
Melangkah perlahan dari titik awal. Merangkak pergi menjauhi bayangan.
Bayangan yang tadi mengikuti, kini tengelam dalam kegelapan malam.
Di persimpangan jalan seyogyanya ada perbatasan jarak antara hatimu dan hatiku yang kini terurai oleh jarak dan lekang nya waktu yang berlalu.
Selembar demi selembar roda-roda kehidupan berlari meninggalkan porosnya, waktu yang terus berjalan tak pernah bisa di hentikan sedetik pun.
Mencoba menahan rasa pahit yang harus di telan. Rasa hambar yang tergurat jelas di wajah.
Ada rasa tak percaya , dan ada rasa tak berdaya yang menghinggapi.
"Akh....." Dara mencoba menarik dalam-dalam nafasnya.
"ini bukan akhir, ini baru awal" Dara mencoba menguat kan diri.
Ibu mengetuk pintu dan melangkah mendekati anaknya yang sedari tadi hanya bengong
Sejatinya seorang ibu, tau benar rasa sakit yang rasakan anaknya .
Ibu memeluk Dara, dan mengusap rambutnya.
"ibu tau ini berat, tapi, Tuhan tau apa yang terbaik untuk mu nak. Coba lah ikhlas, saat kita ikhlas dia akan memberikan pengganti yang jauh lebih baik dari dia" ibu mencoba memberi wejangan.
Sambil terus membelai rambut anaknya.
"yuk kita makan dulu nak" Ajak ibu kepada Dara.
Dara yang diajak menganggukkan kepala dan berusaha tersenyum.
"ayo bu, kebetulan perut Dara udah keroncongan nih" Jawab Dara, tanpa menunggu lama.
Dara berusaha untuk tidak terus larut dari masalahnya.
Setelah itu Dara duduk di meja makan, tanpa banyak bicara dia makan dengan lahapnya.
Ibu sangat senang, karena sorot mata anaknya memancarkan gairah semangat yang membara.
"enak banget bu masakan ibu" Pujian Dara.
"iya nak makan yang banyak ya, ibu sengaja masak kesukaan mu" Ibu tersenyum gembira karena melihat anaknya tumbuh menjadi orang yang mandiri, berwibawa dan percaya diri.
Baginya senyuman yang terlukis di wajah anaknya sangatlah penting.
Harta satu-satunya yang dia punya hanyalah Dara.
"syukurlah ibu merasa lega, melihat kamu baik- baik saja nak" Ibu tersenyum kembali
"terimakasih banyak bu sudah menjadi ibu Dara...ibu adalah ibu terhebat di dunia ini" Dara tersenyum bangga menatap wajah Ibunya.
"iya nak, terimakasih juga sudah hadir menemani ibu, karena kamu ibu kuat menjalani ini semua, kamu adalah kekuatan ibu, mangka dari itu berdiri lah tegak se susah apa pun jalanan yang kita tempuh, Tuhan tau apa yang terbaik untuk kita" sembari membalas senyuman anak semata wayangnya.
__ADS_1
Setelah selesai, Dara membereskan piring dan mencucinya.
.....
Semangat pagi, matahari terbit pagi ini, hari yang cerah secerah jiwaku. Ku mulai melangkahkan kaki ku, menapaki jalanan yang panjang penuh kerikil, Jalanan tak pernah semulus yang kita mimpikan. Semua ini harus di perjuangkan.
Hari ini Dara mengenakan kemeja pink dan span hitam. Dia begitu anggun dan mempesona, wajahnya yang cantik mampu meluluhkan hati buaya Dara sekalipun.
Tapi siapa sangka hidupnya begitu keras, sekeras batu .
Dia berjalan meninggalkan gerbang rumahnya, dan memilih berjalan ke tempat dia berkerja.
Baginya berjalan bukan hanya sekedar hobi tapi juga untuk sedikit melepas rasa tegang.
Melangkah pasti dia berjalan menuju ruangan kantor nya.
"selamat pagi, pak..." Sapa salam Dara memecah hening.
Rupanya si bos udah datang duluan.
"iya selamat pagi, hari ini kamu telat sepuluh menit" Timpal si bos.
"iya maaf pak bos tadi saya ada sedikit kendala di jalanan" Dara buru-buru meminta maaf.
"iya tidak apa, lain kali saya jemput kamu ke rumah mu ya.."
"eh ...ga usah pa bos, saya bisa datang ke kantor lebih cepat"
"ga usah pak bos, rumah saya tidak ada garasi nya"
"kata siapa? setiap karyawan disini di sedia kan rumah dan akomodasi lainnya, jadi mulai besok ini rumah yang kamu tempati" Pak bos sekalian menyerahkan kunci sebuah apartment.
Dara tampaknya tidak bisa menolak.
"iya siapa pak bos"
"nah gitu dong " sembari pak bos tersenyum puas dan tebar-tebar pesona.
"tolong bacakan schedule saya hari ini apa"
"jam 10 nanti ada rapat pemegang saham pak bos" Jawab Dara.
"oki sip, tolong siapkan semua dokumen yang di perlukan" timpal si bos.
"siap bos , semua dokumen sudah saya siapkan" jawab Dara.
Setelah itu si Bos pergi meninggalkan Dara sendiri di ruangannya.
Dara duduk di kursi nya dan mengecek semua persiapannya.
Dia susun rapi semua file -file nya.
__ADS_1
...
Memasuki ruangan rapat bersama pak bos, dan semua pemegang saham sudah duduk di kursi masing-masing.
Rapat pun dimulai.
"Silahkan presentasikan datanya " bisik pak bos.
Aku mulai mempresentasikan semua secara detail sesuai dengan arsip dan file-file yang sudah ku susun.
Semua Orang di dalam ruangan itu tertuju pada presentasi ku, seakan mereka tidak berkedip menatap ku.
Pak bos sangat kagum dengan kinerja ku.
"wah kamu emang hebat, ga salah saya memilih mu" puji Pak Bos setelah rapat selesai.
Semua pemegang saham pun bertepuk tangan dan setuju dengan semua presentasiku.
"ide yang sangat menarik dan cemerlang, selanjutnya kami mempercayakan mu untuk menghandle proses nya di lapangan.
Setelah penutupan rapat hari ini selesai.
Jalanan yang terjal kini mulai ku daki satu tahapan ke tahapan yang lain.
Kadang lelah jiwaku,ini bukan akhir tapi ini adalah awal. Ku tak mau berhenti di tengah jalan walau jalanan sangat keras dan terjal.
Serapuh apapun jiwaku, masih ada harapan hari esok yang ku panjatkan lirih di dalam setiap doa ku.
Biarkan aku berbisik kepada Tuhan , biarkan aku mengadu kepada Tuhan dari semua rasa pedihku. Dari semua rasa tak berdayaku, aku harap aku masih kuat berdiri tegak.
Denting waktu berlalu, bayangan yang tadi terus melangkah mengikutiku kini sembunyi di kegelapan malam.
"Akh....sedikit penat ku hari ini bisa ku lepas kan" Ujar Dara dalam hatinya.
Sembari dia merebahkan badannya yang sedikit merasa lelah. Bukan badannya saja yang lelah tapi jiwa nya saat ini merasa amat sangat lelah dengan kecamuk batin yang mengiris - ngiris nya per lahan.
Masih saja, air matanya keluar tak tertahan, hanya lelah badan bisa ku istirahatkan tapi lelah batin dan jiwa itu butuh waktu untuk menyembuhkannya.
Sejatinya air mata ini , adalah ungkapan rasa kecewa yang amat terdalam yang tak kuasa di bendung.
Cukup Tuhan tempatku mengeluh dari rasa sakit ku.
Dara memeluk guling dalam kegelapan, sejatinya teman sejatiku adalah kegelapan dan malam yang kelam. Saat semua berusaha bermimpi dia terbangun dari mimpi indahnya.
Akh aku tak ingin bermimpi lagi ,aku masih kuat dengan rasa sakit ku.
Malam yang panjang, hujan pun turun menyapa ku.
Udara yang dingin menusuk jiwaku yang sepi.
Ku coba menutup mataku kembali.
__ADS_1
"biarkan aku terbangun besok tanpa air mata lagi"