
minhao dan Bai Yuwen berpindah tempat di sebuah hutan kecil yang tidak jauh dari desa sukawangi, hutan itu juga mereka lalui saat berjalan menuju ke desa tersebut
"hah.. hah.. hah... Untung sebelum memasuki desa tadi aku sempat menandai salah satu pohon di hutan ini" kata minhao dengan nafas tersengal
Bai Yuwen yang mendengar itu sontak langsung melihat kearah pohon yang terdapat sebuah tanda formasi, ia memandangi formasi tersebut, garis garis rumit yang ada di pohon itu ia pandang dengan teliti
belum cukup lama Bai Yuwen memandang garis-garis formasi itu, ia dikejutkan dengan minhao yang tiba tiba sempoyongan dan terjatuh ke depan, namun sebelum minhao terjatuh Bai Yuwen dengan cekatan menangkap tubuhnya
wajah minhao sangat pucat, dan bibirnya bewarna kebiruan, yang menandakan ia terkena racun yang cukup berbahaya, Bai Yuwen terlihat sangat khawatir, ia segera menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh minhao, berniat menghambat penyebaran racun tersebut
"Hao, jangan membuatku takut.." kata Bai Yuwen lirih dan masih menyalurkan tenaga dalamnya
namun usaha Bai yuwen tak membuahkan hasil, wajah minhao masih tetap sama seperti sebelumnya, namun darah dari lukanya dapat dihentikan oleh Bai Yuwen
mata Bai Yuwen sedikit memerah, tanpa sadar buliran bening menetes dari ujung matanya, entah mengapa perasaannya campur aduk, kesedihan yang selama ini ia sembunyikan di hatinya yang terdalam seoalah muncul kembali, ia tidak ingin lagi kehilangan orang yang sangat berarti baginya
'sejak kapan minhao menjadi orang yang berarti baginya' kata itu terlintas di pikiran Bai Yuwen, entahlah mungkin ia sedikit merasa ada yang melindunginya jika di dekat minhao
Bai Yuwen masih bingung apa yang harus ia lakukan, ia memindahkan kepala minhao ke pangkuannya, seraya mengelus pipi minhao dengan lembut
"Hao, bangunlah... jangan membuatku takut" ucap Bai Yuwen sambil menempelkan dahinya ke dahi minhao seraya menahan air matanya, namun tetap saja buliran bening itu tak sanggup ia tahan
"gadis kecil, apa yang terjadi dengan temanmu ?"
kata-kata itu membuat Bai Yuwen terkejut, ia segera melihat ke arah suara itu berasal, terlihat seseorang yang tidak terlalu tua namun rambut dan kumisnya telah memutih
orang itu berpakaian serba putih dan ada sebuah kranjang di punggungnya yang terbuat dari anyaman bambu, ia berjalan mendekat ke arah Bai Yuwen, namun Bai Yuwen segera menarik pedangnya penuh kewaspadaan
"tenang saja, aku hanya seorang tabib, mungkin aku bisa membantu temanmu"
namun Bai Yuwen tidak menggubris kata-kata tersebut, ia segera mengalirkan tenaga dalam cukup besar ke Padang peraknya
__ADS_1
asap putih terlihat menyelimuti pedang Bai Yuwen, lama kelamaan asap tersebut menjadi lebih tajam, setipis sehelai rambut yang di potong menjadi 7 bagian
Bai Yuwen segera mengayunkan pedangnya terlihat cahaya pedang berbentuk bulan sabit keluar dari ayunan pedang Bai Yuwen cahaya pedang itu mengarah ke tabib tersebut
"gadis kecil, pengendalian energy mu cukup bagus.." kata tabib itu sambil menghindari cahaya pedang dengan posisi kayang tanpa menyentuhkan tangannya ke tanah
Bai Yuwen tidak menanggapi hal tersebut, ia segera mengeluarkan jurusnya lagi, namun saat hendak ia keluarkan Bai Yuwen menghentikan gerakanya saat mendengar ucapan tabib tersebut
"gadis kecil, jika kau terus bertarung, nyawa temanmu akan dalam bahaya"
tubuh Bai Yuwen mematung sejenak, ia perlahan menurunkan pedang peraknya, lalu menyarung kan pedang tersebut ke dalam sarungnya
"baiklah, ijinkan aku memeriksa bocah itu" kata Tabib tersebut seraya melangkahkan kakinya ke arah minhao yang tengah terbaring tak sadarkan diri
Bai Yuwen hanya diam dan memperhatikan setiap gerak gerik tabib tersebut, namun ia tidak menurunkan kewaspadaan sedikitpun, bahkan tangannya masih memegang gagang pedang perak miliknya
"racun ditubuhnya cukup berbahaya, namun nyawanya masih tertolong" ucap tabib misterius itu seraya menotok beberapa titik akupuntur milik minhao
"rumahku tidak jauh dari sini"
Bai Yuwen hanya menganggukkan kepalanya, dengan sedikit bantuan dari sang tabib, Bai Yuwen dapat menggendong minhao di punggungnya
mereka bertiga berjalan menyusuri hutan kecil tersebut, selang beberapa menit mereka telah sampai di pinggiran sebuah hutan yang tidak jauh dari posisinya tadi, terlihat sebuah gubuk sederhana di sana
Bai Yuwen yang menggendong minhao mengikuti langkah tabib itu yang berjalan memasuki rumahnya, dapat di lihat di dalam gubuk tersebut hanya ada satu ruangan
ruangan itu hanya berisi tempat tidur, meja yang cukup besar, dapur, dan beberapa keranjang berisi tanaman obat yang terdapat di salah satu pojok gubuk tersebut
"letakkan ia di sana" kata sang tabib seraya menunjuk tempat tidur miliknya
Bai Yuwen hanya mengangguk dan berjalan menuju tempat tidur tersebut, sedangkan sang tabib berjalan ke arah pojok ruangan dan menaruh keranjang yang ia gendong ke dekat beberapa bahan obat miliknya
__ADS_1
tabib itu mengambil beberapa tanaman obat dan membawanya ke meja yang cukup besar di ruangan itu, lalu ia segera meracik obat sebagai penawar racun bagi minhao
ia membuat dua macam ramuan, satu ramuan oles dan satunya lagi ramuan untuk diminum minhao,
sedangkan Bai Yuwen membaringkan tubuh minhao ke atas tempat tidur, lalu ia duduk di pinggir ranjang tersebut, dapat dilihat ia sedang memikirkan sesuatu
tak membutuhkan waktu lama sang tabib menyelesaikan ramuannya, ia segera berjalan menuju ke arah Bai Yuwen yang tengah duduk di pinggir ranjang, ia masih juga menatap wajah minhao dengan tatapan yang sulit di artikan
"oleskan ini ke lukanya, lalu balut luka tersebut dengan perban ini" ucap tabib itu lalu, menyerahkan ramuan oles beserta perban ke arah Bai Yuwen
Bai Yuwen hanya mengangguk, sedangkan tabib itu kembali ke meja mengambil ramuan untuk diminumkan ke minhao lalu kembali lagi
setelah meminumkan ramuan tersebut ke mulut minhao, terlihat wajah minhao berangsur-angsur membaik, bahkan bibirnya yang membiru sedikit demi sedikit memudar
Bai Yuwen hanya mengamati semua itu dengan termenung, ia mengagumi kehebatan tabib tersebut sampai lupa bahwa tugas yang di berikan tabib itu ke Bai Yuwen belum ia kerjakan
"apa kau tidak tau cara membalut perban ?" tanya tabib itu
Bai Yuwen sedikit terkejut, ia segera melepas jubah hitam milik minhao, tak lupa juga ia melepaskan baju pelayan yang di kenakanya, setelah membuka semua itu terlihat sebuah luka cakar di bahu kiri minhao sempai ke perut kananya
Bai Yuwen segera mengoleskan ramuan tersebut ke luka minhao, dapat di lihat muka Bai Yuwen sedikit semu merah saat tangannya menyentuh tubuh minhao
baru pertama kali ini Bai Yuwen menyentuh tubuh seorang lelaki seumuran dengannya, walau minhao berumur dua belas tahun berbeda lima tahun dengannya, namun tetap saja tinggi tubuh minhao hampir sama dengan tinggi Bai yuwen
semua itu tidak luput dari pengawasan sang tabib dan hanya ia tanggapinya dengan senyuman kecil seraya berfikir 'masa muda sungguh menyenangkan' baatinya
"jika kau membutuhkan bantuanku panggil saja aku di teras belakang" kata sang tabib seraya berjalan ke arah pintu belakang
Bai Yuwen hanya mengangguk, ia segera menyelesaikan tugasnya membalut luka minhao, dan tidak memerlukan waktu lama ia menyelesaikan tugas itu, terlihat luka minhao terbalut perban dengan cukup rapi,
Bai Yuwen membenarkan posisi minhao di tempat tidur, lalu ia mengambil salah satu kursi dan ia letakan di samping tempat tidur berniat menjaga minhao semalaman
__ADS_1
bersambung.