuwen terangkat dan kedua pipinya juga basah di penuhi oleh air mata
Ia segera memalingkan wajahnya, dan bergumam dengan pelan mengucapkan "terimakasih" namun masih terdengar dengan jelas oleh minhao dan ditanggapinya dengan senyuman hangat
Setelah menghapus air mata di pipinya Bai Yuwen kembali menatap minhao seraya berkata
"Ternyata kau juga berbakat dalam puisi"
"Nona kau terlalu memuj...." Ucapan minhao terhenti seraya memegang perutnya
Ekspresi minhao yang semula tersenyum hangat, tiba tiba berubah mencekam, Bai Yuwen yang melihat itu sedikit khawatir
Minhao segera berdiri dan berlari meninggalkan Bai Yuwen seraya berteriak
"Nona, maaf lancang, saya ada panggilan alam dulu!!"
Wajah khawatir Bai Yuwen seketika membeku, beberapa detik kemudian urat kesal muncul di dahinya, ia menyadari bahwa kekhawatirannya terhadap minhao sia sia.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian minhao kembali dari aktivitasnya dan duduk kembali di posisinya tadi
Malam itu adalah pertama kalinya mereka berbicara layaknya orang normal, walau Bai Yuwen terlihat sangat ketus dan juga ada berbagai pertikaian kecil, namun jika ada orang didekat situ melihat pertengkaran meraka berdua, maka ia akan beranggapan bahwa mereka berdua adalah kakak beradik yang memiliki ikatan yang sangat mendalam dengan cara mereka sendiri
Bai Yuwen juga bersyukur karena di hari ulang tahunya itu ada seseorang yang mengerti kesedihan dan menyemangatinya walau orang itu tidak tahu bahwa hari ini ulang tahunya yang ke 18
-------------
Keeseokan harinya, mereka bangun sebelum cahaya mentari menyentuh wajah mereka
Minhao dan Bai Yuwen melanjutkan perjalanannya menuju ibukota dengan ilmu meringankan tubuh masing masing
Tanpa sadar mereka telah melakukan perjalan seharian, sebelum matahari terbenam Bai Yuwen dan minhao telah sampai di desa terdekat
"Desa sukawangi" gumam minhao yang berdiri di depan pintu masuk desa tersebut
"Iyha benar, seperti namanya, mayoritas penduduk di sini bekerja sebagai petani bunga, dan diolah menjadi wewangian lalu di jual ke desa dan kota terdekat" jelas Bai Yuwen
Saat mereka memasuki desa, Bai Yuwen seolah menyadari keanehan di desa tersebut, sedangkan minhao terlihat sangat antusias
"Hao, apa kau menyadari sesuatu ?" Tanya Bai Yuwen tiba tiba
Sedangkan minhao menoleh lalu mengangkat sebelah alisnya dan bergumam dalam hati
'sejak kapan dia memanggilku seolah sangat akrab begitu'
"Ayolah nona, aku baru pertama memasuki desa ini, keanehan apa yang anda maksud nona ?"
Bai Yuwen hanya berdesah kesal dan tidak menghiraukan pertanyaan minhao
"Sebaiknya kita mencari makan, lalu pergi ke penginapan, aku sudah bosan dengan masakanmu"
Minhao hanya diam dan mengikuti Bai Yuwen dari belakang, ia sedikit antusias melihat berbagai tanaman bunga di sepanjang jalan dan di setiap depan rumah penduduk
**bersambung.
__________
apakah para pembaca tau ? puisi di atas adalah lirik sebuah lagu, kalau ada yang tau tolong komentar yha,, hihihihi
__ADS_1
maaf kalau up nya lama, saya masih bocil dan harus banyak belajar, hiya hiya hiya......
intinya terimakasih banyak kawan udah mampir**