
Pagi-pagi sekali Sean harus pergi ke kantor. Ia menyuruh pelayan untuk mengantar sarapan ke kamar Humaira setelah ia bangun nanti. Sementara itu, semua anggota keluarga telah berkumpul di meja makan. Nasreen masih penasaran dengan apa yang disembunyikan Azizah dan Sean darinya. Saat semua sedang makan, Nasreen pergi lebih dulu. Tanpa sepengetahuan Azizah, ia masuk ke dalam kamarnya. Di sana Nasreen mencari sesuatu yang belum diketahui entah apa itu. Saat membuka lemari milik Azizah, ia menemukan foto sang ayah. Lama ia tak melihat wajah sang ayah yang dicintainya itu. Setelah meninggal, semua orang di rumah seakan lupa akan sosoknya karena Azizah tidak membiarkan foto itu dipasang di manapun. Tidak lama Nasreen dikejutkan dengan kedatangan Azizah.
"Kau sedang apa di kamarku?" tanya Azizah.
"Maaf ibu karena aku sudah lancang berani masuk ke kamarmu. Aku hanya ingin mencaritahu apa yang sebenarnya sedang kau sembunyikan dariku." jawab Nasreen.
Azizah melihat foto suaminya yang berada di tangan Nasreen. Dia meminta putrinya untuk mengembalikan foto itu. Akan tetapi Nasreen membawa foto itu ke bawah. Ia memajangnnya di ruang tengah. Azizah merasa sangat panik. Ia takut jika Humaira sampai melihat foto itu. Azizah menyusul Nasreen ke bawah. Di sana sudah ada Ulya dan Zura yang sedang menikmati secangkir teh. Ulya kembali melihat foto sang ayah yang sudah lama meninggal.
"Kau darimana mendapat foto ini kak?" tanya Ulya.
"Ibu yang menyimpannya. Walau sudah meninggal, ia tidak membiarkan kita untuk menatap wajah ayah. Dia menyimpan foto ini di kamarnya."
Tidak lama Azizah datang. Ia langsung mengambil foto itu kembali.
"Biarkan foto itu di simpan disini, ibu. Supaya kami tetap bisa merasakan kehadirannya." ucap Ulya.
Azizah mengingatkan mereka jika ayahnya sudah meninggal belasan tahun yang lalu. Biarkan dia tenang di sana. Jangan terus mengingatnya karena bisa jadi sang ayah akan sedih di alam sana.
"Kenapa ibu menyembunyikan foto itu?"
"Kalian tidak perlu tahu alasanku untuk semua itu." ucap Azizah sambil melangkah pergi. Akan tetapi Ulya segera menahannya. Ia memaksa Azizah untuk memberitahu semuanya.
"Aku ini putri ibu, kau bisa menceritakan apapun padaku."
Zura melihat neneknya yang mulai tertekan. Ia takut jika penyakitnya kambuh lagi.
"Sudahlah bibi, jangan menekan nenek terus. Nanti dia akan sakit."
"Kau diam saja!" bentak Ulya pada Zura.
"Jangan membentak putriku seperti itu, Ulya!" bela Nasreen selaku sang ibu.
"Sudah jangan berdebat lagi!" teriak Azizah. Apa yang ingin kau ketahui?"
"Kenapa kau tidak pernah memasang foto ayah di rumah ini?" tanya Ulya.
Azizah mengingatkan Ulya jika ayahnya itu seorang mafia. Dia tahu pekerjaan seorang mafia seperti apa. Azizah memberitahu semua orang jika ayah mereka telah membunuh seorang wanita yang tidak bersalah. Ulya tidak merasa terkejut dengan semua itu. Dia tahu ayahnya seperti apa.
"Semua sudah menjadi masa lalu, ibu. Kita tidak perlu lagi mengungkitnya." ucap Nasreen.
"Kau tidak tahu siapa perempuan yang ayahmu bunuh itu." ucap Azizah.
"Siapa perempuan itu? Kenapa ibu sangat terpengaruh dengannya?" tanya Ulya.
Di satu sisi, Humaira baru saja bangun. Ia pergi ke luar kamar untuk menemui semua orang. Tidak jauh dari kamarnya, Humaira mendengar suara keributan. Saat akan pergi, pelayan datang dengan membawa sarapan. Ia meminta Humaira untuk memakan makanannya terlebih dahulu, akan tetapi ia menolaknya. Ia penasaran dengan suara keributan itu. Pelayan membantu Humaira berjalan karena keadaannya yang masih lemas. Humaira melihat semua orang sedang berkumpul di bawah. Dari sana ia tidak bisa mendengar apapun.
"Bi, tolong bawa aku ke bawah." pinta Humaira.
"Baik, non."
"Cepat katakan siapa sebenarnya perempuan itu ibu?" paksa Ulya.
"Dia adalah ibu dari Humaira."
Semua sangat terkejut mendengarnya.
"Ayahmu sudah membunuh seorang perempuan yang tidak bersalah. Ia membuat Humaira kehilangan sosok seorang ibu di saat usinya masih dua belas tahun.
__ADS_1
"Dari mana ibu tahu semua itu?"
Azizah memberitahu Ulya jika seorang perempuan yang pernah datang menemuinya adalah Hediya. Dia sahabat baik dari orang tua Humaira. Ia melihat jika ayahnya itu menembak ibu Humaira di depan matanya. Saat membalikkan badan, Azizah sangat terkejut melihat Humaira yang sedang berdiri di dekat tangga.
"Humaira? Sejak kapan kau disana nak?" tanya Azizah.
Humaira berjalan mendekat. Ia melihat foto yang ada di tangan Azizah. Melihat foto itu tangannya gemetar. Ia ingat dengan jelas dimana saat pria kejam itu menembak ibunya. Humaira menjatuhkan foto itu hingga pecah. Dia menangis dan duduk termenung di lantai.
"Nak..." ucap Azizah.
"Jangan sentuh aku!" pinta Humaira. "Kau sudah membohongiku selama ini. Kau ternyata istri dari seorang pria yang sudah membunuh ibuku."
"Maafkan aku, nak... Aku takut jika aku mengatakan semua kebenaran ini, kau akan marah dan membenciku."
Humaira langsung berdiri. Ia meminta pelayan untuk membereskan semua barang miliknya. Hari itu juga Humaira akan pergi meninggalkan rumah besar itu.
"Kau akan pergi kemana nak?"
"Itu bukan urusanmu, nyonya. Yang penting aku tidak lagi tinggal di rumah ini. Aku membenci kalian semua, terutama kau nyonya Azizah yang terhormat. Kehidupan ku berubah karena suamimu. Aku kehilangan ibu yang sangat mencintaiku. Terima kasih untuk semua kebaikanmu padaku." ucap Humaira.
Tidak lama pelayan turun dengan membawa koper milik Humaira. Sementara itu, Zura mencoba menghubungi ponsel Sean akan tetapi tidak bisa dihubungi. Zura langsung pergi menemui kakaknya di kantor. Sementara itu, Humaira pergi dengan menggunakan taksi. Ia mencoba untuk menghubungi bibinya.
"Halo, bibi. Kapan kau pulang?" tanya Humaira.
"Halo, sayang. Maaf bibi masih memiliki pekerjaan di sini. Mungkin dua minggu lagi aku akan kembali. Ada apa? Kenapa suaramu seperti itu? Apa kau menangis?"
"Tidak, bi. Aku hanya merindukanmu."
"Baiklah, jaga dirimu di sana. Dah..." Humaira menutup teleponnya.
***
"Dimana kakakku? Mmm... maksudku dimana tuan Sean? Aku tidak menemukan dia di ruangannya." tanya Zura.
"Tuan Sean sedang ada meeting di luar."
"Kapan dia akan kembali?"
"Sekitar satu jam lagi."
Zura sangat bingung harus melakukan apa. Dia mencoba menghubungi Edgar untuk meminta bantuan tetapi lagi-lagi ponselnya tidak aktif. Tidak lama Zura mendapat telepon dari pelayan rumahnya. Dia memberitahu Zura jika Azizah terus menangis. Ia takut jika kesehatannya terganggu. Zura bergegas pulang. Di satu sisi, taksi yang ditumpangi Humaira tiba di depan rumahnya. Suasana hati Humaira sekarang ini sedang diselimuti kesedihan yang begitu mendalam. Dia berjalan menuju kamarnya dengan pandangan yang kosong. Tidak lama tangisnya pecah di kamar itu. Sementara itu, Azizah terus menangis di kamarnya.
Tok... Tok... Tok...
"Ibu, apa aku boleh masuk?"
"Tetap disana! Selangkah lagi kau masuk, aku akan lupa jika kau adalah putriku."
"Sepenting itukah perasaan gadis itu sampai kau sangat terpukul seperti ini?"
"Sudah cukup! Jangan bicara lagi. Semua kekacauan ini karenamu, jadi aku mohon tolong tinggalkan aku sendirian."
Azizah mencoba menghubungi ponsel Humaira, saat tahu nada ponselnya berdering, Azizah pikir Humaira akan mengangkatnya tetapi dia langsung mematikannya. Tidak lama Zura datang dan menenangkan neneknya.
"Sudahlah nek, jangan menangis terus. Nanti kesehatanmu akan menurun."
"Dia marah padaku nak, aku harus apa? Ini semua kesalahanku. Aku salah karena sudah menyembunyikan semua ini darinya."
__ADS_1
"Sudahlah nek, kakak akan mengurus semuanya. Hubungan mu dengan Humaira akan kembali membaik. Percayalah!"
***
Siang itu, Sean tiba di kantor. Sekretaris memberitahunya akan kedatangan Zura. Sean langsung menghubungi ponselnya.
"Halo Zura. Untuk apa tadi kau datang ke kantor? Apa nenek baik-baik saja?"
"Semua sangat kacau, kakak. Cepatlah datang. Nenek sangat membutuhkanmu."
Sean bergegas pulang. Tiba di rumah, Sean dikejutkan dengan suara teriakan Zura.
"Ada apa?" tanya Sean.
"Nenek pingsan kak, kita harus segera membawanya ke rumah sakit."
Setelah di periksa, dokter menyarankan Azizah untuk di rawat selama beberapa hari di rumah sakit.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sean pada Zura.
"Kak Humaira sudah tahu semua kebenarannya, kak. Dia langsung pergi meninggalkan rumah."
"Kebenaran apa yang kau maksud?"
"Dia tahu jika kakek yang sudah membunuh ibunya."
Sean sangat terkejut mendengarnya. Semua karena ibu dan bibinya. Mereka memaksa Azizah untuk mengatakan semuanya. Tanpa mereka sadari Humaira berdiri di dekat tangga dan mendengar semuanya. Dia begitu sedih saat mengetahuinya. Dia terlihat sangat marah dan kecewa pada semua orang terutama neneknya. Sean mencoba ponsel Humaira, tetapi tidak aktif. Dia mencoba menghubungi ponsel Hediye. Tidak lama telepon itu tersambung.
"Halo!"
"Halo nyonya, aku Sean. Apa Humaira ada bersamamu?"
"Tidak, aku sedang berada di Singapura untuk urusan pekerjaan. Apa terjadi sesuatu padanya?"
"Itu berarti Humaira tidak mengatakan apapun pada bibinya." ucap Sean dalam hati. "Aku tidak bisa menghubungi ponselnya, aku pikir dia ada bersamamu. Baiklah, maaf sudah menyita waktumu." ucap Sean menutup teleponnya.
Hari sudah mulai gelap. Sean sangat mengkhawatirkan Humaira. Di satu sisi, Azizah masih tidur karena suntikan obat dari dokter. Sean meminta Zura untuk menjaga neneknya, sementara itu dia akan pergi mencari Humaira.
Malam itu, Humaira berada di kamarnya. Dia duduk di samping tempat tidurnya dalam kegelapan malam. Dia tidak membiarkan cahaya lampu meneranginya. Jendela kamarnya di buka begitu saja sehingga hembusan angin masuk dengan sangat kencang. Sementara itu, Sean sudah mencari keberadaan Humaira ke beberapa tempat tapi belum juga menemukannya. Ia melupakan satu tempat, yaitu rumah bibinya. Sean langsung menancap gas mobilnya. Tiba di sana, Sean melihat semua lampu di rumah itu padam. Saat berjalan masuk, pintu rumah itu sudah terbuka lebar mungkin karena hembusan angin kencang yang membukanya. Sean masuk dan memanggil-manggil Humaira. Dia menyalakan lampu di ruangan itu tapi Humaira tidak ada di sana. Sean pergi ke kamarnya. Dia melihat Humaira yang tengah duduk di lantai.
"Humaira..."
"Jangan mendekat!" ucap Humaira. Untuk apa kau datang kemari?"
"Aku sangat mengkhawatirkan mu,"
"Aku tidak perlu di kasihani siapapun. Aku sudah terbiasa sendiri. Pergilah! Jangan pernah temui aku lagi."
Sean mendekati Humaira, hanya saja ia langsung menjauh darinya. Sean meminta maaf karena sudah berbohong padanya. Ia bersama sang nenek menyembunyikan semua kebenaran darinya karena Azizah tidak ingin dia membencinya setelah tahu itu semua. Perasaan Humaira semakin terluka. Ia menangis tersedu-sedu. Sean mencoba menenangkannya.
"Sudah aku bilang jangan mendekat! Aku tidak ingin lagi berhubungan dengan mu. Kau adalah cucu dari pria yang sudah menghabisi ibuku." Tangis Humaira semakin menjadi-jadi.
Sean langsung mendekapnya kuat, Humaira tidak bisa melepas dekapan itu karena tenaga Sean lebih kuat.
"Aku sangat mencintaimu, jangan pernah mencoba untuk pergi dariku, kau duniaku sekarang ini. Aku tidak pernah mendapatkan cinta dari siapapun, termasuk dari ayah dan ibuku. Mereka sangat sibuk bekerja. Hanya denganmu aku merasa nyaman. Kesepianku mulai terisi dengan kehadiranmu. Tolong mengertilah kenapa aku melakukan semua ini. Aku hanya tidak sanggup jika kau sampai membenciku."
Humaira menangis dalam pelukan Sean. Dia mulai luluh dengan perkataannya. Sean menghapus air mata yang ada di wajah Humaira dan merapikan rambutnya yang berantakan. Malam mulai larut. Humaira merasa sangat letih karena sejak tadi ia terus menangis. Matanya terlihat lebam.
__ADS_1
Humaira akhirnya tidur di pangkuan Sean.