
cukup jauh dari posisi pertarungan tersebut, tepatnya di salah satu pohon yang cukup tinggi, terlihat sesosok berjubah hitam dengan tudung di kepalanya memperhatikan pertarungan Minhao dengan teliti
"apa itu tadi ?, apakah dia menguasai teknik akupuntur juga ?"
"tabib terkenal pun jarang ada yang bisa menguasai teknik akupuntur"
"hahahaha, tidak salah nona Bai menjadi murid suci sekte phoenix emas, dia bahkan bisa mengenal bocah yang sangat menjanjikan seperti ini" ucapnya lalu kembali memperhatikan dari jauh
-----------
' berhasil dalam sekali coba, mungkin aku cukup berbakat di bidang alchemis hahaha.'
' aku harus mempelajari kitab seribu racun lebih mendalam, jika tidak, akan sia-sia bakat ku ' batin Minhao dengan penuh kesombongan
Minhao tersenyum penuh arti dengan pria yang tergeletak tak berdaya dihadapanya, ia lalu menoleh kearah Bai Yuwen seraya bertanya
"nona Bai, bagaimana kita mengurus pria bertopeng ini ??"
"terserah kau saja" balas Bai Yuwen santai
lalu Bai yuwen berjalan kearah salah satu pohon berniat mengistirahatkan badannya sejenak dengan meletakan pedang perak miliknya di samping tempat duduknya.
sedangkan Minhao kembali menatap pria bertopeng dihadapanya, lalu melangkah mendekat dengan senyum devil nya
"a, apa yang kau lakukan, jangan lecehkan tubuh perjakaku !!" teriak pria bertopeng tersebut
Minhao meraba setiap lekuk tubuh pria tersebut berniat mencari sesuatu, cukup lama ia mencari namun tak kunjung menemukannya
"cih kenapa kau begitu miskin ??"
"bukan dia yang miskin, tapi kau yang terlalu bodoh" sahut Bai Yuwen seraya mengangkat tangan kiri dan menunjuk cincin yang ada di jari manisnya
Minhao menoleh ke arah Bai Yuwen dengan memiringkan kepalanya berfikir sejenak, dan beberapa saat kemudian ia tersenyum antusias dan kembali menatap pria bertopeng dengan tatapan yang ia arahkan ke jari pria tersebut
"ap, apa yang kau lakukan ?, jangan !!!" pria tersebut hanya menjerit tak berdaya saat Harta benda miliknya di rampok oleh Minhao
__ADS_1
Minhao memeriksa isi cincin ruang di tangannya, terdapat berbagai sumber daya dan cukup banyak koin emas di dalamnya, namun ia menghiraukan hal tersebut
cukup lama Minhao mencari, akhirnya ia menemukan benda yang ia inginkan, ia segera mengeluarkan benda tersebut yang tidak lain adalah dua bilah pisau kecil berwarna hitam dan putih
Minhao tersenyum senang lalu memasukkannya kembali ke cincin ruang miliknya, ia menoleh kearah Bai Yuwen lalu berjalan mendekatinya dan memberikan cincin milik pria bertopeng itu ke Bai Yuwen
"kenapa kau memberikan nya padaku ?" tanya Bai Yuwen bingung
"aku sudah mengambil bagian ku, sisanya untuk nona" balas Minhao
"baiklah, mari kita lanjutkan perjalanan" kata Bai Yuwen seraya berdiri
Minhao hanya mengangguk dan mengikuti Bai Yuwen dari belakang, keduanya meninggalkan pria bertopeng yang masih menjerit jerit tak berdaya
"oy oy oy, sialan bagaimana denganku !!!" teriak pria bertopeng
"tenang saja, dua sampai tiga jam tubuhmu akan kembali normal, berdoalah agar hewan iblis tak tertarik dengan daging mu, xixixixixi" balas Minhao santai dengan tawa yang sedikit menyeramkan
keduanya melanjutkan perjalanan, sedangkan Minhao terlihat masih memikirkan sesuatu, ia bingung bagaimana ia merangkai kata-kata untuk berpamitan dengan Bai Yuwen
"ada apa ?" tanya Bai Yuwen
"anu nona,, sebenarnya.."
belum sempat Minhao melanjutkan, perkataanya segera di potong oleh Bai Yuwen
"baiklah-baiklah, aku paham, kau ingin mencari pengalaman di dunia luar bukan ?" tanya Bai Yuwen seraya mendekat
"bawalah ini, kau juga belum memiliki senjata yang cocok untukmu kan" lanjutnya seraya menyerahkan pedang perak miliknya
"tapi nona, ini kan...."
"kau akan membutuhkannya, berjanjilah padaku kau akan menemui ku setahun lagi"
Minhao terlihat termenung sejenak, ia melihat pedang perak di tangan kanannya, tak lama kemudian ia menggenggam pedang itu dengan erat seraya menatap Bai Yuwen.
__ADS_1
"baiklah nona, aku berjanji setahun ke depan aku akan pergi ke sekte phoenix emas untuk mengembalikan pedang perak milikmu, dan ku pastikan saat itu aku pasti jauh lebih hebat darimu" jawab Minhao dengan tatapan penuh percaya diri seraya menggenggam erat pedang perak di tangan nya
"baiklah, ku pegang kata-katamu" balas Bai Yuwen singkat seraya beranjak pergi meninggalkan Minhao
sedangkan Minhao masih terdiam, terlihat dari kedua matanya yang penuh semangat dan tekat tinggi melihat Bai Yuwen yang perlahan menghilang dari pandangannya.
setelah hal itu, Minhao mengeluarkan sebuah peta dari cincin ruang miliknya, peta tersebut ia salin dari ruang kerja tetua Lin dulu
peta itu berisi berbagai tempat-tempat terlarang yang ada di kekaisaran Ming, namun satu tempat yang membuatnya tertarik yaitu danau iblis
---------
tepat dua Minggu Minhao berpisah dengan Bai Yuwen, ia melakukan perjalanan menuju ke danau iblis
dalam perjalanannya Minhao tak menemukan halangan apapun karena setiap ada halangan atau bertemu bandit dan perampok, ia selalu menghindar menggunakan teknik teleportation miliknya
Minhao berdiri di tepi danau yang terlihat remang-remang karena tertutup kabut yang cukup tebal, bahkan sebrang danau tersebut tak terlihat sama sekali
"apakah ini yang dinamakan danau iblis ?" kata Minhao seraya melihat kembali peta ditangan nya
setiap kultivator dan praktisi di daratan tengah mengetahui bahwa di setiap tempat-tempat terlarang menyimpan begitu banyak rahasia dan sumber daya yang berlimpah
namun walau begitu, para kultivator harus berfikir dua kali untuk mendapatkannya karena di tempat-tempat terlarang juga di huni berbagai hewan iblis dan siluman tingkat tinggi, bahkan raja beladiri harus berhati-hati jika memasukinya
berbeda dengan Minhao, ia sangat tertarik dengan danau iblis karena tepat di tengah-tengah danau tersebut Minhao merasakan energy yang familiar baginya
Minhao menarik nafasnya dalam dan mengeluarkan secara perlahan, ia memantapkan hatinya untuk masuk ke tempat tersebut, Minhao memusatkan tenaga dalam miliknya yang berelemen air di telapak kakinya berniat agar bisa berjalan di atas air
setelah semua persiapan selesai dan dirinya merasa yakin, ia mulai melangkah ke arah danau tersebut, namun hal yang tak terduga terjadi
saat telapak kaki milik Minhao menyentuh permukaan danau, tiba-tiba kabut di sekelilingnya menyingkir seperti memberi jalan untuknya seolah ingin membawanya ke suatu tempat
' apakah ini yang dimaksud tabib xiao, bahwa ada seseorang yang sedang menungguku ' batinnya penuh tanya
Minhao menepis keraguan di hatinya, dan kembali memantapkan tekadnya, ia berjalan ke depan dengan tatapan tajam penuh semangat
__ADS_1
bersambung.