
Jendela yang tertutup debu itu tak bisa di buka. Tapi dengan sedikit dobrakan jendela itu pun akhirnya dapat di buka. Seraut wajah sembab Andara di balik jendela yang berdebu terlihat sekilas dari jendela.
Andara berusaha menatap awan yang cerah pagi itu, walaupun sisa air matanya masih tersirat jelas di wajah nya.
Sesekali Andara menarik nafas yang dalam.
Dia menatap jalanan di balik jendela dengan tatapan yang kosong.
Baginya hari ini tiba tak di udang datang tak diantar kayak jailakung aja bisiknya. Ini hari terburuk dan pengalaman terpahit baginya bagai mana tidak Pujaan hati yang dia perjuangkan selama ini lebih memilih menikahi sahabatnya.
Air mata Andara tak terbendung terus menghiasi wajahnya.
"Ini mimpi terburuk bagi ku" sambil mengusap air mata. "Dimana janjimu Bambang"
(ya si bambang malah di bawa-bawa)
"sakitnya tuh disini di dalam hati ku, jiah sue dasar bambang, awas kalo ketemu gue jitak"
Hari ini kan cerah , tapi tidak begitu dengan hati ku, hari ini terasa berat seberat rasa kangen ku pada mu bambang"
"pokoknya aku gorila eh ga rela titik ga pakek koma"
"kau hancur kan hati ku kau hancurkan hati ku lagi"
kira-kira begitulah sepenggal rasa yang hancur.
__ADS_1
Andara bengong lagi .
Dia menarik nafas yang dalam, berusaha mengalihkan pikirannya. Tapi begitu susahnya dia melupakan Bambang.
Andara pejamkan mata, dan berusaha melupakan sejenak rasa sakit yang dia rasakan. Dan tiba-tiba phone nya berbunyi.
"Andara, lo ga apa-apa?" wa masuk dari Arsyil.
"jawab Dara, aku khawatir" pesan berikutnya
"kalo kamu ga kuat ijin kan aku bersamamu menemani hari mu" rada sedikit modus.
"Dara...."
"Dara...."
Arsil kembali nge wa.
Andara tidak meresponnya karena tertidur pulas.
Tiba-tiba ibu masuk ke kamar Andara yang hancur berantakan sehancur hatinya Andara.
Ibu hanya menggelengkan kepala.
"CK...CK... kayak kapal pecah"
__ADS_1
Ibu hanya melihat , dan membiarkan Anak se mata wayangnya beristirahat.
Dari pagi sampai sore Andara tertidur pulas.
Ibu berusaha membangunkannya, tapi Andara tidak bagun juga .
Akhirnya ibu memunguti kertas-kertas yang berserakan di lantai . Dan membereskan kamar itu perlahan.
"Dara...dara....." jam 4.30 sore Arsyil nge wa Dara lagi. Dia belum menyerah untuk tidak nge wa Andara.
Sore hari, hujan mulai menetes perlahan.Jendela kamar Andara yang sedikit terbuka meneteskan sedikit cipratan Air hujan ke sela-sela kaca jendela. Udara mulai terasa dingin.
Sedingin hati Andara.
Andara terbangun dan duduk memegang ke dua kakinya.
Di meja terlihat sepiring nasi yang tadi siang ibu letakkan. Kasihan bener nasib nasi itu, tak di jamah diabaikan hingga hangatnya pun menghilang seiring waktu berjalan. Roda-roda hidup datang silih berganti. Warna warni pelangi menghiasi setitik cerah harapan hujan yang terurai. Awan yang mengumpul tertahan menuangkan semua rasa yang tercipta . Angin berhembus menyapa daun- daun yang berguguran tertimpa air hujan.
Air hujan , 1% kamu adalah air dan 99% adalah kenangan pahit.
Andara menangis sejadi- jadinya. Betapa nelangsanya hari ini.
Oh hujan bawalah duka ku bersamamu, biarkan luka ku hanyut bersama pergi mu.
Oh hujan setiap kali ku gores kan namamu, setiap kali itu juga kau hapus jejak ku bersama pergi mu.
__ADS_1
Biarkan ku simpan kenangan mu bersama luka ku. Biarkan ku simpan sedihku di setiap detak jantungku. Biarkan jendela ini tertutup rapat lagi. Dan kan ku biarkan dunia ku hampa hingga luka ku tertutup awan. Oh pelangi. Aku hanya ingin kau tau. Betapa ku berduka atas takdir ku.