Heavenly Kultivation

Heavenly Kultivation
chapter 11


__ADS_3

Menu makan malam mereka adalah sup hangat, setelah menyelesaikan masakannya minhao mengambil mangkok dan meletakan sup itu ke dalamnya


Minhao menyerahkan mangkok berisi sup itu ke arah Bai Yuwen, mereka memakan sup hangat beratap langit berbintang dan beralaskan Padang rumput yang luas


Mereka berdua menikmati sup itu dengan hening tanpa pembicaraan sedikitpun, setelah menyelesaikan makan malamnya, mereka mencari posisi untuk tidur masing masing


Setelah membaringkan tubuhnya di bawah pohon yang cukup rindang, minhao segera memejamkan matanya menuju dunia mimpi


Tepat di pertengahan malam, minhao merasa perutnya sedikit sakit, ia segera berdiri dan mengedarkan pandanganya mencari semak semak untuk mengeluarkan isi perutnya tersebut


Namun pandanganya berhenti di sebuah batu cukup besar yang di atasnya terdapat sesosok wanita cantik tengah duduk seraya menatap langit yang penuh bintang


Minhao segera menghampiri wanita itu yang tidak lain adalah Bai Yuwen, minhao duduk di bawah dan bersandar pada batu besar tersebut yang diatasnya duduk Bai Yuwen yang masih menatap langit


Minhao mengangkat kepalanya dan ikut memandang langit berbintang yang cukup indah menurutnya.


"Apa kau menyukai puisi ?" Tanya Bai Yuwen tiba tiba tanpa menoleh ke arah minhao


Minhao segera memandang Bai Yuwen saat mendengar pertanyaan wanita tersebut, ia mengerutkan dahinya saat melihat wajah Bai Yuwen menggambarkan kesedihan yang mendalam


"Saya sedikit banyak mengerti tentang puisi, nona" jawab minhao seraya menoleh ke arah Bai Yuwen


**Angin yang berhembus di antara kita berdua


Membawa sepenggal rasa sepi dari suatu tempat


Langit setelah ia meneteskan air mata waktu itu Terlihat lebih mendung daripada sebelumnya


Kata-kata dari ibuku yang selalu terdengar lembut Hari itu entah kenapa terasa begitu hangat


Kebaikan, senyuman, cara berbicara tentang impian Semuanya tak kuketahui bahwa hari itu terakhir aku melihatnya


Lebih lama lagi, sedikit lebih lama lagi Bisakah kita bersama lebih lama lagi?


Minhao terpaku menatap Bai Yuwen, ia menyadari di puisi tersebut mengandung kesedihan yang begitu mendalam


Minhao memutar otaknya mencari cara agar dapat menghibur Bai Yuwen meski hanya sedikit, dan ia mencoba segera membalas puisi tersebut


**Telah kutemukan Suara yang sedih itu, Tak salah lagi, kesedihan itu adalah milikmu

__ADS_1


Sama seperti melepas kancing baju,


Hati dan tubuh manusia itu terpisah,


Sekali lagi, kejarlah hatimu


Tiupan angin menyampaikan padaku, untuk ikuti luka ini Sebelum aku runtuh oleh beban dunia


Ingatkah kau Langit penuh air mata itu? Luka itu telah memberimu perlindungan Karena luka itu akan selalu melindungimu


Semua (penderitaan), adalah untuk saat ini Aku yakin sedari awal kau sedah tahu Akulah yang takkan meninggalkanmu


Kucoba sadarkan dirimu, inilah tanda untukmu Bahwa luka itu ada untuk memberimu perlindungan


Kebaikan yang takkan menyakiti, lebih penting dari ketegaran untuk tidak terluka Maka kau tak perlu takutkan apapun lagi


Jangan lupa, alasanmu tersenyum karena aku selalu ada untukmu


"Nona, jangan membuat dirimu tertekan oleh kesedihan, jadikan luka itu sebagai kekuatan untuk bangkit, jika kau perlu sesuatu katakan saja, aku akan membatu sebisaku nona"


Setelah menyuarakan puisi itu, minhao mencoba menolehkan kepalanya berniat melihat reaksi Bai Yuwen


Namun tanpa sengaja pandangan mereka bertemu, kedua alis Bai Yuwen terangkat dan kedua pipinya juga basah di penuhi oleh air mata


Ia segera memalingkan wajahnya, dan bergumam dengan pelan mengucapkan "terimakasih" namun masih terdengar dengan jelas oleh minhao dan ditanggapinya dengan senyuman hangat


Setelah menghapus air mata di pipinya Bai Yuwen kembali menatap minhao seraya berkata


"Ternyata kau juga berbakat dalam puisi"


"Nona kau terlalu memuj...." Ucapan minhao terhenti seraya memegang perutnya


Ekspresi minhao yang semula tersenyum hangat, tiba tiba berubah mencekam, Bai Yuwen yang melihat itu sedikit khawatir


Minhao segera berdiri dan berlari meninggalkan Bai Yuwen seraya berteriak


"Nona, maaf lancang, saya ada panggilan alam dulu!!"


Wajah khawatir Bai Yuwen seketika membeku, beberapa detik kemudian urat kesal muncul di dahinya, ia menyadari bahwa kekhawatirannya terhadap minhao sia sia.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian minhao kembali dari aktivitasnya dan duduk kembali di posisinya tadi


Malam itu adalah pertama kalinya mereka berbicara layaknya orang normal, walau Bai Yuwen terlihat sangat ketus dan juga ada berbagai pertikaian kecil, namun jika ada orang didekat situ melihat pertengkaran meraka berdua, maka ia akan beranggapan bahwa mereka berdua adalah kakak beradik yang memiliki ikatan yang sangat mendalam dengan cara mereka sendiri


Bai Yuwen juga bersyukur karena di hari ulang tahunya itu ada seseorang yang mengerti kesedihan dan menyemangatinya walau orang itu tidak tahu bahwa hari ini ulang tahunya yang ke 18


-------------


Keeseokan harinya, mereka bangun sebelum cahaya mentari menyentuh wajah mereka


Minhao dan Bai Yuwen melanjutkan perjalanannya menuju ibukota dengan ilmu meringankan tubuh masing masing


Tanpa sadar mereka telah melakukan perjalan seharian, sebelum matahari terbenam Bai Yuwen dan minhao telah sampai di desa terdekat


"Desa sukawangi" gumam minhao yang berdiri di depan pintu masuk desa tersebut


"Iyha benar, seperti namanya, mayoritas penduduk di sini bekerja sebagai petani bunga, dan diolah menjadi wewangian lalu di jual ke desa dan kota terdekat" jelas Bai Yuwen


Saat mereka memasuki desa, Bai Yuwen seolah menyadari keanehan di desa tersebut, sedangkan minhao terlihat sangat antusias


"Hao, apa kau menyadari sesuatu ?" Tanya Bai Yuwen tiba tiba


Sedangkan minhao menoleh lalu mengangkat sebelah alisnya dan bergumam dalam hati


'sejak kapan dia memanggilku seolah sangat akrab begitu'


"Ayolah nona, aku baru pertama memasuki desa ini, keanehan apa yang anda maksud nona ?"


Bai Yuwen hanya berdesah kesal dan tidak menghiraukan pertanyaan minhao


"Sebaiknya kita mencari makan, lalu pergi ke penginapan, aku sudah bosan dengan masakanmu"


Minhao hanya diam dan mengikuti Bai Yuwen dari belakang, ia sedikit antusias melihat berbagai tanaman bunga di sepanjang jalan dan di setiap depan rumah penduduk


**bersambung.


__________


apakah para pembaca tau ? puisi di atas adalah lirik sebuah lagu, kalau ada yang tau tolong komentar yha,, hihihihi

__ADS_1


maaf kalau up nya lama, saya masih bocil dan harus banyak belajar, hiya hiya hiya......


intinya terimakasih banyak kawan udah mampir**


__ADS_2