HIDUP DALAM TUBUH IBU YANG KEJAM

HIDUP DALAM TUBUH IBU YANG KEJAM
36. mayat berlumur darah


__ADS_3

Akhirnya mereka semua pun berjalan dengan pelan, karena tujuan mereka memang mengamati hutan tersebut bukan untuk melewati hutan itu. Sesekali anak-anak cerdas itu akan melayangkan pertanyaan yang kadang-kadang membuat anara ke susahan untuk menjawabnya.


Tapi itu tidak masalah, ia justru senang, karena di usia yang seperti ini anak-anak itu masih aktif-aktifnya bertanya ingin mengetahui apapun yang ada di dunia ini. Di perjalanan, anara juga tak lupa meninggalkan tanda agar mereka tidak tersesat. Tiba-tiba mata anara menangkap pohon-pohon yang berbuah lebat. Melihat buah tersebut anara pun langsung tersenyum. Ternyata tidak sia-sia ia mengajak anak-anaknya bermain ke hutan.


"Akhirnya ketemu juga yang dicari. Sayang sayangnya bunda Ayo duduk di sini dulu..." Ujar anara kepada anak-anaknya. Anak-anak itu pun berhenti dan langsung mengarahkan pandangan mereka ke arah anara.


"Sini dulu sayang. duduk dengan tenang, ibu akan mengambilkan buah-buahan itu. Buah itu bernama buah matoa yang mana rasanya 11 12 dengan rambutan. Di sampingnya juga tumbuh beberapa pohon lengkeng liar, rasanya juga sangat manis." ujar anara kepada anak-anaknya.


"Baik bu.." jawab anak-anak itu dengan riang gembira.


Lagi-lagi anara tak lupa membawa tikar untuk dibentangkan agar anak-anaknya bisa duduk dengan baik. Sebelum anara membentangkan tikar tikar itu, ia lebih dulu membersihkan semak-semak di sekitarnya dengan menggunakan benda tajam Yang ia bawa.


Namun, ia juga sedikit menggunakan kekuatan spiritualnya untuk membuat pekerjaan itu ringan dan cepat selesai. anara juga mengawasi lingkungan sekitar, takutnya ada binatang buas yang sedang mengawasi mereka.


Berada di tengah-tengah hutan, memang harus serba waspada, karena hutan ini adalah lingkungan bagi hewan-hewan buas yang mematikan. Setelah itu, anara baru membentangkan tikar dan menyuruh anak-anaknya duduk di atasnya sambil menunggu dirinya memetik buah-buahan itu. Anak-anak itu tak ada yang membantah, mereka dengan senang hati duduk dengan tertib sambil mengunyah makanan ringan yang disediakan oleh ibu mereka sambil menunggu anara selesai memanen buah-buahan itu.


"Aku belum melihat buah mangga. Apakah di hutan liar seperti ini tidak ada mangga ya.." monolog anara pada dirinya sendiri ketika ia telah berada di ketinggian.

__ADS_1


Iya, dia memanjat dengan lihainya seperti seorang kerah yang sudah terlatih. Anak-anak yang melihat aksi ibu mereka itu pun ikut terkagum-kagum. Tanpa banyak bicara lagi, anara langsung memanen dan mengambil buah-buahan yang memang sudah matang. Ia langsung memasukkannya ke dalam karung atau wadah yang telah Ia siapkan. Nanti tinggal anara turunkan menggunakan tali. Cukup lama anara berada di atas pohon matoa, akhirnya karung itu penuh dengan buah. Dengan pelan-pelan antara langsung menurunkan buah itu sampai menuju ke tanah. Setelah itu anara kembali turun dengan lihainya.


"Hah !! akhirnya bisa makan buah matoa juga.." ujar anara lagi sambil menepuk-nepuk tangannya untuk menghempaskan beberapa kotoran yang ada di tangannya itu. Anara pun langsung berjalan mendekat ke arah anak-anaknya sambil membawa karung tersebut. setelah sampai ia mengambil tempat penampungan yang baru. Kini ia akan beralih kepada buah lengkeng.


"Sayang coba buah-buahan ini, ini namanya buah matoa rasanya juga sangat enak. Kalian tetap di sini ya, dan nikmati makanan buah-buahan ini. Ibu akan manjat buah kelengkeng dulu yang ada di sebelah sana. Kalau ada apa-apa teriak aja ya nak.." ujar anara kepada anak-anaknya. Anak-anak itu pun langsung menganggukkan kepala mereka.


"Baik bu." Posisi anara tidak berada jauh dari tempat anak-anaknya. hanya saja, anara yang berada di atas pohon tentu saja tidak bisa menggapai anak-anaknya dengan cepat apabila terjadi bahaya. makanya anara memperingatkan anak-anaknya jika bahaya mendekat ke arah mereka mereka harus langsung teriak.


Namun kekhawatiran itu hanyalah sekedar kekhawatiran saja, buktinya sampai anara selesai memanen buah lengkeng itu, tak terjadi apapun dengan anak-anaknya. Saat mereka sedang menikmati buah-buahan di tengah hutan, tiba-tiba yoga merasa kebelet.


"Ibu, aku ingin buang air kecil.." ujar yoga kepada ibunya.


"Tidak apa-apa Bu, yoga bisa sendiri lagi pula yoga tidak jauh." Ujar yoga kepada ibunya.


Akhirnya dengan perasaan setengah hati, ia membiarkan anak pertamanya itu pergi sendiri.


"Ya sudah sana, nanti kalau ada apa-apa teriak panggil Ibu aja ya." ujar anara lagi kepada yoga yang sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri. yoga sendiri pun langsung menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"baik bu." yoga pun langsung berlari menjauh.


setelah dirasa Cukup jauh yoga memisahkan diri, agar apa yang ia buang tidak tercium oleh keluarganya dan juga tidak merasa jijik. akhirnya Ia memutuskan buang air di sana. Sementara anara, Ia tetap memantau dari jauh. Saat anara dan anak-anak lainnya sedang fokus memasukkan buah-buahan ke dalam mulut mereka, tiba-tiba yoga kembali dengan berlari. Anara yang melihat wajah anak pertamanya itu sepertinya menemukan sesuatu langsung bertanya.


"Ada apa yoga. Apa kamu menemukan sesuatu di sana..??" Tanya anara kepada anak pertamanya itu. Nafas yoga ngos-ngosan kemudian menganggukkan kepalanya. Anara sendiri menunggu sampai anaknya menjadi tenang dan bercerita.


"Ibu, di sana yoga Melihat mayat berlumur dengan darah. Yoga takut sekali dan tidak berani.." ujar yoga membuat keempat anak lainnya menjadi takut.


Walaupun masing-masing mereka telah menguasai ilmu bela diri, tapi yang namanya anak-anak tentu saja masih membutuhkan perlindungan orang dewasa. Anara yang mendengar cerita anaknya Langsung mengerutkan keningnya.


"Benarkah nak.. Ya sudah ayo kita lihat.." ujar anara kepada yoga. Yoga pun langsung menggeleng cemas.


"Kenapa sayang.."tanya anara lagi melihat respon dari yoga. Anara bertanya-tanya barangkali yoga takut atau semacamnya.


"Mayat itu tidak bergerak Bu, mungkin saja sudah mati.." ujar yoga lagi. Namun anara memberikan pengertian walaupun sudah tidak bernyawa setidaknya mereka dapat mengenali mayat tersebut.


"begini sayang, walaupun itu sudah menjadi mayat kita tetap harus melihat dan juga agar mengetahui siapa mayat tersebut. agar nanti kita bisa menghubungi orang tuanya atau keluarganya." tutur antara kepada yoga. setelah menjelaskan hal itu, anara langsung melihat ke arah anak-anaknya yang lain.

__ADS_1


"Ada yang mau ikut dengan ibu.." mereka semua menganggukkan kepala, tentu saja mereka tidak berani ditinggal lagi.


Akhirnya anara kembali membawa anak-anaknya serta memasukkan buah-buahan itu ke dalam ruang dimensi bersama dengan karpet yang mereka gunakan. Setelah itu, anara langsung beralih menggendong si bungsu dan berjalan menuju di mana tadi yoga menyebutkan ada mayat. Yoga sendiri memimpin jalan dengan harap-harap cemas. Walaupun seumur-umur ia sudah biasa melihat hal itu. Tapi tidak biasa dengan darah di sekujur mayat itu.


__ADS_2