Heavenly Kultivation

Heavenly Kultivation
chapter 1.


__ADS_3

•Di wilayah kekaisaran Ming, kota Jeonju, Bai clan•


Suatu hari, disiang nan cerah dan berawan, tepatnya, Di sebuah halaman belakang rumah utama Bai clan terdapat berbagai kamar kecil untuk para pelayan. Suasana ditempat tersebut sangat sepi karena masih waktunya jam kerja, sebab waktu hampir menunjukan jam makan siang, para pelayan sibuk menyiapkan makanan di dapur.


Namun tidak dengan salah satu kamar pelayan yang berada di ujung halaman belakang tersebut. Di ruangan itu terdapat seorang anak kecil berusia 12 tahun, ia sedang terbaring lemah di atas kasur kecil di ruangan tersebut. Kondisinya sedikit mengenaskan, terdapat berbagai luka lebam di seluruh area wajahnya. Namun tidak mengurangi ketampanan dan kharismanya, walau hanya sebagai pelayan..


"Ugh..." Gumamnya sambil memegang kepalanya yang sedikit sakit. Ia membuka matanya perlahan dan mengubah posisinya dari tidur menjadi duduk.


"Dimana ini !" Ucapnya sambil menolehkan kepalanya panik ke berbagai arah.


"Bukanya aku tadi ada diruang kerjaku ?" Ucap minhao sambil memegang kepalanya yang sedikit pusing.


"Tunggu,,, apa yang terjadi ?" Ucapnya bingung sambil mengulurkan kedua tangan mungilnya ke depan.


"Mengapa tanganku mengecil seperti ini, bukany...."


BRAK!!!


belum sempat melanjutkan perkataanya. Pintu kamar minhao terbuka dengan kasar sembari masuknya seorang bocah seumuran dengan minhao.


"minhao!!" teriak bocah tersebut.


Dengan wajah sengitnya, bocah tersebut berjalan mendekat ke minhao sembari berkata sambil berkacak pinggang. " Apa yang terjadi denganmu ??, Apa kau di hajar oleh para berandalan sombong itu ??, Dan mengapa kau tak memberitahuku ??" Bentaknya yang masih dengan posisi tangan di pinggang sambil mendekatkan wajahnya ke wajah minhao.


Sedangkan minhao, yang disuguhi pertanyaan bertubi tubi dari bocah dihadapanya itu, ia terlihat masih bingung dengan situasi tersebut. Di saat minhao sedang berfikir, tiba tiba kepalanya terasa begitu sakit, sontak minhao memegang kepalanya dengan sangat kuat.


"Apa yang terjadi denganmu ??" Ucap bocah tersebut sembari mendekat kearah minhao dan memegang kedua pundaknya dengan khawatir.


"Hey, hey," ucapnya lagi sambil menggoyang goyangkan pundak minhao.


Keringat dingin mengalir deras di dahi minhao, disaat ingatan seseorang memasuki fikirannya.


'Siall, ingatan siapa ini yang memasuki fikiranku' umpat minhao di dalam hati.


Selang beberapa saat minhao perlahan melepaskan tangan mungilnya dari kepalanya. Nafas minhao tersenggal sembari menatap bocah di hadapanya yang sedang menatap minhao khawatir.

__ADS_1


"Aku baik baik saja haocun" kata minhao kepada bocah dihadapanya.


'aku ingat sekarang, dia adalah haucun sahabat dan saudaraku satu satunya.' batin minhao.


'eehh tunggu dia bukan sahabatku, maksudku dia sahabat si minhao di dunia ini, sebentar bukankah aku juga minhao'


'arrgh... sialan.. siapa aku sebenarnya' batin minhao sambil mengacak ngacak rambutnya frustasi.


"minhao ?" panggil haocun lembut.


"eh ? eh, iyha ada apa ?" balas minhao sambil tersenyum canggung.


"apakah kau baik baik saja ? wajahmu sedikit pucat, apa kau sakit ?" tanya haocun lagi.


"ehh, begitukah ?, aku baik baik saja, hanya sedikit pusing, mungkin dengan tidur siang badanku akan membaik" jawab Minhao sembari membaringkan tubuhnya kembali di kasur kecilnya.


"hmm.. baiklah, beristirahatlah yang banyak aku akan menemui guruku dulu" ucap haocun lambut, sedangkan minhao hanya membalas dengan anggukan saja.


haocun segera beranjak dari tempatnya dan menuju ke pintu keluar kamar minhao. namun sesampainya haocun di depan pintu, ia menghentikan langkahnya dan berkata pelan kepada minhao tanpa menoleh "minhao, kau adalah satu satunya keluarga dan saudaraku, dan aku akan melindungimu apapun resikonya, jadi jika kau ada masalah, ceritakanlah kepadaku aku akan membantumu".


hanya tinggal minhao di ruangan tersebut. minhao hanya diam tidak menanggapi perkataan haocun tersebu. tanpa ia sadari, ada buliran bening menetes dari sudut matanya.


******


5 tahun lalu


didekat perbatasan antara kekaisaran Ming dan kekaisaran wei terdapat sebuah desa kecil bernama desa Daiyang. mayoritas penduduk desa tersebut bekerja sebagai petani dan pemburu.


minhao dan haocun telah mengenal satu sama lain sejak mereka mulai belajar berbicara. karena tempat tinggal mereka bersebelahan, bahkan keluarga minhao dan haocun sempat menjodohkan keduanya jika mereka terlahir menjadi perempuan dan laki laki.


namun takdir berkata lain, mereka dilahirkan menjadi kedua pria yang tampan nan menawan. walau begitu hubungan kedua keluarga tersebut tetap harmonis dan tentram. sampai mereka berusia tujuh tahun.


pagi itu, minhao dan haocun lagi bersantai di bawah pohon di dekat rumah mereka. sembari menikmati udara yang segar dan angin semilir menerpa lembut wajah keduanya. mereka mengobrol bersama sesekali mereka tertawa terbahak jika menurut mereka itu suatu yang lucu.


"hei, haocun bagai mana kalau agenda kita hari ini berburu ke hutan" ucap minhao semangat.

__ADS_1


"bukankah kita dilarang pergi kehutan, oleh kedua orang tua kita, itu juga dilarang gara2 kamu, sok sok.an naik pohon, akhirnya juga jatuh." balas haocun malas.


"hehehe, yha maaf, itu juga aku naik pohon, gara gara burung yang kamu panah itu, jatuhnya pas nyangkut." balas minhao sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"hei bodoh, bukan hanya itu saja kita di larang kehutan, apa kau lupa di hutan itu juga ada berbagai binatang iblis di dalamnya." kata haocun


"tenang aja, kita hanya menyusuri area pinggiran hutan saja. ayo cepat ambil panahmu" ucap minhao sembari beranjak mengambil panahnya.


-------


minhao dan haocun menyusuri wilayah pinggiran hutan dengan sedikit kesal, karena meraka dari pagi hingga siang cuma mendapatkan 1 kelinci yang sedikit kurus.


"sialan,, ini kelinci apa tikus sih ?" gerutu minhao sambil mengangkat kelinci tersebut kedepan wajahnya.


sedangkan haocun tidak menanggapi ocehan sahabatnya itu. ia memilih mengamati daerah sekitarnya dengan hati hati.


"kita lanjutkan saja sampai sore, siapa tau kita menemukan ayam hutan dan beberapa burung" ucap haocun setelah beberapa saat mendengar ocehan minhao.


minhao hanya menganggukkan kepalanya sambil menunjukan jempol mungil ditangannya.


mereka berdua masih manyusuri hutan sampai langit sedikit bewarna orange. karena hari sudah mulai gelap, keduanya menghentikan perburuan mereka walau hasil buruan keduanya tidak memuaskan, mereka hanya mendapatkan 1 kelinci kurus dan 1 ayam hutan.


"mungkin hari ini, bukan hari keberuntungan kita" ucap minhao sambil mengangkat kelinci kurusnya dan menghela nafas kasar.


"itu kan bagimu, bagiku sudah lumayan" ejek haocun sembari menunjukan ayam hutan ke arah minhao.


"sialan kau" teriak minhao ke arah haocun.


namun haocun tidak menghiraukan teriakan sahabat nya itu. ia malah berdiri mematung sambil melihat kearah dimana tempat desa Daiyang berada. dari kejauhan terlihat awan hitam membumbung tinggi ke langit. sontak haocun berlari dan meninggalkan minhao yang masih menggerutu. sedangkan minhao yang melihan sahabatnya berlari dengan panik, ia mengikuti sahabatnya dari belakang.


sesampainya mereka di luar hutan. mereka berdiri mematung dengan mata sedikit membelalak melihat ke arah desa mereka berada. tanpa sadar panah dan hasil buruan mereka terjatuh ke tanah.


"Ibu,,,, Ayah." teriak mereka serentak sembari berlari menuju tempat tinggal mereka masing masing.


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2