Hujan Air Mata Andara

Hujan Air Mata Andara
Ku titip Rindu untuk Bintang


__ADS_3

"aku ga apa - apa sayang, sudahlah jangan khawatir berlebihan" Jawab Dara berusaha menenangkan Lucky.


"bagaimana tidak khawatir ini pertama kali nya aku melihat kamu seperti ini!" Jawab Lucky.


Setelah bilang seperti itu Lucky menarik nafas dalam- dalam.


"aku punya satu permintaan!" Dara sambil menatap mata Lucky.


"apa itu sayang?" Tanya Lucky.


"bisakah kita tunda pertunangan kita itu sampai tahun depan?" Pinta Dara sembari memegang tangan Lucky dan penuh harap.


"tapi apa alasannya menunda selama itu sayang?" Lucky sedikit bertanya- tanya


"ada sesuatu yang menganjal, aku harus menyelesaikan ganjalan itu terlebih dahulu sebelum melangkah lebih lanjut dengan mu!" Jelas Dara sembari sedikit mata nya berkaca- kaca.


Melihat air mata yang tertahan di mata Dara , Lucky pun dengan berat hati mengikuti permintaan Dara.


"baiklah jika itu yang kamu mau, aku rela menunggu mu!" Jawab Lucky sembari mengusap air mata Dara.


"terimakasih sayang..." Dara merasa sedikit relaks dari ketegangannya.


"baiklah aku keluar dulu sebentar, dan kamu Sandra tolong jaga sepupu mu ini ya selama aku pergi!" Setelah berkata demikian Lucky pun melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.


"kakak, kalian berdua pacaran ya?" Tanya Sandra sedikit kaget.


Dara hanya tersenyum tidak menjawab.


"duduk de... gimana pkl mu lancar?" Tanya Dara sedikit basa-basi.


"lancar kak! jangan khawatirkan pkl ku kak, khawatirkan kondisi kakak dulu, apa kakak mau aku menghubungi Bu De?" Tanya Sandra.


"eh ga usah de, kakak kan cuma kecapaian?" Dara buru-buru melarang Sandra untuk mengabari ibu nya.


"ah ya sudah lah kalau begitu"


Setelah itu datang perawat membawa makanan untuk pasien.


Setelah di simpan di meja pasien perawat itu pergi ke ruangan lainnya.


"makan kak makanannya!" Sandra sembari menyodorkan nya.


Dara pun mengambilnya dan melahapnya.


"oh iya de , kamu sendiri sana makan." Dara menyuruh sepupunya untuk pergi makan.


"baik kak, aku tinggal dulu ya" Setelah itu Sandra pun pergi mencari makan.


Di ruangan itu kini tinggal Dara sendiri.


Dara bisa melihat dari jendela lalu lalang kendaraan di sebrang.

__ADS_1


Menatap jalanan yang tak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan membuat nya ingat akan masa dimana dia berjalan di tepian jalan bersama Bintang.


"hai Dara...." sapa Bintang.


"eh hai kamu , akhirnya kemari juga?" Jawab Dara dengan sumringah.


"bagaimana keadaan mu?" Tanya Bintang dengan sorot matanya yang tajam.


"seperti yang kamu lihat" Jawab Dara.


"jangan pikirin aku terus, kamu harus pikirin keadaan diri mu sendiri, lihatlah kamu kurus ceking kayak mayat hidup!" Bintang berusaha menasehati Dara.


"tapi Bintang aku sangat kangen sama kamu....bisa kah kita bertemu walau sesaat?" Tanya Dara sembari berlinang air mata.


"tidak Dara.... dunia kita sudah berbeda..." Bintang menggelengkan kepala.


"tidak kamu masih hidup....aku yakin kamu masih hidup kan" Dara menangis histeris.


"kemari lah bintang ku mohon, aku sangat kangen sama kamu?" Dara menangis sejadi- jadi nya.


"sudah lah kamu tidak akan mengerti arti perpisahan, ini perpisahan abadi Dara, aku sudah tidak ada di dunia ini, ku mohon jika kamu sayang sama aku, hiduplah bahagia aku akan sangat senang melihat kamu tersenyum dari kejauhan" Setelah bicara itu Bintang pun menghilang .


Dara berlari berusaha memeluk Bintang yang kini bayangan nya pun hilang tanpa tapak.


Dara terbangun dan menyeka air mata nya.


"akh ilusi Bintang begitu menyesakkan dada ku ...." Sembari mengusap air mata nya.


"Bintang...andai kamu masih hidup..." Sembari menghela nafas.


"kok kamu belum tidur?" Tanya Lucky melihat Dara yang duduk selonjoran.


"malam sayang, kok kamu ada disini?" Tanya Dara.


"lah iya dong , masa pacar ku sakit aku biarkan sendiri " Jawab Lucky.


"maaf jadi ngerepotin kamu" Dara merasa sedikit ngak enak kan.


"hussssss....siapa bilang aku repot, aku justru senang bisa selalu dekat dengan mu!"


Lucky menyakinkan Dara.


"makasih" Dara merasa sedikit tenang.


"istirahatlah, aku akan menjaga mu disini malam ini!" Lucky meminta Dara untuk tidur.


Setelah itu Dara membaringkan tubuh nya dan menutup mata nya. Meski pun angan nya masih jalan-jalan dan pikirannya masih menerawang ke cakrawala.


"andai kamu tau betapa aku sangat khawatir" bisik Lucky dalam hatinya.


Dia duduk di kursi yang tidak jauh dari ranjang tempat Dara terbaring.

__ADS_1


Sembari memainkan ponsel nya tatapan mata nya terasa kosong.


Setelah melihat Dara tertidur pulas dia mencari makan diluar.


"kakak kamu kok masih disini?"Tanya Sandra yang baru saja kembali dari luar.


"eh iya aku disini untuk memastikan kondisi kakak kamu baik-baik saja" jawab Lucky.


"ya udah kalo gitu aku mau tiduran di kursi sebelah sana?" sembari menujuk sebuah kursi.


Setelah bicara demikian Sandra pun tidur di sebuah kursi .


Hujan malam itu hujan tampak lebat. Angin bertiup menerpa daunan .


Tak ada Bintang yang berpendar malam ini.


Semakin larut malam udara semakin dingin menusuk tulang-tulang rusuk.


Ada Lucky yang masih duduk terjaga meski malam panjang terlewati dia hanya duduk di pojokan. Cahaya ruangan itu redup karena perawat mematikannya.


Suara ranting berderak-derak yang tertiup angin dan hujan menyemarakan malam yang sunyi itu.


Kantuk pun tak bisa dielakkan , setelah merasa sangat berat matanya untuk terbelalak, akhirnya Lucky pun tertidur pulas.


Dara terbangun dari mimpi buruk nya.


Melihat sekeliling nya sangat sunyi dan hampa, dia hanya duduk menatap keheningan malam.


"diluar hujan belum juga reda" Sembari menarik nafas dalam.


Dia raih botol air mineral dan lalu dia meneguknya.


Melihat sepupu nya yang sudah tertidur pulas serta Lucky yang tampak lelap dalam mimpi Dara pun kembali mencoba tidur.


Meski mata nya tertutup jiwa nya masih saja menerawang.


Angin malam masih saja menari-nari memainkan dedaunan pohon, seolah olah alam bersuka cita dengan hujan yang membasahi bumi.


"Bintang aku sangat rindu kamu..." Gumam Dara dalam tidur nya lelap nya.


Meski hujan tak juga berhenti dan angin cukup kencang bertiup, setidaknya di ruangan itu Dara cukup hangat.


Ada hangat dari sebuah harapan yang tercipta dari hening nya malam.


Semakin larut malam hujan pun mulai perlahan berhenti. Ada tapak jejak yang terhapus hujan. Ada setapak kenangan yang terbawa pergi oleh genangan air hujan. Andaikan ku lukis senja di rintik hujan, niscaya kan tercipta kenangan sebuah alur.


Manusia berencana tapi tetap Tuhan juga yang menentukan taqdir.


"mungkin ini taqdir ku" Bisik Dara dalam hati nya.


Begitu banyak luka tergores di jiwa yang menusuk dan menghimpit jiwa dalam temaram, tetapi selalu saja masih ada jalan panjang yang terbentang. Meski terkadang kita harus melaluinya dengan merangkak.

__ADS_1


Lucky tersenyum saat Dara memeblalak kan mata.


"pagi sayang, bagaimana tidur mu semalam apakah kamu bermimpi indah?" Tanya Lucky dan Dara hanya tersenyum.


__ADS_2