HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)

HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)
SEMUA TAK LAGI SAMA


__ADS_3

Selama Sean di penjara, kehidupan semua orang berubah. Saffiya semakin fokus pada karirnya menjadi seorang aktris. Dia jarang sekali pulang ke rumah, ia selalu menghabiskan waktunya di lokasi syuting. Azizah terus berada di kamar menanti saat Sean pulang nanti. Nasreen dan Emir selalu bepergian ke luar kota untuk bisnis mereka. Sementara Ulya, dia lebih memilih untuk tinggal bersama putranya Alman di Switzerland. Hanya ada Zura yang selalu menemani hari-hari Azizah di rumah. Dia sekarang ini sudah menjadi seorang sekretaris handal seperti yang diinginkan kakaknya. Ia dan Edgar berusaha untuk selalu meningkatkan kinerja perusahaan agar perusahaan itu terus maju dan berkembang. Rumah besar yang semula ramai dan hangat akan perbincangan, sekarang ini terasa begitu sepi dan sunyi.


Pagi itu, selesai sarapan Azizah meminta Zura untuk membawanya ke kantor polisi. Dia ingin sekali bertemu dengan Sean. Tiba di sana, Azizah menangis dalam pelukan cucunya. Dia menceritakan semua keadaan rumahnya sekarang ini. Semua orang terasa sangat asing satu sama lain. Tidak pernah lagi ada perbincangan di rumah, bahkan di meja makan sekali pun mereka selalu fokus pada ponselnya masing-masing. Azizah merasa sudah gagal membawa keluarga besarnya menuju kebahagiaan. Sean menghapus air mata neneknya itu.


"Nenek tenang saja, sebentar lagi masa hukumanku akan segera berakhir. Aku akan kembali ke rumah dan membuat semua keadaannya kembali seperti semula."


Setelah selesai berbincang dengan neneknya, Sean menatap adik kesayangannya itu. Dia langsung memeluknya erat.


"Apa kabar adikku?"


"Aku baik kakak. Bagaimana denganmu?" Kau pasti sangat menderita di dalam penjara sana."


"Ya... seperti itulah." ucap Sean dengan senyuman kecilnya. "Bagaimana dengan perusahaan?"


"Kakak tenang saja, Edgar seorang pemimpin yang bisa dipercaya, tidak ada sedikitpun masalah yang tidak bisa ia hadapi di perusahaan."


"Aku yakin dengan Edgar, tolong beritahu dia jika ada waktu berkunjunglah kemari."


"Baiklah, akan aku sampaikan nanti."


\*\*\*


Pagi itu, Humaira sedang berbelanja di supermarket. Dia tidak sengaja melihat Hana yang juga berbelanja di sana. Humaira langsung bersembunyi karena tidak ingin keberadaannya diketahui Hana. Tidak lama seorang pria datang menghampiri Hana. Ia membantu Hana membawa semua barang belanjaannya. Saat pria itu membuka topi dan kacamatanya, ternyata itu adalah Hakim.


"Apa yang Hakim lakukan disana? Apa dia sekarang menjadi bodyguard nya Hana?" ucap Humaira.


Tidak lama mereka pun pergi dari supermarket itu. Saat Humaira akan membayar barang belanjaannya, dia sempat bertanya pada kasir tapi sayang kasir itu tidak tahu hubungan apa yang ada diantara mereka. Dia hanya tahu jika Hana saat berbelanja selalu di temani Hakim.


Sesampainya di rumah, Humaira langsung membuat sarapan untuk bibi Yurin. Tanpa Humaira ketahui ternyata bibi Yurin sudah bangun dan sedang menikmati segelas teh di ruang tengah.


"Bibi sudah bangun? Kenapa aku tidak mengetahuinya?"


"Aku bangun saat kau sedang pergi ke luar,"

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu aku akan siapkan dulu sarapan.


Saat berada di meja makan, bibi Yurin sempat membaca berita tentang kedekatan aktris ternama yang bernama Saffiya bersama Rangga Adinata selaku pemeran protagonis pria dalam filmnya.


"Istri macam apa dia ini? Suaminya di penjara tapi dia malah asyik pergi liburan dengan pria lain." ucap bibi Yurin sedikit kesal.


"Ada apa bi?" ucap Humaira penasaran.


"Coba lihat!" bibi Yurin menunjukkan koran itu pada Humaira. Melihat berita itu, Humaira langsung mematikan kompornya dan fokus membaca berita itu.


"Apa benar semua berita yang tertulis dalam koran ini?" ucap Humaira dalam hati.


"Jika saja Sean tahu tentang berita ini, mungkin dia akan langsung menceraikan perempuan itu!" celetuk bibi Yurin.


Humaira merasa heran kenapa bibi Yurin bisa mengenal Sean. Bagaimana tidak, Sean adalah seorang pria yang berasal dari keluarga terpandang, semua media selalu saja meliput kehidupan keluarganya. Mungkin dari sana bibi Yurin mengenal Sean dan istrinya. Humaira tidak ingin tahu lebih jauh lagi tentang kehidupan Sean, sudah cukup dia mengenal Sean sejauh ini. Humaira pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.


\*\*\*


Hari sudah malam. Terdengar suara bel rumah berbunyi. Pelayan langsung berlari untuk membukanya. Saat dilihat, ternyata Saffiya yang datang.


"Nyonya ada di ruang tengah."


Saffiya datang menemui Azizah. Tanpa basa-basi, dia memberitahu Azizah jika dia akan pergi ke Amerika selama tiga bulan untuk film barunya. Mengenai hal itu, Azizah tidak bisa memutuskan apapun. Dia meminta Saffiya untuk memberitahu Sean akan rencananya itu. Saffiya terlihat sangat acuh pada Azizah. Dia meminta pelayan untuk membantunya mengemas semua pakaiannya. Besok pagi dia dan timnya akan terbang ke Amerika. Sementara itu, di satu sisi ketika mobil Zura akan masuk, sebuah mobil lain menghalangi jalannya. Zura pun turun dan mengetuk kaca mobil itu. Tidak lama seorang pria turun.


"Apa kau bisa memindahkan mobilmu itu? Mobilku akan masuk," ucap Zura.


Pria itu pun membawa masuk mobilnya. Zura merasa sangat heran. Bukannya pergi, mobil itu malah parkir di depan rumahnya.


Saat akan masuk, Zura melihat Saffiya yang baru saja keluar dari rumah dengan membawa koper besar miliknya.


"Kakak akan pergi kemana?" tanya Saffiya.


"Nanti saja aku beritahu kau melalui telepon. Aku harus segera pergi karena semua orang sudah menungguku di tempat syuting."

__ADS_1


Saffiya pun pergi dengan teman prianya itu. Melihat tingkah laku Saffiya yang semakin menjadi-jadi, Zura rasanya sangat muak. Semenjak Sean di penjara dia terus saja berkeliaran di luar dengan pria asing sampai-sampai media meliput dirinya sedang berlibur bersama pria asing itu. Bahkan mereka dikabarkan sedang dekat. Zura tidak tahu apa yang akan dilakukan Sean jika dia tahu semua itu.


\*\*\*


Malam itu, bibi Yurin sedang mencari informasi tentang keluarga Jeevan di ponselnya. Saat mendapat artikel tentang keluarga itu, bibi Yurin langsung mencatat alamat yang tertulis di sana.


"Sebentar lagi kita akan bertemu Azizah," ucap bibi Yurin.


~Flashback~


Sepuluh tahun yang lalu, Yurin adalah sahabat baik Walid. Saat Walid menikah, dia hadir ke acara pernikahannya. Selesai acara, Yurin mendapat telepon dari kantornya jika mulai besok perusahaan akan memindah alihkan tugas bekerjanya. Dia akan pergi meninggalkan kota itu. Seiring dengan berjalannya waktu, Yurin pun berencana untuk mengunjungi mereka. Dia begitu rindu akan Walid dan istrinya. Mungkin akan banyak perbincangan saat bertemu nanti. Saat berjalan menuju rumah Walid, Yurin melihat istri sahabatnya itu di bawa paksa oleh seorang pria ke dalam sebuah mobil. Yurin mencoba untuk menghubungi Walid, tapi ponselnya sibuk. Tidak ada cara lain selain Yurin harus mengikuti mobil itu.


Tidak lama mobil itu berhenti di sebuah bangunan tua. Pria itu menyuruh anak buahnya untuk mengikat istri Walid di sebuah tiang dengan kaki dan tangan terikat. Dia sempat mendengar pembicaraan pria itu dengan anak buahnya. Dia berhasrat untuk menjadikan Walid sebagai kaki tangan mafia, tapi dia selalu saja menolaknya mungkin dengan cara ini Walid akan menerima pekerjaan itu. Saat akan pergi, Yurin tidak sengaja menginjak sebuah ranting kering dan membuat pria itu langsung mengetahui keberadaannya. Saat akan melarikan diri, salah satu anak buah pria itu berhasil menangkapnya dan membawa Yurin ke hadapan bosnya. Yurin sangat sedih melihat keadaan istri Walid tapi sayang dia tidak bisa melakukan apapun untuk bisa menyelamatkannya. Istri Walid memohon pada pria itu untuk tidak menyakitinya. Pria itu sempat mengancam Yurin jika sampai perbuatannya ini sampai pada polisi dia akan menghancurkan hidupnya. Tidak lama anak buah pria itu datang dengan membawa sebuah kotak kayu. Saat dibuka isinya ternyata sebuah syal yang sangat indah. Istri Walid meminta pria itu untuk mengembalikan syal itu karena itu adalah kado yang sudah ia siapkan untuk putrinya. Pria itu langsung teringat dengan istrinya. Dia ingat jika istrinya itu sempat meminta dia untuk membelikan syal saat pulang nanti. Pria itu mengambil syal itu bersama kotak kayunya. Sementara Yurin pergi meninggalkan istri Walid seorang diri.



\*\*\*


Mengingat kejadian itu rasanya Yurin sangat sedih. Jika saja dia bisa membantu istri sahabatnya waktu itu, mungkin Humaira tidak akan hidup sendiri seperti ini. Tidak lama Humaira datang untuk mengajak bibi Yurin makan malam.


"Kau kenapa bi? Apa kau menangis?" tanya Humaira.


"Tidak, aku hanya ingat pada sahabatku saja. Sudah lama aku tidak menemuinya."


Saat di meja makan, Yurin sempat menanyakan tentang tanggal kelahiran Humaira. Dia langsung mengehentikan makannya, wajahnya terlihat berkaca-kaca.


"Apa pertanyaan ku ini membuatmu sedih?" tanya Yurin merasa bersalah.


"Tidak bi, hanya saja ulang tahunku kali akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana ayah dan ibu selalu ada bersamaku. Ibu orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku, sementara ayah dia menyusul saat aku bangun di pagi hari." ucap Humaira.


"Selamat ulang tahun putriku tersayang," Itu kata-kata indah ayah sambil mencium keningku.


Mendengar perkataan Humaira, Yurin pun ikut meneteskan air mata.

__ADS_1


Humaira langsung menghapus air matanya. Dia tidak ingin menjadi wanita lemah dan cengeng. Bagaimana pun dia itu harus kuat menghadapi semua kenyataan yang ada. Dia meminta maaf karena sudah membuat bibi Yurin ikut bersedih. Humaira memberitahu bibi Yurin jika ulang tahunnya satu minggu lagi. Untuk ulang tahunnya kali ini dia tidak ingin perayaan apapun. Seketika Yurin ingat dengan kado terakhir yang belum sempat Humaira terima dari ibunya. Dia akan berusaha untuk mendapatkan kembali kado itu dari tangan istri mafia kejam itu.


"Kau akan mendapatkan apa yang seharusnya kau dapatkan, nak." ucap Yurin dalam hati.


__ADS_2