
Sementara anara sendiri mulai mempersiapkan baju-baju untuk anak-anaknya sekaligus alat-alat untuk mandi. Tak lama, anak-anak itu pun bangun dengan muka bantal mereka. Anara yang melihat anak-anaknya itu terkekeh lucu, karena anak-anak itu benar-benar terlihat sangat lucu. Mereka berjalan mendekat ke arah anara, seolah-olah mereka semua sedang berusaha untuk mengumpulkan nyawa mereka yang masih bertebaran di mana-mana. Setelah itu mereka Langsung mendudukkan tubuh mereka di luar tenda tersebut.
"Whoooaammm....." Terlihat semua anak-anak itu menguap. Anara yang melihat itu lagi-lagi tersenyum.
"Anak-anak Ibu sudah bangun.. Ayo segera kumpulkan kesadarannya.. kita harus segera berangkat mandi sebelum matahari terbenam." Ujar anara kepada anak-anaknya itu.
Anara sendiri sudah bangkit dari posisi duduknya bersiap untuk mengajak anak-anaknya mandi. Melihat ibu mereka telah bersiap, mereka semua pun tidak ada alasan untuk tetap duduk di sana. Mereka juga langsung berdiri dan mengikuti ke mana anara pergi.
"Ayo anak-anak mandi dulu..." Ujar anara sambil menyerahkan persabunan kepada anak-anaknya.
Sementara itu, anara langsung mengambil alih anak bungsunya dan memandikannya. Tak menunggu waktu yang lama, mereka semua pun telah selesai mandi dan kembali ke tenda mereka. Sesampainya mereka di tenda, Mereka pun langsung duduk dengan baik melihat lelaki yang masih terbaring dan setia menutup matanya itu.
"Bu Apakah nanti Paman ini kalau bangun tidak berbahaya..?? " Tanya yoga kepada anara.
Bukan apa-apa, yoga yang dahulunya adalah anak yatim piatu dan juga terlantar cukup banyak mengenal orang-orang yang selalu suka melakukan kejahatan demi kepuasan mereka. Anara yang mendengar penuturan anak pertamanya itu pun langsung tersenyum. Anara sendiri sadar apa yang menjadi kekhawatiran bagi yoga.
"Tenang saja sayang, nanti kalau Pamannya bangun tapi malah menyerang kita, Ibu pastikan akan menendang Paman tersebut sampai ke udara." Ujar anara bercanda kepada anak-anaknya. Mendengarkan penuturan anara mereka semua pun langsung terkekeh.
"Betul itu Bu, nanti klipla juga bantu men jewel telinga Paman tersebut.." ujar kripla dengan mulut cadelnya itu. Anara pun terkejut mendengar penuturan polos anak bungsunya itu.
__ADS_1
"Kakak juga akan membantu memasukkan kaos kaki ke dalam mulut Paman itu kalau Paman itu terbangun tapi menyakiti kita." Kini yang bersuara adalah Sekar. Sementara yoga dan si kembar hanya memilih diam dan tersenyum saja.
"Ya sudah ya sudah. Ayo kita makan dulu ya nak." Ujar Amara yang sudah selesai menyuguhkan makanan di depan mereka.
Tapi karena hari sudah agak sedikit gelap, anara langsung menghidupkan lampu yang ia dapatkan dari ruang dimensinya itu untuk menerangi mereka di sana seperti yang dilakukannya kemarin. Sehingga suasana gelap berubah menjadi terang.
"Untung ada lampu yang seperti ini ya Bu.. jadi kita tidak perlu takut gelap lagi.." ujar Sekar lagi. Anara pun langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya sayang. Ya sudah sekarang kita makan ya.." ujar anara lagi.
Saat mereka sedang makan, Nakula yang sekali-sekali memperhatikan wajah pria yang terbaring di belakang mereka itu sedikit menjadi heran. Karena kalau diperhatikan, wajah pria tersebut hampir mirip dengan wajah mereka berdua. Tapi yang namanya anak kecil, Nakula tidak berpikir sejauh itu.
"Bu.. Kenapa pamannya belum bangun juga. Memangnya dia tidak lapar ya Bu.." ujar Nakula kepada anara.
"Nanti kalau pamannya sudah bangun baru dia makan. Sekarang mungkin pamannya sedang belum ingin bangun." Tutur antara lagi.
Nakula pun menganggukkan kepalanya dan kembali fokus menghabiskan makanannya. Mereka makan seperti biasa, di mana anara akan mendengar anak-anaknya mengoceh dan sesekali akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang anak-anak itu layangkan kepadanya.
" Bu. Akhir-akhir ini masakan-masakan Ibu semuanya enak-enak. Lihat perut Sadewa. Sudah berubah menjadi gentong penampung beras Bu.." ujar Sadewa sambil memperlihatkan perutnya yang sudah membengkak besar akibat kenyang. Anara yang melihat perut putranya itu pun langsung mengelus perut itu dengan sayang.
__ADS_1
"Tidak apa-apa nak. Selagi Ibu masih bisa memberikan yang terbaik Kenapa tidak.. pokoknya kakak dan adik serta anak-anak ibu yang lain harus saling menyayangi satu sama lain dan juga jangan lupa berbagi kenikmatan ya. Tak lupa juga jangan malas-malas belajar ilmu bela diri lagi.." ujar anara memperingatkan anak-anaknya itu.
Walaupun nasehatnya hanya seputar itu-itu dan itu saja, namun anara punya harapan anak-anaknya akan tumbuh menjadi anak-anak yang peduli dan juga anak-anak yang berjiwa besar.
"Iya Bu itu pasti." Jawab mereka dengan serentak membuat anara terkekeh.
Tak lama, akhirnya aktivitas makan malam mereka itu pun berakhir. Anara menyuruh anak-anaknya untuk duduk terlebih dahulu selama sekitar 5 sampai 10 menit untuk mengistirahatkan perut mereka. Sementara dirinya langsung membereskan piring-piring dan juga membersihkan sisa-sisa makanan yang ada di sana. Sambil menunggu anara membereskan makanan-makanan itu, mereka semua menatap pria yang masih setia dalam tidurnya tersebut.
"Kak yoga. Pamannya sangat tampan ya.. tapi sayang tangan dan wajahnya banyak luka.." ujar Sekar dengan perasaan sedih. Karena mereka semua dapat melihat luka-luka Yang Sudah diperban oleh anara termasuk luka-luka yang ada di bagian-bagian tubuhnya.
"Paman ini kok bisa terluka ya padahal sudah besar masa tidak bisa menjaga diri.." ujar Sadewa kepada ke saudara-saudaranya.
"Bukan begitu dek. Mungkin Paman ini diserang oleh orang-orang jahat makanya Paman banyak luka. Memangnya Sadewa nggak ingat waktu dulu Kakak pernah kena cambuk karena mencuri roti. Tapi sepertinya Paman ini dapat musuh yang kuat deh.." ujar yoga lagi dengan polosnya namun ia berusaha untuk menjelaskan hal itu kepada saudara-saudaranya.
"Oh.. Nakula tahu Kak. Kenapa harus ada orang-orang jahat yang melakukan kekejaman seperti itu. Apa masalah itu tidak bisa dibicarakan ya Kak. Ibu kan selalu bilang kepada kita, Kalau ada masalah itu harus diselesaikan dengan baik dan juga dengan kepala dingin. Tetapi kenapa masih banyak orang yang terluka dan mungkin bisa mati juga.." ujar mereka mencoba berdiskusi mengenai hal itu. Sementara anara yang masih setia membersihkan sisa-sisa makanan mereka itu tersenyum mendengar obrolan anak-anaknya.
"Karena itu, Ibu menyuruh kalian untuk belajar ilmu bela diri. Karena tidak semua orang bisa diajak berdiskusi. apalagi orang-orang kaya yang memiliki kekuasaan. Jadi kalau seandainya bernegosiasi dengan baik tidak menemukan titik terang dan malah mengancam nyawa, kakak, adik dan semua anak-anak ibu bisa membela diri dengan mengandalkan ilmu bela diri yang ibu ajarkan. Tapi tetap harus dengan konteks, tidak boleh melakukan perbuatan jahat ataupun menindas orang-orang yang lemah. Dan ini contohnya, mungkin Paman tersebut menghadapi lawan yang kuat sehingga berujung seperti itu." Ujar anara lagi mencoba memberikan gambaran kepada anak-anaknya. Mereka yang mendengar penuturan anara langsung menganggukkan kepala.
"Oh begitu ya Bu.. jadi kita tidak boleh bertindak sembarangan di sini." Ujar yoga lagi sedikit membenarkan apa yang ibunya sampaikan kepada mereka.
__ADS_1
"Iya nak. Ya sudah sekarang sudah waktunya untuk beristirahat ya.. Ayo masuk ke dalam tenda dan tidur dengan baik."ujar Anara mengajak anak-anaknya masuk ke dalam tenda.
Ia juga telah mengeluarkan satu set bantal dan selimut kembali dari ruang dimensinya. Mengenai keanehan-keanehan yang terjadi dan bahkan benda-benda asing yang dilihat oleh anak-anaknya itu tak pernah sekalipun membuat kelima anak itu bertanya Dari mana asal muasal barang-barang tersebut.