Hujan Air Mata Andara

Hujan Air Mata Andara
Penjaga Hati Andara


__ADS_3

Pagi yang dingin, Andara masih engan terbangun dari mimpinya.


Dia menarik nafas sedalam- dalamnya.


"patah hati boleh, tapi jangan berlarut - larut" sebuah pesan dari Arsil masuk ke inbox Andara.


"yuk jalan sama aku aja" lanjut Arsyil yang belum juga menyerah dengan tekadnya.


"Dara...aku kangen banget sama kamu! " Arsyil melanjutkan pesannya. Dia ga peduli walaupun wa nya ga di balas Andara , setidaknya kalo kamu mencintai orang itu harus tulus, kata ibuku aku ini cowok, cinta ku harus ku perjuangkan.


Andara bangkit dari tempat tidurnya dan beranjak ke kamar mandi. Dia guyur tubuhnya dengan air segar.


Setelah badannya terasa segar dia melahap makanan di meja tanpa bicara apa pun.


Ibu tidak banyak bicara , dan membiarkan anaknya makan tanpa banyak bertanya. Setelah melihat Andara selesai makan ibu sedikit berkata


" Tak selamanya apa yang kita inginkan harus menjadi milik kita. Kopi itu pahit sayang, tapi realita lebih pahit" Ibu sedikit bergumam


"jodoh itu Tuhan yang ngatur, kalo memang dia bukan jodoh mu sekuat apa pun kamu mengengam nya dia akan berlari juga, belajar lah ikhlas walaupun memang untuk ikhlas itu berat" setelah itu ibu beranjak dan membiarkan Andara merenungkan kata-kata ibu.


Andara masih duduk tertegun, dia menatap air di dalam gelas yang tenang. Dan membiarkan hangatnya air pergi berlalu seiring waktu berlalu.


Seandainya aku punya sayap, aku ingin pergi sejauh mungkin dari sini.


"Dear penjaga hati, kamu harus tau, aku butuh kamu saat ini"


Tiba-tiba bel pintu pun berbunyi. Andara masih engan beranjak dari kursinya.

__ADS_1


Ibu bergegas ke depan dan melihat seorang pemuda yang cukup tampan tersenyum manis


"permisi tante, Andara nya ada?" Arsyil bertanya.


"oh nak Arsyil, silahkan masuk, tuh Andara lagi duduk, sambil menunjuk ke arah kursi"


setelah mempersilahkan masuk Arsyil pun melangkah mendekati Andara.


"hey dor!" Arsyil berusaha mengagetkan Andara.


Tapi Andara tidak beraksi dan tatapannya begitu dingin sedingin es batu.


"ya elah, ada cowok ganteng di depan mata mu, di kacangin ckckck... dasar Dara"


"Aku kesini mau mengajak kamu jalan? kamu mau kan?"


"hey.....helo...." tangan Arsyil menarik sedikit tangan Andara.


"ya ellah, ayuk...." Arsyil menarik Andara, dan melangkah ke depan. Andara ya di tarik tangannya tampak pasrah. Tak menolak.


"iya.....Ayu pelan dong jalannya" Akhirnya Andara merespon ajakan Arsyil


Setelah itu Arsyil meminta ijin mamah Andara untuk membiarkan Anaknya menghirup udara segar.


Tuhan punya rahasia, yang tak seorang pun tau rahasianya.


" Ayuk kita beli es cream" Arsyil mengengam tangan Andara, Andara hanya mengangguk tanpa bicara sepatah katapun.

__ADS_1


"tadi malam aku mimpin kamu" Arsyil menegaskan.


"Oh ya, wa aku kok cek list semua.


kapanpun kamu membutuhkan ku, aku ada buat kamu"


Muka Andara tampak celemong memakan es cream


" sini ku bersihkan muka kamu" Arsyil membersihkan muka Andara yang celemong karena makan es cream.


Andara hanya sedikit tersenyum.


"nah gitu dong, kan kamu lebih cantik kan kalo lagi tersenyum" Arsyil melanjutkan bicara.


"habis ini kita ke taman yuk" lanjut nya bicara tak menunggu jawaban dari Andara.


Andara hanya mengangguk kan kepala tanda setuju. Bagaimana pun juga Arsyil bagi Andara adalah sahabat . Walaupun Andara tau kalo Arsyil suka sama Andara.


Cuaca hari ini lumayan cerah walaupun tidak secerah hati Andara.


Matahari perlahan beranjak pergi, dan malam pun mulai datang membawa mimpi baru. Hari ini hari yang panjang, sepanjang harapanku pada hari esok.


Disebuah halaman kosong, ku tuliskan babak baru dalam hidup ku.


Hening malam mulai menyapa dan membawaku terhanyut dalam hening nya.


Angin malam mulai menari-nari lincah seolah olah menunjukkan kalo di dalam hening malam ada udara dingin yang menyelimuti ku.

__ADS_1


Kalau kamu tidak bisa menjadi penjaga hatiku, tolong jangan hancurkan harapanku.


__ADS_2