HIDUP DALAM TUBUH IBU YANG KEJAM

HIDUP DALAM TUBUH IBU YANG KEJAM
56. membeli batu-bata dan tanah perekat


__ADS_3

Tapi, gaya yang digunakan anara memang sangat elegan. berbeda dengan bentuk model pakaian yang dijual oleh nyonya Ratna. namun tetap diminati oleh kalangan masyarakat, baik itu dari rakyat menengah ke bawah, maupun rakyat menengah ke atas.


"tentu saja tuan. Saya ingin memberikan pekerjaan kepada Tuan untuk membantu saya membuatkan benda mesin penggiling seperti ini. dan juga merancang alat yang seperti ini. saya sudah memiliki buku panduannya. tinggal Anda mengerjakannya saja.." ujar anara lagi sambil memberikan secarik kertas mengenai bentuk dari mesin penggiling itu dan juga satu buah buku panduan untuk menyelesaikannya. dalam buku panduan Bagaimana cara merakit mesin penggiling dan pembangkit energi listrik dengan menggunakan tenaga angin.


pengrajin toko menerima buku tersebut dan melihat Serta mengamati bentuk gambar atau desain yang tercetak dalam buku yang diberikan oleh anara. melihat pola dan bentuk alat yang sedemikian sempurna, membuat pengrajin itu mengerutkan keningnya. pasalnya, bentuk dari gambar itu benar-benar sangat detail dan juga memiliki tingkat kesulitan yang mungkin tidak bisa disebutkan oleh sang pembuat atau pengrajin itu.


"tampaknya, untuk menyelesaikan alat seperti ini cukup sulit nona..?? begitu pula dengan alat-alat yang seperti ini. Kira-kira, berapa lama anda akan menggunakannya nona..??" tanya Tuan pengrajin itu lagi.


anara yang mendengar penuturan itu langsung menganggukkan kepalanya, ia juga tau kalau pembuatan mesin penggiling itu cukup sulit. justru karena membuat alat penggiling itu sulit, makanya ia mengalihkannya kepada para pengrajin agar dirinya tidak kerepotan sendiri memikirkan untuk menyelesaikannya.


"untuk anda sendiri,??? kira-kira anda berapa lama bisa menyelesaikan pekerjaan ini..??" tanya anara, malah balik bertanya. pengrajin itu pun langsung berpikir sejenak.


"untuk membuat alat ini, Tentu saya juga membutuhkan tenaga kerja agar proses pembuatannya cepat selesai. kira-kira 3 atau 4 Minggu pekerjaan ini bisa saya selesaikan." ujar pengrajin itu lagi.


mendengar penuturan itu, anara berpikir kembali. lagian masih lama proses pemanenan padi berakhir. apalagi, warga di desa buangan tak terlalu mahir memanen dengan cepat. karena mereka semua adalah orang-orang bangsawan yang belum pernah memegang pekerjaan seperti ini semasa kejayaan mereka.


"kalau begitu tidak masalah. Tuan kerjakan saja sebagaimana kemampuan tuan. saya juga akan langsung membayar uang muka, selebihnya nanti akan saya berikan setelah alat ini selesai." ujar anara sambil memberikan 5 kepingan emas kepada tuan pengrajin itu.


sang pengrajin yang melihat koin emas tangannya menjadi gemetar. seumur-umur ia belum pernah memegang koin emas. jangankan koin emas, koin perak saja ia jarang ada.

__ADS_1


"maaf Nona. aku rasa, bayarannya sudah sangat banyak. Saya rasa harga untuk membuat benda penggiling ini juga tidak sampai satu koin emas." ujar tuan pengrajin itu lagi. karena patokannya palingan hanya sampai ratusan koin perunggu saja.


"tidak masalah. anggap saja kita sedang saling membantu satu sama lain. kalau begitu saya pamit ya Tuan. saya akan kembali lagi 3 minggu kemudian untuk menjemput alat ini. atau, nanti tuan bisa mengantarnya ke tempat saya yang ada di desa buangan." ujar anara itu langsung membuat Tuan pengrajin itu membulatkan matanya.


bukankah Desa buangan itu adalah tempat orang-orang yang diasingkan dan dibuang oleh raja Widura..?? namun pengrajin itu tak merasa heran, karena memang orang-orang yang dibuang ke sana itu adalah orang-orang yang memiliki intelektual dan pendidikan yang tinggi. jadi, sudah pasti, diantara mereka ada yang bisa membuat dan menciptakan benda seperti itu..


"baiklah Nona. saya mengerti." ujar Tuan pengrajin itu lagi.


"oh ya, satu lagi tuan. tolong, rancangan ini jangan berikan kepada siapapun. karena, saya tidak ingin anda maupun orang lain memanfaatkan hasil kerja keras orang lain untuk kepentingan pribadi. tapi, jika anda mau bekerja sama dengan saya, nanti akan kita bahas. kalau begitu Saya pamit." ujarnya. tapi, sebelum anara benar-benar pergi, anara kembali mengulang ucapannya.


"dan, untuk tawaran kerja sama kita, boleh tuan pikiran. namun, saat saya kesini lagi, akan kita bahas. kalau begitu, saya pamit." ujar anara kembali dan langsung meninggalkan tempat itu.


kini, setelah berjalan cukup jauh mengendarai motor Beat nya. akhirnya anara tiba di tempat penjualan batu bata.


"permisi tuan." ujar anara setelah memasuki toko tersebut. melihat ada yang datang ke toko mereka, seorang karyawan laki-laki dari pemilik toko itu pun langsung menyambut pelanggan mereka itu dengan baik dan hangat.


"selamat datang nona di toko kami. Apakah ada yang bisa kami bantu..??" tanya karyawan pemilik toko itu.


tampaknya memang toko-toko seperti ini sangat sederhana dan juga sepi. tak ada yang berkunjung, karena, orang-orang hanya berali kepada pembuatan rumah dengan menggunakan media tanah liat yang menurut mereka Sangat kokoh. mereka juga lebih dominan menggunakan kayu yang diukir sedemikian rupa untuk menambah nilai estetika dalam bangunan itu.

__ADS_1


"Iya tuan. Saya ingin membeli batu bata merah. kira-kira, tokoh ini bisa menjualnya kepada saya kah..??" tanya anara kepada karyawan toko itu. karyawan toko itu pun langsung tersenyum dengan ramah.


"tentu saja Nona. berapa banyak batu bata yang Nona butuhkan..??" tanya lelaki karyawan itu.


anara mencoba untuk berpikir sejenak. kira-kira berapa banyak batu bata yang ia butuhkan. namun, sebelum menjawab, anara terpikir dengan bahan perekat untuk menyatukan batu bata ini, yang tak lain adalah semen.


"sebelumnya, Apakah toko ini juga menjual semen..??" tanya anara kepada karyawan toko tersebut.


karyawan toko yang baru pertama kali mendengar nama tersebut langsung mengerutkan keningnya, dan seketika menggelengkan kepalanya.


"maaf Nona, sepertinya kami tidak menjual semen..?? memangnya itu benda seperti apa nona..??" tanya karyawan tokoh itu dengan dahi berkerut.


anara yang mendengar penuturan dari karyawan toko itu pun langsung tersadar. Ia baru tahu, kalau saat ini ia berada di zaman kuno.


"oh maksud saya, bahan yang digunakan untuk merekatkan dan menyatukan batu bata merah ini.." ujar anara lagi meralat penuturannya. karyawan toko yang mengerti dengan maksud anara itu pun langsung merespon.


"oh... tanah perekat. kalau itu tentu saja kami memilikinya nona. Kira-kira berapa banyak yang Nona butuhkan..??" tanya karyawan toko itu lagi.


akhirnya, karena anara mendapatkan apa yang dicarinya. ia langsung menyebutkan berapa banyak bata yang harus diantar ke desa buangan. dirinya membeli 7.000 bata untuk diantar dan kemudian 100 sak tanah perekat yang akan digunakan.

__ADS_1


" Bagaimana tuan, apakah tokoh ini menyediakan banyaknya bata dan tanah perekat yang saya butuhkan.?" tanya anara lagi kepada karyawan itu.


__ADS_2