
Bayu melihat beberapa warga menanam jagung, gandum dan juga padi. ada juga beberapa warga yang menanam beberapa tanaman sayuran dan juga buah-buahan. ia berdecak kagum melihat perubahan yang ada di desa buangan ini.
"Aku tidak tahu nona, Kalau tempat tinggal Nona begitu sangat indah dipenuhi dengan berbagai macam tanaman. aku tidak tahu kalau ada tempat se indah ini." ujar Bayu lagi kepada anara. mereka semua terus melangkahkan kaki mereka.
"tentu saja. tapi kenyataannya, dulu Desa buangan ini tidak seperti ini. Desa ini sangat gersang dan tak memiliki kehidupan apapun bahkan para warga yang dibuang di tempat ini mengalami kelaparan dan krisis pangan yang parah. sampai akhirnya, Kami para warga berinisiatif untuk membangun perkebunan dan juga membuat lahan gersang ini menjadi subur. dan ternyata, serta didukung dengan kekompakan para warga yang ada di tempat ini, kami berhasil membangun lahan pertanian yang begitu subur dan mungkin sebentar lagi akan langsung dipanen oleh para warga." jelas anara lagi tanpa mereka menghentikan langkah kaki mereka. sementara Bayu, Ia terus mengadakan pandangannya dan berdecak kagum melihat pemandangan yang seperti ini.
Bibirnya juga tak henti-hentinya menyunggingkan senyum. ternyata, Desa buangan yang dipenuhi dengan orang-orang mantan intelektual yang dicampakkan oleh kerajaan barang sabrangan ini, ternyata mampu melahirkan inovasi yang menurutnya tidak akan ditemukan di kerajaan-kerajaan lain. dia tidak tahu saja, kalau yang menginovasi semua penduduk desa buangan ini adalah ide dari anara
"tapi nona, Kenapa nama desanya disebut Desa buangan..??" tanya sang pangeran berpura-pura tidak tahu.
karena memang dirinya tak terlibat sama sekali mengenai penelantaran orang yang dianggap bekas dan tidak dibutuhkan lagi. semua orang yang berada di bawah kepemimpinannya hidup makmur dan saling mendukung satu sama lain. pangeran Bayu pun tak sedikitpun mengintimidasi para pengikutnya kecuali mereka salah dan berkhianat.
"entahlah Jaka. saya juga tidak mengerti, mungkin karena kami ini dianggap tidak penting. dan kalau tinggal di kota menjadi sampah masyarakat. tapi, ada untungnya juga sih ketika kami dibuang dari kerajaan sehingga kami bisa membangun kerajaan kami sendiri walaupun tanpa istana hehehe.." jawab anara lagi. sementara itu mereka semua sudah dekat dan sebentar lagi akan sampai di kediaman rayot itu.
__ADS_1
"Bu, itu rumah kita sudah terlihat." ujar Sekar yang sangat antusias untuk sampai di tempat perlindungan mereka.
tak lupa Ia juga menunjuk-nunjuk ke arah itu. tak hanya Sekar anak-anak lain pun terlihat sangat senang akhirnya mereka kembali ke kediaman sederhana mereka. padahal mereka baru beberapa hari saja melakukan kemping di luar rumah. tapi mereka sudah sangat rindu berat terhadap tempat tinggal reot mereka itu.
"hati-hati jalannya.. jangan lari-lari seperti itu.." tegur anara kepada anak-anaknya. anak-anak yang sangat gembira itu pun sontak menghentikan aksi mereka dan kembali melanjutkan perjalanan dengan baik.
"baik Bu. maaf. Adik-adik, jangan lompat-lompat seperti itu nanti kalian jatuh." ujar yoga memperingati adik-adiknya untuk menggantikan peran ibunya menegur mereka. Mereka pun langsung melanjutkan perjalanan.
di perjalanan mereka, beberapa warga yang berada di lahan sawah mereka, dan melihat kepulangan anara sambil membawa seorang laki-laki yang mengikutinya dari belakang langsung mengundang tanya dari mereka.
"Iya benar. sepertinya memang benar, lihat saja tampangnya dia sangat tampan seperti kita dulu yang dibuang ke tempat ini. sayang sekali ya, mungkin ini yang dinamakan habis manis sampah dibuang.." ujar yang lain.
"betul itu. semenjak beberapa tahun belakangan ini, raja yang memimpin kerajaan barang sabrangan ini berlaku sewenang-wenang. padahal dulu tidak seperti itu, mau kita hidup berkecukupan atau Tak memiliki kekayaan apapun kerajaan tidak akan ikut campur asalkan kita membayar upeti. tapi sekarang, mereka malah menciptakan Desa buangan ini untuk orang-orang yang sudah tidak mereka pakai lagi di kota itu. miris sekali.." jawab warga lainnya.
__ADS_1
mereka semua tak ada yang mengenali pangeran Bayu selaku pangeran kedua dari kerajaan barang sebrangan ini. karena mereka memang jarang melihat pangeran ini melibatkan diri dalam tambuk kepemimpinan maupun politik. mereka hanya mendengar rumor saja mengenai dirinya yang tak tersentuh dengan perempuan manapun.
"ya, biarkan sajalah seperti itu. yang penting kita bisa hidup dengan baik di sini dan membuktikan bahwa kita bukan orang yang tak berguna dan mampu hidup tanpa membutuhkan sokongan dari manapun. yang pasti kita saling merangkul saja.." timpal yang lainnya.
"betul itu, lagi pula sebentar lagi kita akan melakukan panen terhadap padi-padi kita. jadi, kita tidak perlu susah-susah lagi. kan kita juga tidak diwajibkan membayar upeti. tapi, kalau masih ditagih juga, lebih baik gulingkan saja raja yang memimpin saat ini." ujar warga itu lagi dengan semangat.
karena, manurut mereka, tidak etis rasanya. ketika mereka sudah didepak dari tempat tinggal dan juga pekerjaan mereka, ditendang dan tidak dipedulikan, tiba-tiba mereka datang menagih upeti dari mereka itu. kan tidak lucu.!!
tak lupa juga para ibu-ibu dan bapak-bapak yang melihat kehadiran anara yang melintasi kebun-kebun mereka itu dengan senang hati menyapa dirinya, Begitu juga dengan anak-anaknya. dirinya yang ada di desa buangan ini seolah menjadi berkah bagi masyarakat yang sudah lebih dulu mendiami Desa ini. Bayu yang menyaksikan betapa anarah dihormati di desa ini membuatnya kembali terkejut dan bertanya-tanya.
(Mereka terlihat sangat menghormati dirinya. Apakah lagi-lagi aku melewatkan sesuatu hal yang penting mengenai informasi wanita ini..??) batin Bayu lagi. Ia memilih untuk mengamati saja. rasanya keputusan untuk berpura-pura lupa ingatan Itu sudah tepat baginya.
"selamat datang kembali nona anara... perasaan Nona baru dua hari pergi berlibur tetapi kami semua di sini sudah sangat merindukan kehadiranmu..." tutur salah seorang ibu-ibu kepada anara.
__ADS_1
"Iya nona. kehadiran nona seperti membuat kami memiliki tempat perlindungan." ujar salah satu ibu-ibu yang merasa terharu melihat kepulangan anara dan anak-anaknya.
jujur saja mereka semua benar-benar merasa nyaman melihat keberadaan anara di desa buangan ini. mungkin mereka berpikir kalau bukan anara dia memberikan mereka solusi untuk masalah pangan mereka, pasti kehidupan mereka tidak akan berakhir seperti ini. anara yang mendengar penuturan ibu-ibu itu pun langsung tersenyum