
Dua bulan berlalu, hari yang cerah matahari bersinar cerah awan biru tampak anteng di angkasa. Melangkah dengan seribu langkah karena ingin segera sampai ke bagian lobi perusahan Cemerlang Damai. Hari ini Dara dapat wawancara kerja . Sesampai di gerbang tiba-tiba Dara terpeleset karena kakinya me ngwnai baru kerikil kecil. Saat tubuhnya terhuyung ke depan tiba -tiba sebuah tangan yang hangat menahannya dengan kuat.
"hati- hati sis...kamu tidak apa-apa? tanya seseorang yang tiba-tiba membantu tubuh Dara yang terhuyung agar tidak terjatuh ke tanah. Suaranya sangat merdu.
"terima kasih, iya aku ngga apa-apa" agak sedikit kaget juga Dara. Dara cepat-cepat berdiri dan tersenyum ke arah datangnya suara.
"eh kamu dara kan?" Cowok ganteng itu bertanya dengan sigap, kamu alumni SMA Tunas itu kan? Kamu masih ingat aku?" tanya cowok itu tanpa ada titik ada koma, terus nyerocos.
Dara yang ditanya sedikit berpikir keras karena wajahnya sih ga asing, tapi dia lupa nama cowok itu.
"oh iya, kamu.....?" Dara sedikit mengingat.
"ini aku Rendi loh, kita pernah sekelas, tapi karena tugas ayah ku di pindahkan aku ikut pindah sekolahnya. Baguslah kita berjumpa lagi " Rendi tersenyum gembira.
Dara sedikit ingat tentang Rendi yang dulu sering dia ejek dan dia jailin.
"ups...kamu Rendi yang sering aku jailin itu ya? " tukas Dara.
Rendi pun mengangguk.
"hahaha akhirnya kamu ingat juga hahaha, iya itu aku, Rendi yang culun itu loh hahaha... syukurlah kamu masih ingat aku" Rendi pun tertawa senang .
"ya ampun Rendi, waktu itu aku sempat ingin minta maaf sama kamu, tapi kamu ke buru pindah sekolahnya" Jelas Dara yang merasa bersalah.
"Akh sudahlah ga usah meminta maaf, namanya juga anak-anak itu wajar kok nakal seperti itu, malahan kalo aku ingat kembali aku suka tersenyum sendiri. Aslinya kamu gokil banget waktu itu" Rendi tersenyum.
"Oh iya Rendi, aku lagi terburu-buru , ga apa-apa kan ku tinggal? Aku ada wawancara sama HRD , ini sudah telat sepuluh menit, lobinya sebelah mana ya?" Lanjut Dara berpamitan.
"oh lobi, ayo ikut aku, kebetulan aku juga menuju sana Dara, yuk sekalian aja" Ajak Rendi.
Sembari melangkah dengan penuh berwibawa.
Dara pun mengikuti Rendi di belakang.
Sesampai lobi perusahaan Dara pun berterima kasih ke pada Rendi dan bergegas mendekati meja resepsionis.
__ADS_1
Sementara Rendi bergegas pergi ke ruangannya.
"selamat siang bu, saya ada Janji dengan Pak Kusuma" Sapa dara terhadap resepsionis.
"oh dengan Ibu Andara ya?" jawab resepsionis dengan ramah, mari bu saya antar ke ruangan Bapak Kusuma.
Setelah itu resepsionis pun mengantarkan Andara ke ruangan Bapak Kusuma.
Sesampainya Andara sedikit kaget. Karena di ruangan itu, hanya ada Rendi.
"silahkan masuk "Rendi mempersilahkan Andara.
"Bapak Kusuma?" Andara sedikit kaget.
"Iya saya? silahkan duduk" Rendi pun mempersilahkan Andara duduk.
"setelah menjabat tangan Rendi , Dara pun duduk.
"kenapa kaget ya?" tanya Rendi, kamu lupa nama lengkap ku Rendi Kusuma." Jelas Rendi sembari tersenyum , melihat muka Dara yang kaget. dan Salah fokus.
"iya maaf Pak Kusuma"
"ga usah formal akh.... , kamu besok mulai kerja ya." Rendi langsung meminta Dara untuk kerja.
"siap Pak Kusuma" Jawab Dara kaget campur senang juga.
"panggil Rendi saja Dara. Besok jam 8 harus teng ya jangan telat kayak sekarang " pinta Rendi.
Dara pun tersenyum lega.
"siap pak bos"
"nah gitu dong anak pintar, ini berkas yang harus kamu susun besok. Dan tolong buatkan aku schedule buat acara meeting besok pinta Rendi.
Dara pun melihat file yang di berikan Rendi. Dan mulai membacanya.
__ADS_1
Hari ini pun berlalu begitu cepat, perjumpaan Dara dengan teman sekolahnya dulu sejenak membuat Dara lupa dengan semua masalahnya.
Selalu ada harapan besok pagi.
Matahari mulai beranjak pergi.
Jam dinding pun berdenting memberi aba-aba kalo waktu terus berlalu.
Di setiap ada menit ada detik yang berlalu.
Di setiap berganti jam ada menit yang terlewatkan. Begitu juga dengan perjumpaan, di setiap perjumpaan akan ada waktunya perpisahan.
Waktu terus bergulir.
Adakalanya kita harus merelakan apa yang kita genggam untuk di lepaskan. Tak selamanya jalanan selalu mulus, di setiap langkah kita akan menemukan tanjakan, belokan atau bahkan turunan. Seperti itulah hidup.
Awan yang tadi siang biru, kini berubah menjadi oranye. Karena matahari mulai terbenam.
Dara melangkah setapak demi setapak untuk membenahi hatinya yang luka.
Sembari memegangi tumpukan file di dada nya dia berjalan perlahan menuju rumahnya, jalanan yang ramai terasa sepi, se sepi jiwa nya.
Hembusan angin menyibak rambut Dara.
Ibu duduk di depan rumah, dan tersenyum melihat anak gadisnya pulang.
"eh anak ibu yang cantik sudah pulang, gimana tadi wawancaranya" tanya ibu.
Dara tersenyum dan mencium tangan ibu.
"besok Dara mulai kerja bu, ibu tau ga Hrd di perusahaan itu ternyata teman Dara di SMA loh bu" jawab dara sedikit bersemangat.
"oh syukurlah kalau begitu, setidaknya kamu punya kesibukan sekarang. Ayo kamu sana mandi habis itu kamu makan, tadi ibu masak makanan favorit kamu. " tukas ibu.
Dara pun melangkah menuju kamar nya. Dan setelah itu dia pun mandi.
__ADS_1
Setelah selesai mandi, dia makan dengan lahap.