
Debur ombak menerjang batuan tebing yang berdeburan, seolah-ulah ingin melahap semua yang di terjangnya. Angin bertiup sepoi-sepoi seolah - olah menyapa ku agar ku terlena dengan sejuknya.
Entah apa yang membuat ku takut saat sendirian disini, Apakah nyanyian sunyi yang menari- nari yang menertawakan ku karena nyatanya aku tenggelam atas nama cinta. Atau bunyi bising ombak yang menalu - nalu memukul batuan yang memekakkan telinga. Akh entalah bagiku ini sesi terpuruk dalam hidupku. Dimana nakhoda yang sangat ku percaya telah membuat ku tengelam. Tengelam sedalam - dalamnya. Apa salahku? Mungkin salahku adalah terlena dengan buai angin yang semilir meniup helaian rambut ku.
Sebatas titik jenuh yang ku abaikan. Ada awal pasti ada akhir. Ya inilah akhir yang ku telan dalam - dalam.
Saat ku pikir dermaga penantian itu indah di penuhi dengan warna - warni pelangi yang menghiasi setiap detik langkah dan penantian, nyatanya hujan dan badai tenggelamkan kapal pijakannya.
" Dinda..." panggil Setyo.
"eh iya ada apa?" setengah kaget
" dari tadi ku perhatikan kamu hanya melamun, ada apa?" Tanya Setyo.
"eh ngak tadi pamanku meneleponku, dan memberitahuku November nanti katanya ga usah pulang dulu, karena di sebelah rumah ada yang nikahan" Sembari menahan air mata agar tidak terjatuh.
"loh kamu kenapa, emang kenapa paman kamu mengabari mu begitu?" Setyo penuh selidik.
"Anu....." Dinda terbata - bata.
"iya anu kenapa?" Setyo bertanya kembali.
"pasalnya pacarku menikah" Jawab Dinda dan terurai lah air mata yang coba dia tahan.
Setyo hanya terdiam, dan berpikir keras bagaimana membuat Dinda sahabatnya tersenyum kembali.
"yang sabar ya Dinda..., aku bingung mo bilang apa, aku tau itu berat tapi kamu harus tetap semangat, mungkin dia bukan jodoh mu.... Allah akan menggantikan orang yang lebih baik untuk mu." Setyo dengan sangat berhati-hati mencoba menenangkan tangis sahabatnya.
"hiks....terima kasih Setyo, Bisakah kamu membiarkan ku sendirian?" pinta Dinda.
"baiklah, kalau kamu ada perlu apa - apa jangan sungkan- sungkan ke ruanganku." pinta Setyo. Dan dia pun memberi ruang untuk Dinda sendirian.
Hujan lebat tak bisa di bendung, badai datang tak bisa di hadang. Tak ada seorangpun yang tau kemana arah langkah kaki kita.
Kilat menyambar- nyambar seolah - olah ingin membumi hangus kan apapun.
Menunggu hujan badai reda membutuhkan waktu, waktu yang panjang. Sisa jejak ku terhapus oleh genangan hujan.
Jam dinding di kator berbunyi keras.
Menandakan waktu untuk pulang.
Tapi Dinda, masih terdiam menatap laptop nya. Meski dia hanya bengong saja menatap tanpa fokus.
Setyo yang tadi pergi ke ruangannya, menghampiri kembali meja Dinda.
"Dinda....ayo ku antar Kamu pulang?" Ajakan Setyo.
Karena Setyo tau benar , hal apa yang menimpa sahabatnya itu.
"Dinda,,, ayo" Ajakan Setyo Kembali
Dinda yang di ajak bicara masih tertegun. Entah dimana jiwa nya, Jiwanya terasa kosong melompong.
" Dinda menolak , dan dia pulang membawa mobil sendiri"
Walaupun menolak, dengan setia Setyo mengikuti dari belakang mobil Dinda.
Tiba- tiba mobil Dinda menabrak pembatas jalan.
"ya ampun Dinda, kamu ga apa-apa" Setyo memeriksa mobil yang di kendarai Dinda. Nyatanya kepala Dinda terbentur hebat.
Dan Setyo segera membawa Dinda ke rumah sakit terdekat.
"Dinda kamu cantik deh" Dinda berhalusinasi.
"kamu di mana mas?" Tanya Dinda.
__ADS_1
Dinda tidak sadar kan diri, dia mengigau.
Setyo sebagai sahabat Dinda merasa kasihan.
"ya ampun ada apa dengan mu Dinda, sadar lah" Tanya Setyo yang mencoba membangunkan Dinda dari komanya.
Hujan di luar belum juga reda. Semakin lama semakin lebat.
Di bawah guyuran hujan yang lebat, ada Dinda yang berusaha berlari dari kenyataan pahit hidup.
Hidup itu penuh liku, nyatanya tidak semua orang kuat menahan hujan badai. Ada yang tersapu badai.
Di sunyi nya malam, Setyo yang duduk di samping Badan Dinda yang masih belum siuman. Mencoba menghubungi keluarga Dinda di kampung. Tapi nomor yang di hubungi tidak tersambung.
Gemuruh badai yang menghancurkan harapan.
"Dinda..." Setyo mencoba memangil Dinda.
Masih saja dia koma.
Setahun berlalu, Dia tertidur. Dia berlari dari kenyataan beban hidup.
Setyo begitu setia dengan sahabatnya.
Setiap hari dia melihat keadaan Dinda yang masih juga koma.
Dinda tersadar, dan melihat sekeliling. Begitu asing.
"dimana aku..." tanya Dinda.
Akhirnya dia tersadar dari koma.
" kamu siapa?" tanya Dinda kembali kepada Setyo.
Setyo sangat kaget, karena Dinda telah lupa dengan siapa dia, dan siapa dirinya.
"Dinda itu siapa?" tanya Dinda, dia agak bingung dan linglung.
"Dinda itu kamu....ya ampun" Setyo bingung dan mencoba bertanya kepada Dokter.
"bagaimana dok, keadaan teman saya?" Tanya Setyo.
"sepertinya dia mengalami sedikit masalah dengan ingatannya" Jelas Dokter.
"kami sudah berusaha.menolongnya semaksimal mungkin." Jelas Dokter kembali.
"kapan pasien sudah boleh pulang Dok" Setyo bertanya kembali.
"Setelah pemerikasaan lebih jauh selesai" Dokter menjawab.
"ini ada resep obat yang harus di ambil " sambil menyerahkan resep obat.
Setelah pemerikasaan selesai Dokter pun meninggalkan ruangan tersebut.
"hmmmm..." Setyo menarik nafas yang dalam.
Setelah itu dia mengantri mengambil obat di bagian obat.
Dinda yang kebingungan , masih terbaring.
Mengamati keadaan sekitar. Dan dia mencoba mengingat kembali siapa dirinya.
Sejatinya dia kehilangan jiwanya.
Hujan badai mulai reda.
Banyak jejak yang sudah terhapus badai.
__ADS_1
Setelah ini yang tersisa adalah keheningan malam.
Malam yang terjaga menyelimuti tubuhku.
Malam yang setia menjagaku.
Malam pun yang belalu tinggalkanku
bersama jiwa yang hampa.
"Selamat malam" ucap Setyo.
" besok pagi kita sudah bisa pulang Dinda"
Dengan penuh semangat Setyo meluapkan kegembiraannya.
"tidur yang nyenyak yah cantik" tuka Setyo.
Dinda hanya tersenyum.
Melihat senyuman di wajah sahabatnya membuat Setyo merasa bahagia.
.....
Pagi sekali Setyo datang ke rumah sakit dan menyiapkan berkas untuk kepulangan Dinda.
Setelah semua prosedur selesai akhirnya Dinda pun bisa pulang.
Awal yang baru. Hidup yang baru.
Kini Dinda tak merasakan sakit lagi.
Karena dia sudah melupakan masa lalu nya.
Hari yang baru tiba, hari yang cerah secerah jiwa ku.
" Hai Dinda..." Sapa Setyo
"hai juga"
"gimana tidurmu semalam"
" yang pastinya nyeyaklah"
dengan sumringah Dinda menjawab pertanyaan Setyo.
"akh baguslah kalau begitu wkwkkw....aku senang deh kamu ada disini "
...
"Dinda...hay kami Dinda kan" Dara menyapa Dinda yang sedang duduk di taman yang tidak jauh dari rumahnya.
Dinda hanya mengernyitkan kening
"kammmuuu siapa?" tanya nya
"ya ampun Dinda ini aku temen kamu Dara" Andara setengah kaget, karena Dinda sahabatnya tidak mengenalinya.
Setyo datang menghampiri kedua gadis itu.
" Dinda...kamu ngobrol dengan siapa?" tanya Setyo.
"dia Dara , katanya sahabat ku...!" jelas Dinda.
Setyo segera manggil Andara yang melangkah menjauhi mereka.
"hey...mba...tunggu...tunggu sebentar" Teriak Setyo memanggil Andara.
__ADS_1