HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)

HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)
USAHA UNTUK MELEPASKAN


__ADS_3

Selesai pertandingan, Hakim dikejutkan dengan kehadiran ibunya di lapangan. Dia pergi dan memeluknya erat. Kedatangan sang ibu diikuti oleh Harun dibelakangnya.


"Dia siapa ibu?" tanya Hakim.


"Dia adalah ayah kandungmu, nak." jawab sang ibu.


Hakim tidak percaya dengan semua itu. Sosok seorang ayah yang selama ini dia impikan sedang berdiri di hadapannya. Hakim pergi memeluk ayahnya. Kini dia memiliki keluarga lengkap seperti apa yang diimpikannya sejak lama. Saat momen itu berlangsung, Walid dan Humaira datang menemui mereka. Hakim memperkenalkan kedua orang tuanya pada Walid. Dia tidak percaya saat tahu jika ayah kandung Hakim masih hidup. Sementara Humaira, dia terlihat sangat senang akhirnya Hakim bisa berkumpul bersama ayah dan ibunya. Walid mengajak Hakim juga kedua orang tuanya untuk makan malam bersama sekaligus menyambut kedatangan mereka di Qatar. Saat mereka akan pergi, di luar sudah ada seorang perempuan yang sedang berdiri untuk menyambut Hakim. Dia adalah Hana.


"Dimana Hakim?" tanya Savas.


"Itu dia!" tunjuk Hana ke arah Hakim.


Hana berlari dan langsung memeluk Hakim. Sikap Hana membuat semua orang bertanya-tanya hubungan apa yang ia miliki dengan Hakim. Saat melihat Hana, Humaira langsung ingat dengan pasien yang ia tolong malam itu. "Apa perempuan itu calon istri Hakim?" tanya Humaira dalam hati.


Hakim langsung menjauhkan perempuan itu darinya. Hana yang melihat sikap Hakim merasa heran. Dia bersikap kasar seperti pada orang asing saja.


"Kau siapa?" tanya Hakim.


Hana melirik pada kedua orang tua Hakim. Dia ingin jika mereka sendiri yang menjelaskan semuanya pada Hakim.


"Dia Hana Anisah, calon istrimu nak..." ucap sang ibu.


Perkataan sang ibu membuat semua orang tercengang.


"Apa-apaan ini ibu, apa kau tidak salah dengan perkataanmu itu?" tanya Hakim.


"Apa semua ini?" sambung Walid penuh amarah. Bagaimana tidak marah, Walid merasa jika Hakim dan keluarganya sudah mempermainkan perasaan putrinya. Walid tidak bisa menerimanya begitu saja. Dia meminta Hakim untuk menjelaskan semuanya. Humaira mendekati sang ayah dan berbisik pelan padanya.


"Ayo kita pulang ayah!" ucap Humaira.


"Tidak nak! Mereka harus menjelaskan semua ini padaku," ucap Walid.


Hakim merasa bingung harus menjelaskan semuanya seperti apa. Dia saja tidak tahu siapa wanita yang datang bersama ibunya. Humaira bersikeras untuk mengajak ayahnya pergi dari sana.


"Tunggu!" ucap Hana menghentikan langkah Humaira. "Bukankah kau dokter Humaira?"


Semua di buat terkejut lagi saat tahu jika mereka berdua sudah saling mengenal.


"Kau mengenalnya?" tanya ibu Hakim.

__ADS_1


"Dia adalah orang yang sudah menyelamatkan nyawaku ibu. Dia mendonorkan darahnya saat aku mengalami kecelakaan." jawab Hana.


Hana bersikap sangat baik pada Humaira. Dia berterimakasih padanya di hadapan semua orang. Jika bukan karena Humaira, mungkin dirinya tidak ada sekarang ini. Savas sudah menunggu lama di dalam mobil. Dia turun dan meminta Hana untuk segera kembali ke dalam mobil. Permintaan ayahnya itu, Hana tolak. Dia hanya akan kembali bersama Hakim dan orang tuanya.


Humaira mencoba untuk menahan kesedihannya. Dia menggenggam tangan sang ayah dan membawanya pergi dari sana. Begitupun Hakim, dia terpaksa harus pulang ke rumah Hana bersama orang tuanya.


\*\*\*


Tiba di hotel, Humaira terlihat begitu rapuh. Sang ayah tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semua pikirannya menjadi kacau sekarang ini. Walid meminta Humaira untuk menjelaskan semuanya.


"Siapa perempuan itu?" tanya Walid.


"Dia calon istri Hakim, ayah..." ucap Humaira sambil berlinang air mata.


"Apa yang kau katakan nak?" ucap Walid tidak percaya.


Humaira memberitahu sang ayah jika dia sudah mengetahuinya sejak lama. Sang ibu terpaksa meminta Hakim untuk menikahi perempuan itu demi kebebasan ayahnya yang selama ini menjadi tawanan sang mafia. Walid tidak mengerti bagaimana bisa putrinya itu menyembunyikan masalah sebesar itu. Itu mungkin sebabnya sikap Humaira berubah pada Hakim belakangan ini. Walid melihat jelas kesedihan yang sangat dalam di wajah putrinya, tapi dia harus berbuat apa jika memang semua itu sudah menjadi keputusan akhirnya.


"Kenapa kau melakukan semua itu? Kau sangat mencintai bukan? Lalu, untuk apa kau melepaskannya begitu saja?" tanya Walid.


"Aku memang sangat mencintainya ayah, tapi aku tidak bisa bersikap egois. Hakim sangat merindukan sosok seorang ayah selama ini dan sekarang keinginan itu tercapai. Mungkin ini pengorbananku untuk Hakim."


"Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya sang ayah.


\*\*\*


Saat tiba di rumah, Hakim meminta sang ibu untuk menjelaskan semuanya. Dia sama sekali tidak mengerti dengan semua yang terjadi di depan matanya. Harun mencoba untuk membuat Hakim lebih tenang setelah itu dia mengungkapkan akan kebahagiaannya bisa bertemu dan berkumpul bersama putra dan istri tercintanya.


"Terima kasih nak, karena kau aku bebas seperti ini." ucap Harun.


"Memang apa yang sudah aku lakukan?" tanya Hakim bingung.


Sang ibu menceritakan pada Hakim tentang pesan yang pernah ia kirimkan ke ponselnya. Sang ibu juga menunjukkan sebuah video yang pernah ia bagi pada Hakim. Tidak lama setelah hari itu, Hakim mengirim sebuah pesan jika dia bersedia untuk menikahi Hana asalkan sang ayah dibebaskan. Hakim semakin bingung dengan semua itu.


"Aku tidak pernah menerima pesan juga video yang ibu sebutkan itu. Aku juga tidak pernah mengirim balasan apapun pada ibu."


"Jika bukan kau, lalu siapa yang menjawab semua pesan ibu?"


Hakim langsung tertuju pada Humaira. Selama ini tidak ada yang mengetahui kata sandi ponselnya, kecuali Humaira.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan... Humaira yang sudah melakukan semua ini?" tanya sang ibu.


Hakim merasa sangat marah. Malam itu juga, dia pergi menemui Humaira untuk meminta penjelasannya. Sementara Harun, dia penasaran dengan sosok Humaira yang sejak tadi disangkutpautkan dengan masalah Hakim.


"Siapa sebenarnya Humaira? Apa hubungan Hakim dengan gadis itu?" tanya Harun.


Sang ibu dengan bangga memberitahu Harun jika Humaira adalah kekasih Hakim. Mereka sudah menjalin hubungan selama kurang lebih lima tahun. Humaira adalah seseorang yang sudah memberi warna dalam hidup Hakim, dia adalah dunianya. Senang, sedih, tawa, air mata, selalu Hakim bagi bersamanya. Dia adalah tempat berceritanya. Tidak pernah Hakim melewati hari-harinya tanpa Humaira. Sang ibu sangat takut jika setelah ini, semua kebahagiaan Hakim akan hilang bersama dengan perginya Humaira. Saat akan kembali ke kamarnya, sang ibu melihat keberadaan Hana. Dia takut jika Hana mendengar semua pembicaraannya.


"Kau sedang apa disana, nak?" tanya ibu Hakim.


"Dimana Hakim?" tanya Hana sambil mencari-cari keberadaannya.


"Dia kembali ke hotel."


Hana terlihat sedikit murung. Dia ingin sekali bisa mengenal Hakim lebih dekat tetapi ada saja yang menjadi penghalang di antara mereka. Sang ibu membawa Hana kembali ke kamarnya karena kondisinya masih lemah, dokter menyarankan dia untuk lebih banyak istirahat. Sementara itu, Savas sejak tadi mendengar perbincangan Harun dan istrinya. Dia tidak akan tinggal diam. Dia berencana untuk menghabisi Humaira agar tidak ada lagi penghalang di antara Hakim dan putrinya.


\*\*\*


Malam itu, seseorang datang mengetuk pintu kamar Humaira. Saat dilihat, Hakim tengah berdiri di depan pintu dalam keadaan mabuk. Humaira langsung membawa Hakim masuk dan membuang botol minuman yang ada di tangannya.


"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Humaira. "Bukankah kau sudah berjanji padaku jika kau tidak akan lagi minum sampai mabuk seperti ini?"


"Semua ini karenamu, kau sudah membuatku gila seperti ini." ucap Hakim dalam keadaan mabuk berat. Humaira membaringkan tubuh Hakim di tempat tidur. Dia melepas sepatu juga memakaikan selimut padanya. Hakim mulai tertidur pulas. Melihat kondisi Hakim seperti sekarang ini, Humaira tidak tahu akan seperti apa Hakim ke depannya. Dia harap semua akan berjalan baik-baik saja. Saat tengah malam, Hakim bangun dan melihat Humaira yang tertidur di atas sofa. Dia berjalan ke arah Humaira dengan kepala yang masih terasa pusing. Hakim mendekatkan wajahnya ke wajah Humaira sampai bau minuman itu tercium oleh Humaira dan membuatnya terbangun.


"Apa yang kau lakukan?" ucap Humaira terkejut.


Hakim duduk di lantai dengan tubuhnya yang bersandar ke sofa. Dia menatap Humaira tajam.


"Kau jahat! Kenapa kau melakukan semua ini padaku?" ucap Hakim.


"Apa maksudmu?" tanya Humaira.


Hakim memberitahu Humaira jika dia sudah tahu tentang pesan juga video yang ibunya kirim ke ponselnya. Dia mengungkapkan akan amarah juga kekecewaannya terhadap sikap Humaira itu. Hakim terlihat sangat sedih. Humaira sangat terluka melihat sikap Hakim yang seperti itu.


"Kenapa kau mengatakan pada ibu jika aku bersedia untuk menikahi gadis itu? Aku hanya ingin menikahimu, bukan orang lain." tegas Hakim.


Humaira meminta maaf atas keputusannya itu. Dia mencoba untuk membuat Hakim mengerti jika semua itu dia lakukan hanya untuk dirinya. Dengan begitu, sang ayah akan bebas dan dapat tinggal bersama dengannya.


"Aku membencimu!" ucap Hakim. "Mudah sekali kau melepasku, Ra. Jika aku tidak bisa menikahimu, aku lebih baik mati saja." ucap Hakim.

__ADS_1


"Tidak Hakim! Hidupmu masih panjang. Masa depan yang cerah sudah menantimu. Sambutlah ia dengan penuh kebahagiaan!" ucap Humaira.


Hakim merasa sangat terpukul. Humaira pergi untuk memeluknya. Hakim sangat nyaman dengan pelukan itu sampai dia tidak ingin melepas pelukan itu darinya. Malam itu, cahaya bulan mulai redup tertutup awan hitam. Ribuan bintang satu persatu menghilang. Tidak lama lagi pagi akan datang menyapa. Humaira terus menatap Hakim yang tertidur dalam pangkuannya. Dia terus meneteskan air matanya. Sangat berat untuk kehilangan pria yang selama ini menemaninya dalam suka juga dukanya. Dia selalu hadir di saat yang tepat. Sikapnya selalu bisa membuat Humaira tertawa lepas tanpa beban. Humaira merasa ini adalah malam terakhir yang ia habiskan bersama Hakim. Setelah itu, semua hanya akan menjadi kenangan indah yang akan tersimpan rapi dalam ingatannya.


__ADS_2