HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)

HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)
PERTANDINGAN TERAKHIR


__ADS_3

Siang itu, Humaira pergi ke sebuah bank untuk mengambil uang. Dia akan memberikan uang itu pada Sean untuk melunasi semua hutang keluarga Daud. Setelah mendapatkan uang itu, Humaira pergi ke hotel dimana dia melihat Sean menembak pria itu. Dia mencoba mencari CCTV yang ada di sekitar kamar hotel. Tidak lama setelah kejadian kemarin, kamar itu ternyata sudah ada yang mengisi. "Bagaimana caranya aku bisa masuk ke dalam kamar itu?" ucapnya. Sebuah ide cemerlang pun muncul dalam pikiran Humaira. Dia pergi untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian petugas hotel. Saat mengetuk pintu kamar hotel, keluarlah seorang wanita dengan rambut yang masih berantakan.


"Ada apa?" tanya wanita itu dengan wajah yang masih mengantuk.


"Aku datang untuk membersihkan kamarmu nyonya," jawab Humaira.


"Masuklah! Kau lakukan saja pekerjaanmu itu, aku akan melanjutkan tidurku. Jika sudah selesai, beritahu aku!" ucap perempuan itu.


Saat masuk ke kamar itu, Humaira tidak melihat seperti kamar, melainkan sebuah kapal pecah. Banyak kulit kacang yang berserakan di lantai, juga beberapa botol minuman di atas meja. Saat akan masuk ke dalam kamar mandi, banyak pakaian milik wanita itu yang berserakan dimana-mana. Awalnya Humaira merasa enggan untuk merapikannya, tetapi demi mencari bukti itu dia rela melakukan apapun. Kurang lebih dua jam di dalam kamar itu, Humaira akhirnya melihat kamera CCTV yang terpasang di sudut kanan paling atas. Dia segera mengambil salinan CCTV itu lalu pergi.


Saat tiba di kamarnya, Humaira langsung mengambil laptop miliknya untuk melihat rekaman CCTV itu. Saat dilihat ternyata tidak ada apapun yang terjadi di kamar itu. Bahkan dalam waktu yang seharusnya Sean melakukan penembakan, semua tidak ada dalam rekaman CCTV itu. "Apa Sean sudah menghapusnya?" ucapnya. "Tentu saja Humaira, dia itu seorang mafia. Kau tahu bagaimana cara kerja seorang mafia, dia tidak akan meninggalkan jejak sedikit pun."


Saat sedang sendiri, Humaira dikejutkan dengan kedatangan ayahnya. Dia langsung menutup laptop dan menyembunyikan salinan CCTV itu.


"Apa yang membawa ayah datang kemari?" tanya Humaira.


Walid duduk disebelah putrinya. Dia meminta Humaira untuk hadir dalam pertandingan nanti malam dimana Maroko akan menghadapi Kroasia. Mendengar permintaannya itu, Humaira yakin jika itu adalah permintaan Hakim yang ditujukkan untuknya hanya saja melalui sang ayah.


"Ayah mohon nak, datanglah!" pinta sang ayah. Ketika sang ayah sudah memohon seperti itu, Humaira tidak bisa menolaknya. Dia langsung mengiyakan permohonan sang ayah. Di samping itu, sang ayah memberitahu Humaira jika nanti malam ibu Hakim akan datang untuk menyaksikan pertandingan itu. Mendengar hal itu, Humaira sudah tidak terkejut lagi. Dia berharap ayah kandung Hakim pun ikut hadir. Mereka akan bertemu dan melepas rindu satu sama lain.


\*\*\*


Siang itu, ibu dari Hakim sedang merapikan rumah. Dia dikejutkan dengan kedatangan Savas bersama putrinya di rumah. Sang ibu langsung memanggil suaminya, Harun untuk menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang tuan," ucap Harun sedikit menunduk.


"Selamat datang juga untukmu nona," ucap ibu hakim.


Sikap Savas terlihat sangat dingin. Dia tidak membalas sambutan mereka dengan baik melainkan langsung pergi begitu saja mengantar Hana ke kamarnya. Sementara Hana, dia terlihat sangat baik. Dia mencium tangan Harun juga ibu Hakim yang tidak lama lagi akan menjadi ibu dan ayah mertuanya. Walau Savas dan Harun akan menjalani suatu hubungan kekeluargaan, tetap saja Savas menganggap mereka tidak lain hanya sebagai pelayannya. Lagi pula, dia tidak pernah setuju jika Hana menikah dengan Hakim. Hanya saja putrinya itu sangat mengidolakan Hakim sampai dia hanya akan menikah jika itu bersama Hakim. Tidak ada yang bisa Savas lakukan selain menuruti permintaan putri semata wayangnya itu karena jika tidak, Hana akan nekat melukai dirinya sendiri jika sampai tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Sudahlah, kau bisa menemui mereka nanti. Sekarang pergilah ke kamarmu dan istirahatlah! Nanti malam ayah akan mengajakmu untuk menemui Hakim," ucap Savas.

__ADS_1


Hana di antar oleh ibu Hakim menuju kamarnya. Di sana, Hana bukan istirahat melainkan meminta ibu Hakim untuk menceritakan putranya itu. Dia mulai menceritakan tentang masa kecil Hakim, begitu pun apa yang dia suka dan tidak suka. Sang ibu menceritakan semuanya pada Hana. Seketika sang ibu merasa sangat sedih karena dia begitu bahagia akan mendapat menantu sebaik Hana, tetapi secara tidak langsung dia pun sudah menyakiti Humaira, perempuan yang selama ini sudah ia anggap sebagai putri kandungnya sendiri. Entah apa yang akan harus dia katakan saat bertemu Humaira nanti.


"Apa Hakim sebelumnya pernah memiliki kekasih?" tanya Hana.


Sang ibu langsung tersadar dari lamunannya. Dia sempat terdiam dan terpaksa harus berbohong jika Hakim saat ini masih sendiri. Wanita yang pernah menjadi kekasihnya dulu, ternyata hanya mengincar popularitas juga harta kekayaan Hakim. Mereka tidak tulus dalam mencintainya. Hana merasa senang mendengar itu, dia berjanji akan mencintai Hakim dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Setelah keluar dari kamar Hana, ibu Hakim kembali mengerjakan tugas rumah. Saat itu, dia berada di taman belakang untuk menyiram tanaman yang ada disana. Dia duduk sebentar dan memikirkan banyak hal. Seketika Harun datang dan duduk bersama istrinya. Dia sudah tidak sabar ingin menemui putranya. Dia akan sangat berterimakasih padanya untuk kebebasannya. Saat diajak bicara, ibu Hakim terlihat diam saja.


"Kau ini kenapa? Apa kau tidak senang jika aku bertemu dengan putraku?" tanya Harun.


"Tidak suamiku, hanya saja aku ini sudah melukai perasaan perempuan yang begitu baik padaku dan Hakim." jawab sang ibu.


"Siapa perempuan itu?" tanya Harun penasaran.


"Nanti kau juga akan tahu sendiri," ucap sang ibu.


\*\*\*


Hari sudah mulai sore. Zura pergi menemui Sean di ruangannya. Dia meminta agar pulang lebih awal malam ini. Tidak lama kedatangan Zura di susul oleh Edgar. Dia memberitahu Sean lebih dulu untuk tidak mengizinkannya pulang. Sean heran melihat mereka berdua yang terkadang akur, dan juga bertengkar. Sean meminta mereka untuk bicara satu persatu.


Zura merasa kesal karena Edgar yang diminta lebih dulu untuk bicara. Edgar memberitahu Sean jika malam ini Zura dan teman-temannya akan pergi menonton pertandingan sepakbola. Sementara dia masih ada tugas kantor yang harus diselesaikan malam ini juga.


"Tapi kakak... "


Sean menyuruh Zura untuk diam sebelum dia diminta bicara. Mendengar hal itu, Sean merasa jika adiknya itu mulai tidak profesional dengan pekerjaannya. Dia menegaskan dihadapan mereka berdua jika dirinya tidak senang dengan pegawai yang tidak profesional dalam bekerja. Sebelum Zura mengatakan satu patah katapun, Sean menyuruhnya untuk kembali bekerja. Dia tidak ingin mendengar alasan apapun untuk semua itu. Jika pekerjaannya itu sudah selesai, dia boleh saja pulang lebih awal.


"Aku sudah memiliki janji dengan kak Humaira. Kami akan menonton pertandingan itu bersama." ucap Zura.


"Kalian akan menonton bersama? Bagaimana itu mungkin?" tanya Sean.


Zura memberitahu kakaknya jika satu jam yang lalu, Humaira menghubunginya. Dia mengajak Zura untuk menonton pertandingan malam ini. Lagi pula, pekerjaannya di rumah sakit sudah selesai. Nyonya Aiyse sendiri yang mengizinkannya pergi.


"Jika kakak tidak mengizinkanku, baiklah aku akan segera memberitahu kak Humaira. Kasihan jika dia harus menungguku lama disana."

__ADS_1


Saat Zura akan menelepon Humaira, Sean merebut ponsel itu darinya. Dia meminta Edgar untuk mengantar Zura pulang. Dia harus segera bersiap pergi ke pertandingan itu. Tidak mungkin adiknya itu pergi dengan pakaian kantor seperti itu. Saat tahu Humaira akan ada disana, Sean memutuskan untuk pergi menonton pertandingan itu. Sementara di dalam mobil, Zura terlihat sangat senang. Dia menatap tajam Edgar yang hampir saja menggagalkan rencananya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Edgar.


"Tidak, aku hanya ingin bilang jika kau sudah gagal untuk membuatku tetap berada di kantor." ucap Zura terlihat sangat senang.


Dia memberitahu Edgar jika apapun yang berhubungan dengan Humaira, Sean tidak pernah bisa menolaknya. Zura sangat beruntung karena dengan Humaira mengajaknya pergi untuk menonton pertandingan itu, dia bisa melihat Hakim kembali bertanding. Dia akan duduk di paling depan dan meneriaki namanya untuk memberikannya semangat.


"Lihat saja nanti! Bukan hanya aku yang akan datang, melainkan kakak juga akan datang untuk menonton pertandingan itu." ucap Zura meyakinkan Edgar.


Edgar merasa jika Zura itu terlalu percaya diri, padahal dia sendiri tidak tahu jika malam ini Sean memiliki pertemuan penting dengan klien dari London untuk membahas proyek barunya. Zura sangat tahu seperti apa kakaknya itu, dia rela meninggalkan semua itu demi sesuatu lain yang dia inginkan. Sekali ada kesempatan, maka Sean tidak akan melewatkannya. Edgar dan Zura akhirnya bertaruh. Siapa yang kalah, mereka harus menuruti semua keinginan si pemenang apapun itu dan semua itu berlaku selama tiga hari. Zura dan Edgar akhirnya setuju. Mereka akan melihat siapa yang akan menjadi pemenangnya.


\*\*\*


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Hana sedang bersiap di kamarnya. Dia masih bingung harus mengenakan baju apa. Dia meminta pelayan untuk memanggil ibu Hakim agar menemuinya. Tidak lama sang ibu datang.


"Ada apa nona?" tanya sang ibu.


Hana sangat tidak nyaman dengan panggilan itu, dia meminta sang ibu untuk memanggil namanya. Hana mengeluarkan beberapa pakaian, dan meminta sang ibu untuk memilihkan pakaian untuknya. Dari banyaknya pakaian, sang ibu memilih baju yang terlihat sederhana tetapi tetap anggun saat Hana kenakan.


"Ini sangat cocok untukmu, ditambah lagi warna hitam ini adalah warna kesukaan Hakim." ucap sang ibu.


"Baiklah, aku akan mengenakan pakaian ini." ucap Hana.


Di satu sisi, Humaira sedang dalam perjalanan bersama ayahnya. Dia terlihat sangat tegang. Apapun yang terjadi di lapangan nanti, dia harus siap untuk semuanya. Saat Humaira gelisah seperti itu, dia melihat gelang pemberian si nenek yang ada di tangannya. Perkataan si nenek tentang gelang itu masih teringat jelas dalam kepalanya. Humaira berharap dengan memakai gelang itu, dia akan bertemu dengan pemilik gelang satunya lagi. Saat akan turun, Humaira menerima sebuah pesan dari Zura. Dia menulis dalam pesan itu jika dia sudah berada di dalam. Humaira bergegas masuk dan menemui Zura.


"Kakak!" panggil Zura sambil melambaikan tangannya.


"Dengan siapa kau datang kemari?" tanya Humaira.


"Tadi aku diantar kak Edgar, temannya kakak." jawab Zura.

__ADS_1


Mereka terlihat sangat bersemangat. Pertandingan tidak lama lagi akan dimulai. Humaira sempat pergi ke ruang ganti untuk menyemangati semua para pemain. Di sana dia melihat Hakim yang tidak sedikit pun senyum terpancar di wajahnya, begitupun dengan semangat yang ada dalam dirinya serasa sudah hilang entah kemana. Saat semua sudah pergi dari ruangan, Hakim maupun Humaira merasa canggung. Mereka saling menatap satu sama lain tanpa mengatakan apapun. Hakim pergi memeluk Humaira. Dia begitu merindukan Humaira yang dulu. Humaira yang selalu menjadi penyemangatnya, Humaira yang selalu ada untuknya. Tapi sekarang semua itu hilang sudah. Dia tidak lagi mengenal Humaira yang ada di depannya. Humaira langsung melepas pelukan itu dan menyuruh Hakim untuk segera pergi karena pertandingan akan segera dimulai. Hakim sangat sedih kalau ibunya sampai tahu jika hubungan dia dan Humaira tidak sedang baik-baik saja.


__ADS_2