Hujan Air Mata Andara

Hujan Air Mata Andara
Salah Memilih


__ADS_3

Berdiri di depan cermin, lalu memilih baju yang pas di badan


"hmmm ..." Andara tampak bingung mau pakai baju apa hari ini


"ya ampun, warnanya ga ada yang soft apa ya..."


setelah setengah jam memilih baju, tetap saja belum merasa sreg.


Hujan di luar belum juga reda.


Tiba-tiba bel pintu rumah berbunyi.


"hmm siapa pagi-pagi datang bertamu" gumam Andara sembari memakai baju warna merah menyala dan bergegas ke depan pintu.


Sesampai depan pintu dia terkejut dengan sosok yang ada di hadapannya.


"ya ampun pak Haris, ada apa pagi-pagi datang ke rumah." penuh tanda tanya dalam benak Andara.


"Pagi Bu...Mobilnya sudah siap berangkat" Pak Haris sembari tersenyum.


"hah mobil? mobil apa Pak Haris?" masih agak bingung Andara penuh tanya.


"saya di suruh pak bos untuk mengantar jemput ibu" Jawab Pak Haris.


"oh begitu, baik lah tunggu sebentar pak Haris" Jawab Andara sembari bergegas mengambil tas kerjanya.


Tak berapa lama Andara pun menuju mobil yang terparkir di depan gerbang.


Hari ini hujan agak lebat juga. Tapi untungnya aku di jemput Pak Haris sehingga aku tak perlu basah - basahan terkena hujan.


Tak berapa lama, mobil yang Andara tumpangi melesat menuju gedung Kantor nya.


"selamat pagi bu..." staf front office tersenyum dan menyapa ku.


"pagi juga" Jawab ku.


Melenggang menuju ruangan ku yang ada di pojokan.


Ku buka pintu ruangan ku, dan ke lihat pak bos duduk di meja ruangan ku.


"Eh Pak Bos, ada yang bisa saya bantu" Andara bertanya karena Bosnya sudah menunggu nya di ruangannya.


Bos yang aneh menurut ku sih, terlalu perfesionis , padahal aku cuma telat 1 menit, tapi dia sudah nungguin aku di ruanganku. Apa perlu ku setel alarm gumamku.


Dia hanya menyeringgai tampa senang berbunga-bunga.


"ah tidak ada, saya kesini hanya mau lihat kamu" rada gombal nih si obos.


"oh gitu, hari ini maaf saya telat karena di luar hujan lebat"


"tidak apa kamu cuma telat 1menit 10detik" tegas Pak Obos.


nyaelah antik banget punya Bos macem begini, disiplinnya sangat tinggi.


Dan karyawan di sini sangat disiplin juga, pantesan perusahaan ini cepat sekali majunya.

__ADS_1


" Oh iya, kamu sudah bikin laporan untuk bulan ini kan?" Tanya si Obos lagi.


"sudah Pak Bos, ini laporannya" sembari ku serahkan laporan yang tadi malam ku selesaikan.


"wih mantap, rajinnya kamu" Sanjung nya


"Baiklah nanti kalo hujannya reda kamu ikut saya mengunjungi clien" Pak bos berujar setelah itu dia pun pergi ke ruangannya.


" baik Pak bos" Jawabku.


...


Melangkah meninggalkan ruangan Andara, menuju ruangan kerjaku.


Hari ini aku sangat puas rasanya.


Kini setiap hari aku bisa pergi bersamanya.


Hatiku sangat bersemangat . Entah kenapa aku sangat senang menatap dia.


Ada rasa bahagia yang menyelimuti ku sejak hadirnya di perusahaan ini.


Setelah sampai keruangan nya Arsyil duduk di kursinya sembari meminum kopi hangat yang sudah ada di mejanya.


Sembari menandatangani berkas-berkas yang menumpuk di meja nya.


Baginya ini hari yang sangat menyenangkan.


Rasa jemu yang selama ini hinggap kini berlalu bagaikan angin yang tertiup dan berhembus.


Sesekali melihat jam di tangannya.


"iya silahkan kan masuk" Pak Bos menyahut Andara .


"silahkan Duduk" Dia mempersilahkan Andara duduk.


"terima kasih" jawab Andara sembari tersenyum.


"sebentar ya, masih ada berkas yang belum selesai saya tanda tangani" Pak bos sesekali menatap mata Andara dan lalu fokus kepada berkas-berkasnya.


Setelah sepuluh menitan Andara menunggu akhirnya Pak Bos selsai juga dengan berkas- berkasnya.


"baiklah saya sudah selesai, mari kita berangkat" Ajak Pak Bos sembari berdiri dan Andara pun menganguk kan kepalanya tanda setuju.


Melangkah dengan penuh semangat.


Dan mereka pun pergi untuk menemui clien nya.


Hujan hari ini sudah berhenti. Tapi jalanan masih terlihat basah.


Sesampai di tempat yang di tuju, Andara merasa sedikit shock karena sosok cliennya tak lain dan tak bukan adalah Bambang.


Cowok yang pernah singgah dan menumpahkan kan air matanya.


Andara berusaha bersikap formal, dan tersenyum menyalami Bambang.

__ADS_1


"Silahkan Pak, saya juga baru sampai" Sapa Bambang sembari mempersilahkan Andara dan Pak Bos duduk di kursi yang sudah tersedia.


Dia mungkin lupa dengan ku.


Dan mereka pun berdiskusi dengan santai.


Andara berusaha profesional menjelaskan semua jurnal yang sudah disiapkan perusahaan untuk menjalin kerjasama dengan cliennya.


"Siapkan surat kontraknya" Pak bos memintaku untuk menunjukkan berkas surat kontrak. Perlahan ku siapkan di meja.


"oh ini Pak Bambang berkas untuk kontraknya silahkan Bapak bisa menandatanganinya disini" Andara menjelaskannya.


Dan Pak Bambang pun tanpa banyak tanya menandatangani kesepakatannya.


Setelah selesai pertemuan pun berakhir , kami masing masing pergi ke perusahaan masing- masing.


Ada luka lama yang terkuak lagi. Ingin ku menangis tapi air mata ku rasanya sudah kering.


"Dara, ada masalah?" tanya Pak Bos.


"tidak pak" jawab Andara


"tidak biasanya kamu banyak diam, kalo ada masalah kamu boleh share dengan ku" pak Bos berujar lagi.


Andara tersenyum, dan berusaha menyembunyikan luka dalam dada nya.


"tidak ada PAK" Andara berusaha menyakinkan pak bosnya.


"pak bos , maaf saya ijin kebelakang sebentar" pamit Andara sesampai di depan gerbang perusahaanya sembari bergegas menuju toilet yang tidak begitu jauh.


"ok, nanti tolong buat jurnal untuk cliennya yang lainnya" pinta pak bos.


"baik pak" Sembari melangkah setengah berlari menuju toilet.


Sesampai di toilet, ada air mata yang keluar deras tak tertampung lagi.


Hujan deras kini turun di sertai petir menyambar - nyambar. Seolah-olah petir ingin menghanguskan ku.


Perlahan ku usap air mata ku, hari ini aku mendapati kenyataan kenangan yang ku pikir sudah sirna di ingatanku, ternyata dia masih datang melukai jiwaku. Oh hujan , jejak langkahku perlahan kau hapus.


Kenangan dan genangan sisa -sisa hujan masih saja terberkas dalam jiwa.


Seandainya kamu tau apa yang kurasakan, se kuat apa pun aku, jiwaku nyata nya rapuh se rapuh -rapuhnya.


Kini yang tersisa air mata dalam kenangan.


Seandainya aku bisa memilih takdirku, aku tak ingin mengoreskan kenangan hujan badai yang terlah tenggelamkan ku di dasar terdalam.


Mengubur semua jiwaku sedalam-dalamnya. Nyatanya semua ini adalah takdir ku.


Ku tarik nafas sedalam- dalamnya, mungkin apa kata ibu benar aku harus ikhlas , karena Tuhan tau apa yang terbaik untukku.


Ikhlas menjalani guratan takdir


"akh..."Andara menarik nafas lagi dan membasuh muka nya.

__ADS_1


Ada sembab yang tersisa di sudut matanya.


Setelah itu dia mencoba menyamarkan sembabnya dengan make up nya.


__ADS_2