
10 Tahun yang lalu...
Saat itu Dara ,Dita dan Sita adalah 3 Sekawan yang sangat solid.
Terik mentari tak menyurutkan mereka bermain basket.
"Ayo Dara...kamu bisa" Teriak Sita.
Dara pun melempar bola tepat pada sasaran.
"wuih keren kamu Dara..." Sita berkomentar. Saat mereka asyik main basket tiba-tiba cowok cupu lewat.
Seketika ide jahil mereka muncul.
Entah apa yang merasuki mereka.
Mereka lempar bola basket dan menegenai kaki cowok cupu yang baru lewat itu.
"aww..." cowok cupu itu kaget bukan main.
Dan meringis ke sakitan.
Dia tidak mau ambil pusing , dia lanjutkan berjalan ke kelas.
" sssttt..." Dara memberi kode mata sama genk nya.
Dan Dara dan Dita mereka tersenyum puas sudah menjahilin Cowo Cupu tadi.
"Geng sudah kasihan , undahan yu kita ke kantin saja" Sita meminta geng nya untuk berhenti menjahilin anak cupu itu, yang diam- diam ternyata Sita naksir tuh cowo cupu.
Menurut Sita cowok tadi tidak cupu tapi uniq se uniq-uniq nya . Di sorot matanya yang tajam tersimpan pesona yang diam- diam membuat Sita terpesona.
Setelah cowok cupu itu menghilang dari pandangan mereka. Mereka berhenti bermain bola basket. dan mereka duduk di bawah rimbunan pohon yang tidak jauh dari lapangan tersebut. Sambil ber senda garau mereka cecakak cekikikan.
Jam istirahat pun berlalu, akhirnya mereka bergegas masuk ke ruangan kelas H.
Ruangan yang ada di pojokan.
"Selamat siang anak- anak hari ini kaliana akan bapak bagi tugas dan kalian bisa membuatnya perkelompok." Pak Dedi guru matematika memberikan Tugas kelompok.
Setelah membagi kelompok Pak Dedi bergegas pergi ke ruangan guru.
Setelah pak guru pergi dari kelas Dita dan Sita mendekati Dara
"gimana nih Dara? cowoq cupu itu sekelompok dengan kita?" Tanya Dita yang tampak sangat tidak nyaman. Dara yang di tanya sih cuek bebek aja.
Sementara Sita diam- diam sangat senang sekali.
"wih asyik sih kata ku geng...." Sita senyum -senyum sendiri
Dara dana Dita melonggo.
__ADS_1
Tak seberapa lama Robi mendekati ketiga cewek itu dengan gayanya so cool.
"hai ceweq...." sembari mengedipkan mata sama Dara.
"huek..." Andara yang di kedipin ilfil.
"ahahha...." Dita mengetawakan sikap Dara yang di godain Robi.
"wih ini yang namanya cowok keren Dara...."
"huh keren dari mananya dari hongkong" Dengan sikap ketus.
"Hai...hai..." Robi ga peduli dengan sikap jutek Dara,
"Hai juga ganteng..." Dita menjawab sapa Robi, sementara Dara yang di godain cuek bebek.
"wow bibirmu keriting gitu keren...besok kita kerja kelompok di rumah ku ya" Robi yang ternyata sekelompok juga dengan mereka tampak menawarkan diri rumah nya untuk di jadikan tempat untuk mengerjakan kerja kelompok.
"tenang saja aku jemput kalian semua ok? Deal ya" Robi melanjutkan kembali.
"hmmmm" Dara hanya menarik nafas, sementara Dita dan Sita sih senang- senang saja.
"ok deal" Jawab Dita mewakilin geng nya yang tak berkutik.
Setelah itu ,Robi senyum -senyum tebar pesona.
" cya cuantik..." Sambil pergi meninggalkan 3 Cewek itu,
Robi yang di jutekin malaha cekikikan senangnya minta main.
"ya elah Dara, aku heran deh sama kamu, Cowok ganteng gitu kamu galakin, cewek lain ngejar-ngejar dia tau" Jelas Dita.
"silahkan ambil saja , buat kamu" tukas Dara.
Masih saja ga peduli.
Sementara di pojokan Cowok Cupu itu hanya membaca buku , tanpa peduli dengan kebisingan kelasnya sehabis Guru nya meninggalkan kelas.
Dara beranjak pergi dari bangkunya. Dan menghampiri cowok cupu yang tadi kena lemparan bola basket.
"hey, kamu kok cowok cupu tadi..."
Ternyata cowok cupu tadi siswa pindahan.
"iya...ada yang salah kah?" Tanya nya.
"nga ada...aku baru lihat kamu di kelas ini" Tanya Dara kembali.
"ya jelas lah kamu baru lihat aku, aku kemaren sibuk mewakilin sekolah ini mengikuti olimpiade matematik" Jawabnya.
"oh gitu"
__ADS_1
"iya.." Wajahnya tak jauh dari buku tebal yang di baca -baca.
"heh ga sopan banget sih kamu, orang nanya itu kalau jawab tatap mukanya tau" Sergah Dara yang merasa sedikit kesal karena baru kali ini, di kelas tercintanya ada orang yang super cuek bebek kayak makhluk yang satu ini.
Arsyil yang di ajak bicara tetap fokus ke buku tebalnya. Bukannya dia ga mau menatap muka Dara, tapi baru pertama kali baginya di ajak cewek, se populer Dara di sekolahnya.
Dia berusaha mengalihkan pandanganya karena dia merasa sangat malu dan deg- deg an.
Karena kesal Dara ambil buku tebal dari tanggan Arsyil.
"jadi kamu lebih memilih menatap buku tebal ini ketimbang menatap muka ku" Sergah Dara rada berapi-api.
"eh....bukan gitu maksudku.... anu...." akhirnya Arsyil memberanikan diri menatap wajah Dara yang sangat cantik.
Bagi Arsyil , Dara adalah cewek idamannya walau pun muka nya jutek dan sadis seperti itu.
Lima menitan ada kayaknya Arsyil menatap wajah Dara.
Dan Dara yang di tatap Arsyil dengan tatapan tajam merasa sedikit kikuk tiba-tiba.
Buru- buru dia kembalikan buku tebal itu
" nih buku kamu. Nah gitu dong lain kali kalau aku bicara tataplah wajah ku , kamu pikir enak di kacangin" Setelah itu langkah kaki Dara pun menjauh dari meja Arsyil.
Arsyil tetap saja bengong , matanya terus tertuju dengan Dara, yang kini langkahnya mulai menjauhinya.
Mata indah Dara masih saja bertamaysya di pikirannya.
"Akh...." Arsyil mengcoba menahan degup jantungnya.
"Seandainya kamu tau Dara, jauh dalam hati ku ini, aku adalah pemuja mu" Kini Arsyiil mencoba memfokuskan diri kepada bukunya, tapi ada gejolak yang membara di batinnya. Yang seolah- olah berkecamuk.
Betapa dahsyatnya rasa ini, sekuat apa pun aku berusaha lari dari kejarannya tetap saja aku tak kuasa menolak kehadirannya.
Akh ini kah yang dinamakan cinta" Batin Arsyil terus mengembara , tatapannya kosong walau pun tertuju ke buku tebal itu.
Bel sekolahpun berbunyi. Dan menandakan berakhirnya mata pelajaran hari ini.
Sesaat Arsyil menumpuk buku-bukunya, Tiba- tiba Dara menghampirinya lagi.
"Heh anak cupu, hari ini kamu anterin aku ya ke toko buku buat nyari bahan untuk tugas kelompok kita" pinta Dara tanpa basa-basi.
"iya ....ayo...." ajakan Arsyil. Sambil melangkah menuju tempat parkiran.
Cupu-cupu tapi mobilnya bagus juga. Bisik dalam hati Dara, ayo geng ngikor sini, Dara melambaikan tangan kepada Sita dan Dita.
Mereka pun merapat. Dan mengikutin Arsyil dan Dara dari belakang.
Tanpa banyak bicara Arsyil mengemudikan mobilnya dan melaju ke toko buku yang di sebutkan Dara.
Hari pun berlalu.Senja merayap menghampiri.
__ADS_1