Heavenly Kultivation

Heavenly Kultivation
chapter 6.


__ADS_3

"apa kau baik baik saja kakak cantik ?" tanya minhao sembari menyerahkan pedang perak milik wanita tersebut.


Wanita tersebut tertegun memandang paras bocah dihadapanya yang tampan menurutnya, bibir yang tipis, hidung mancung, dan ada sedikit bekas lebam di sudut bibirnya.


"Sepertinya, luka kakak cukup dalam" lanjut minhao sambil memegang lengan milik gadis itu, dan mengalirkan tenaga dalamnya yang berunsur elemen kayu, agar pendarahan pada luka di lengan wanita tersebut terhenti.


Sedangkan si wanita itu sedikit terkejut saat menerima perlakuan dari bocah di hadapanya.


Selang beberapa saat luka pada lengan wanita itu menutup sedikit demi sedikit.


"Masih ada bekas luka di lengan kakak"


"Tunggu disini sebentar" ucap minhao sambil menolehkan kepalanya ke berbagai arah.


Tidak jauh dari keduanya terdapat tanaman jeruk nipis dan lidah naga, minhao segera melangkahkan kakinya menuju tanaman tersebut, ia mengambil buah jeruk nipis dan beberapa helai daun lidah naga.


Sedangkan wanita itu hanya memperhatikan minhao dengan tatapan yang sulit di artikan.


Minhao memotong jeruk nipis tersebut dan memerasnya di atas daun yang cukup lebar, lalu minhao mengambil lendir dari daun lidah naga tersebut dan mencampurkannya dengan perasan jeruk nipis.


Minhao kembali ke wanita itu yang masih tertegun memandanginya yang tidak jauh dari posisinya berdiri.


"Mungkin ini dapat membantu menghilangkan bekas luka kakak" ucapnya Lalu meraih pergelangan wanita itu lagi seraya meletakan daun perasasan jeruk nipis dan lendir lidah naga itu ke bekas luka di lengan wanita tersebut.


Minhao merobek jubahnya sedikit panjang dan melilitkan sobekan jubah tersebut ke bekas luka di lengan wanita itu yang terdapat daun di atasnya yang ia tempelkan tadi. Ia melakukan semua itu dengan cukup telaten,


Beberapa menit kemudian, luka di lengan wanita itu terobati dengan cukup rapi. Setelah melakukan semua itu minhao bertanya kepada si wanita tersebut.


"Apa kakak cantik mau pergi ke kota Jeonju ?"


Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya ringan


"Kenapa kakak tidak memutari hutan ini saja ?"


"Aku hanya memilih jalur tercepat menuju kota itu" balas wanita tersebut cukup dingin.


Minhao hanya manggut manggut dan mengangkat sedikit kepalanya memandang langit.


"Sepertinya matahari akan segera memancarkan sinarnya"

__ADS_1


"Terimakasih" kata wanita itu tiba tiba


Minhao hanya menganggukkan kepalanya ringan dan beranjak dari tempatnya. Lalu ia mendekati beberapa mayat binatang iblis di sekitar mereka


"Kakak cantik, apakah aku boleh meminta sedikit darah bintang iblis ini ?"


Wanita itu menganggukkan kepalanya dan dengan cepat minhao segera mengambil botol kecil di dalam jubahnya lalu memasukan darah binatang iblis itu ke dalam botol miliknya.


"Panggil aku kakak Yuwen saja"


"kau juga boleh mengambil Cristal inti binatang iblis itu"


"Dan Siapa kau sebenarnya ?" Tanya wanita itu seraya menyipitkan matanya.


Minhao hanya terkekeh kecil mendengar pertanyaan tersebut.


"Aku bukan siapa siapa, aku hanya pelayan pribadi salah satu tetua di Bai Clan"


"dan aku tidak membutuhkan inti Cristal ini, kakak bisa mengambil semua nya" jawabnya sambil meletakan jari telunjuk di atas alisnya.


"Selamat tinggal". Kata minhao sebelum menghilang dari hadapan wanita itu.


Wanita itu hanya termenung mendengar kata Bai Clan dari minhao. Ia kagum dengan teknik gerakan beladiri minhao dan mengingat saat minhao mengalahkan 6 serigala binatang iblis tingkat 3 begitu cepat.


"Tidak mungkin Bai Clan memiliki pelayan sehebat itu, apalagi kelihatanya ia lebih muda dariku beberapa tahun" gumam wanita itu seraya tersenyum kecil, ia tidak ingat kapan ia tersenyum penuh ketertarikan seperti ini.


' mungkin kita segera bertemu lagi bocah kecil ' batin wanita itu seraya menyilangkan kakinya untuk memulihkan tenaga dalam dan segera melanjutkan perjalanannya.


---------


Minhao kembali muncul di dalam kamarnya, wajahnya sedikit pucat karena kelelahan. ia belum terbiasa menggunakan formasi teleportation secara terus menerus, karena ia belum menembus ranah murid beladiri


"Fiuhh,,, sungguh melelahkan, wanita itu sedikit seram dengan tatapan yang dingin itu"


"Tapi dia cukup cantik dan manis, namun bukan seleraku, seleraku adalah wanita 23 tahun dan berdada besar, bukan seperti dia yang berdada rata.." ucap nya terkekeh geli sembari mengingat penampilan wanita itu, walau ia terlihat seperti bocah 12 tahun tetapi jiwanya adalah seorang dewasa yang sudah kepala tiga.


Minhao menghela nafas pelan, ia baru sadar tenaga dalamnya terkuras habis saat melakukan teleportasi dan beberapa jurus yang terdapat di ringkasan kultivator.


"Sebaiknya aku segera mencari lokasi yang cocok untuk menerobos ranah kultivasi tingkat murid beladiri"

__ADS_1


"Aku hanya melakukan beberapa jurus, dan tenaga dalam ku terkuras habis tak tersisa" ucapnya seraya menghela nafas kasar.


Minhao segera melepas perlengkapannya dan meletakan semua itu kedalam kotak yang ada di bawah tempat tidur. ia juga tidak lupa mengeluarkan botol kecil berisi darah binatang iblis itu dan meletakannya ke dalam kotak tersebut.


Minhao segera merubah penampilannya menjadi seperti biasa, ia segera pergi ke kediaman tetua Lin untuk melakukan tugasnya sebagai pelayan.


di sepanjang perjalan minhao hanya melihat para pelayan lalu lalang mengerjakan tugasnya masing masing, ia sedikit senang karena tidak di ganggu para tuan muda yang sombong itu.


"sepertinya, para berandalan itu masih tertidur di kamarnya" gumam minhao senang seraya melanjutkan langkahnya.


Tak lama kemudian minhao sampai di kediaman tetua Lin, ia melihat tetua Lin keluar dari rumahnya hendak melangkahkan kakinya pergi.


Minhao segera menghampiri pria paruh baya tersebut.


"Tetua Lin, apakah anda sudah sarapan ?" Tanya minhao


"Kau tak perlu membuatkan ku sarapan, bereskan saja rumahku seperti biasanya, jika kau lapar, kau bisa masak untukmu sendiri"


"Anda mau kemana pagi buta begini?"


"Entahlah, Aku tidak tau.. ketua Clan menyuruhku ke kediaman utama Bai Clan" jawab tetua Lin dan hendak melangkahkan kakinya pergi.


"Tunggu tetua Lin, boleh kah aku membaca buku di ruang kerja anda ?" Tanya minhao sedikit Gugub.


Tetua Lin mengangkat salah satu alisnya mendengar pertanyaan minhao, sedangkan minhao tau arti ekspresi tetua Lin tersebut.


"Aku hanya ingin membaca buku disana, sepertinya di perpustakaan milik keluarga Bai tidak dapat dimasuki sembarang orang." Jelas minhao sambil menundukkan kepalanya.


Tetua Lin merasa iba kepada bocah di hadapanya dan mengizinkan minhao membaca di ruang kerjanya dengan satu syarat.


"Kau boleh membaca di ruangan itu, tapi ingat !!! Jangan menyentuh benda apapun di meja kerjaku " jawab tetua Lin


Minhao yang mendengar itu, langsung menjadi antusias dan menganggukkan kepalanya cepat.


"Baiklah aku pergi dulu"


Minhao melihat punggung pria di hadapanya sampai tidak terlihat, setelah itu ia segera masuk di kediaman tetua Lin untuk membersihkan rumahnya seperti biasa.


bersambung.

__ADS_1


__________


like + coment, dan jangan lupa beri saran agar kedepanya novel ini tambah berkualitas.


__ADS_2