
Anara pun langsung berjalan melangkahkan kakinya masuk ke dalam butik tersebut. saat suara lonceng berbunyi yang menandakan ada yang memasuki butik tersebut.
Para pelayan yang memang ditugaskan untuk menyambut para pelanggan langsung mengarahkan pandangan mereka ke arah anara dan juga menyambutnya dengan baik sesuai dengan peraturan yang diberikan oleh pemilik butik ini.
Salah seorang pelayan yang melihat keberadaan anara di sana pun langsung berjalan mendekat. kemudian menyapa dirinya.
"selamat datang di butik Kami nona..?? Apakah ada yang bisa saya bantu..??" tanya pelayan itu dengan penuh hormat. anara mengganggu anggukan melihat etika dan etiket yang ada di butik milik nyonya Ratna itu.
"terima kasih banyak. tapi saya ke sini ingin bertemu dengan nyonya Ratna. sampaikan saja padanya kalau anarawati ingin bertemu.." ujar anara juga tak kalah sopan kepada gadis pelayan itu.
Gadis pelayan yang baru pertama kali mendapatkan pelanggan yang begitu menghormati mereka merasa tidak enak. apalagi pakaian yang dikenakannya memang cukup dibilang mewah. mereka tidak tahu saja, kalau anara saat ini tinggal di gubuk reot. namun, setelah ini anara berencana untuk membangun gubuk itu menjadi lebih baik dan bahkan menjadi sebuah bangunan yang bagus yang pernah ada di zaman kuno ini.
"kalau begitu silakan duduk terlebih dahulu nona. saya akan memanggil kan Nyonya Ratna sebentar." anara pun langsung menganggukkan kepalanya dan mengambil posisi tempat duduk yang disediakan di kedai tersebut.
dengan cepat pelayan perempuan itu pun bergegas masuk ke dalam untuk bertemu dengan bos butik ini. anara yang menunggu di sana pun mengedarkan pandangannya melihat ke sana kemari. tak sengaja, matanya langsung menatap sosok perempuan yang pernah datang membuat onar dan menyakiti anak-anaknya.
Siapa lagi kalau bukan Dieng Sari. di sana Dieng Sari sedang mengobrol bersama dengan para bangsawan lainnya dan berjalan menuju lantai 2. Di mana tempat itu memang diperuntukkan untuk kaum bangsawan.
__ADS_1
"perempuan tepung itu..?? Untung saja dia tidak datang bikin onar lagi. Kalau tidak aku akan langsung membuat wajahnya menjadi bonyok." gumam anara dengan penuh jenaka.
Dieng Sari tak mendapati dan melihat keberadaan anara di sana, karena memang posisi tempat duduk antara tidak terlalu terekspos. kalau tidak, mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi. bisa saja Dieng Sari akan langsung membuat drama dan malah mencari gara-gara.
tak lama pelayan itu pun datang dengan harga pokok-pokok bersama dengan Nyonya Ratna pemilik butik ini.
"maaf Nona Nara, sudah menunggu lama. Ayo Nona masuk ke dalam bersama dengan saya." ujar nyonya Ratna itu dengan penuh kesopanan. anara pun tersenyum ke arah nyonya Ratna.
"tidak perlu repot seperti itu nyonya Ratna untuk menjemput saya. seharusnya Nyonya duduk saja di ruangan dan saya akan datang. " ujarnya dengan senyum merekah di bibirnya. nyonya Ratna yang memang sudah mengenal kebaikan hati Sang designer ini membuatnya langsung menanggapinya dengan senyuman.
"tidak apa-apa Nona Nara..?? lagi pula Nona Nara Sudah lama tidak berkunjung. Bahkan tak satupun surat-surat saya membuat anda berkunjung ke tempat ini. jadi tidak apa-apa, kalau saya datang menjemput sendiri." ujar nyonya Ratna dengan sopan.
"suamiku kemarilah sebentar... "panggil nyonya Ratna dengan penuh perhatian dan penghormatan kepada suaminya.
suami nyonya Ratna yang bernama Sutrisno itu langsung berjalan mendekat setelah mendengar panggilan istrinya dengan penuh kesopanan dan senyum karena ia melihat sepertinya ada tamu.
"Ada apa istriku..?? Ada yang bisa saya bantu..??" tanya tuan Sutrisno itu.
__ADS_1
"ini saya hanya memperkenalkan perancang busana kita kepadamu Pak. namanya nona anarawati yang beberapa bulan yang lalu ibu ceritakan kepada bapak." ujar nyonya Ratna lagi.
Tuan Sutrisno yang menyadari bahwa perempuan muda yang berdiri di depannya ini adalah penolong butik milik mereka Langsung berlaku hormat layaknya seorang bawahan kepada tuannya.
"oh maafkan atas ketidaktahuan saya Nona. saya Sutrisno suami dari istri saya.. terima kasih nona sudah memilih butik Kami untuk bekerja sama. kalau begitu Nona silakan masuk ke dalam dan istriku jamu lah tamu kita dengan baik."ujar Tuan Sutrisno lagi kepada istrinya.
melihat penghormatan yang menurut anara cukup berlebihan membuatnya tak bisa berkata-kata. Ia hanya mengambil sisi positifnya saja, mungkin saja, sepasang suami istri ini memang sangat bersyukur bertemu dengan dirinya, sehingga Begitu menghormatinya.
"oh... kalau begitu, terima kasih banyak tuan Sutrisno." ujar anara tak kalah sopan.
"yasudah Kalau begitu, ayo nona kita masuk kedalam.. pak.. kami masuk dulu" ujar Nyonya Ratna lagi kepada suaminya dan mengajak anara Masuk. dengan senang hati, Nyonya Ratna mempersilahkan anara duduk dan melayani dengan baik. setelah itu baru nyonya Ratna mendudukkan tubuhnya dan mengeluarkan beberapa berkas atau rekapan pemasukan hasil butik tiga bulan yang lalu. kemudian berjalan mendekati anara.
"nona, semua rekap pendapatan 6 bulan ini sudah tercantum di sini. sesuai dengan pengaturan pertama Nona dalam perjanjian, bahwa di bulan pertama pendapatan butik mendapatkan 60% dan Nona mendapatkan 40%. setelah pendapatan selanjutnya, itu sudah saya bagi dengan rata Nona dan juga surat perjanjiannya sudah saya tulis ulang kembali nona." mari silakan Nona baca dan periksa terlebih dahulu.
ujar nyonya Ratna sambil menyerahkan rekapan kertas terpisah itu kepada anara. anara sendiri Sebenarnya cukup mempercayai nyonya Ratna, namun untuk menghargai kerja keras dari nyonya Ratna dan suaminya sendiri Ia pun memeriksa ulang rekapan surat perjanjian itu lagi.
poinnya masih sama hanya saja ada perubahan dalam poin pembagian hasil, di mana bulan pertama pendapatan akan dibagi 60% untuk butik milik nyonya Ratna Dan 40% untuk anara. dan di kertas perjanjian yang baru di sana telah berubah menjadi pembagian yang rata sama-sama 50%.
__ADS_1
"baiklah nyonya. Sebenarnya saya cukup percaya dengan nyonya. jadi tidak perlu khawatir. dan saya ke sini langsung mengambil bagian saya saja Nyonya bagaimana.. ?? karena saya juga harus membangun rumah di desa buangan." ujar anara lagi dengan sopan dan juga meminta bagiannya kepada Nyonya Ratna.
"oh tentu saja Nona. tunggu sebentar.." nyonya Ratna pun langsung berlalu dan mendekati meja kerjanya. di dalam laci ia mengeluarkan 5 kantong yang berisi 1000 kepingan emas di sana dan 500 koin perak dan tembaga.