HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)

HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)
RENCANA JAHAT SAFFIYA


__ADS_3

Saat tiba di rumah, Zura terlihat sangat sedih. Dia memberitahu semua orang jika polisi telah menahan Sean. Dia akan melakukan persidangan dalam waktu tiga hari lagi. Saat itulah Hakim akan memutuskan hukuman apa yang pantas untuk Sean.


"Bagaimana ini ibu? Aku tidak mau jika kakak harus di penjara seperti itu. Memang kejahatan apa yang sudah dia perbuat?" tanya Zura.


"Ini semua karena dokter tidak tahu diri itu!" sambung Ulya. "Dokter itu yang sudah membuat Sean di penjara."


"Siapa yang bibi maksud?" tanya Zura tidak mengerti.


"Siapa lagi jika bukan Humaira."


Ulya menjelekkan Humaira di depan Zura. Semua yang terjadi karena ulahnya. Zura tidak percaya jika Humaira orang yang seperti itu. Dia melakukan semua itu pasti ada alasannya. Zura berlari ke luar dan mengehentikan mobil Edgar yang akan pergi. Dia langsung masuk ke dalam mobil.


"Tolong antarkan aku ke hotel! Aku harus menemui kak Humaira sekarang juga." ucapnya pada Edgar.


Sore itu, Humaira pergi menemui Aiyse. Dia pamit memundurkan diri dari rumah sakit itu. Aiyse meminta maaf pada Humaira untuk apa yang terjadi padanya. Dia baru tahu jika pria yang dicintai Hana adalah kekasih dari Humaira.


"Apa hubungan kalian baik-baik saja setelah kejadian ini?" tanya Aiyse.


"Tidak nyonya, aku dan Hakim tidak ada lagi hubungan. Lagi pula dia harus fokus pada pernikahannya dengan Hana." ucap Humaira.


Jika saja dari awal Aiyse tahu Hakim adalah kekasih Humaira, mungkin dia akan membujuk kakaknya untuk tidak menikahkan Hana dengan Hakim. Humaira meyakinkan Aiyse jika dia baik-baik saja. Semua yang terjadi padanya mungkin karena memang Hakim bukanlah jodohnya. Humaira ikhlas untuk melepaskannya. Dia yakin tuhan telah menyiapkan pasangan terbaik untuknya pengganti Hakim. Tidak lama akhirnya Humaira pamit dari rumah sakit itu. Di satu sisi, Zura telah tiba di depan kamar hotel Humaira. Saat menekan bel, Walid yang keluar membukanya.


"Maaf paman, apa dokter Humaira ada?" tanya Zura.


"Dia sedang pergi ke rumah sakit untuk menyerahkan surat pemunduran dirinya."


Walid menyuruh Zura dan Edgar untuk masuk. Mereka melihat sudah ada dua koper besar di samping tempat tidur.


"Kenapa dokter Humaira memundurkan diri?" tanya Zura.


"Kami akan kembali ke Maroko besok pagi, nak." jawab Walid.


Mendengar kepergian Humaira, entah kenapa Zura terlihat sedikit sedih. Kurang lebih satu jam menunggu, akhirnya Humaira tiba. Dia sangat senang dengan kedatangan Zura di apartemennya.


"Ada apa kau datang kemari?" tanya Humaira.

__ADS_1


Zura meminta Humaira untuk mengobrol berdua saja. Akhirnya Humaira membawa Zura pergi ke luar sekaligus sebagai perbincangannya yang terakhir sebelum dia pergi meninggalkan Qatar.


"Aku baru saja menemui kakak di penjara, dan saat tiba di rumah bibi Ulya mengatakan jika dia dipenjara karena kau," ucap Zura.


Humaira memberitahu Zura tentang pembunuhan yang dilakukan Sean di hotel kemarin. Awalnya Zura tidak percaya tapi Humaira memberikan rekaman CCTV itu pada Zura supaya dia sendiri bisa melihat semua kebenarannya. Humaira sudah menganggap Zura sebagai adik kandungnya sendiri, dia tidak mau jika masalah Sean dapat menghancurkan hubungan baik itu. Setelah dari hotel, Zura tidak langsung pulang ke rumah. Dia akan menginap di rumah Edgar malam ini. Sesampainya di rumah, Edgar membawa Zura ke kamar dimana kamar itu yang biasa Sean tempati untuk tidur. Edgar meminta pelayan untuk menyiapkan makan malam. Sementara Zura, dia meminjam laptop milik Edgar untuk melihat rekaman CCTV itu. Zura sangat terkejut melihat penembakan yang dilakukan Sean pada seorang penghuni hotel. Itu berarti semua perkataan Ulya tidak benar. Dia hanya bisa menyalahkan Humaira untuk semua itu, tapi dia tidak sedikit pun memberitahunya mengenai kejadian itu.


Hari sudah semakin sore. Saffiya terlihat sangat terburu-buru. Dia harus pergi menemui anak buah Sean. Kepergian Saffiya diketahui Ulya. Dia sangat penasaran kemana Saffiya pergi. Tanpa sepengetahuan siapapun akhirnya Ulya mengikuti Saffiya dari belakang. Kurang lebih tiga puluh menit dalam perjalanan, Saffiya tiba di sebuah taman. Dia melihat sudah ada seorang pria tinggi besar yang sudah menunggunya.


"Apa kau anak buah suamiku?" tanya Saffiya.


"Betul nona, jika aku boleh tahu ada apa kau ingin menemui ku?" tanya pria itu.


Dari jauh Ulya hanya bisa melihat Saffiya yang sedang berbincang dengan pria itu, tapi sayang dia tidak bisa mendengar percakapan mereka. Saffiya memberikan pria itu sebuah foto.


"Lenyapkan gadis yang ada dalam foto ini!" perintah Saffiya.


Awalnya pria itu menolak karena dia tidak mau dipekerjakan orang lain, kecuali hanya Sean yang dapat memerintahkannya.


"Sean yang memintaku untuk menemuimu. Dia minta supaya kau menghabisi gadis itu."


"Kenapa tuan Sean memintaku untuk menghabisi gadis ini?" tanya pria itu.


"Karena gadis itu yang sudah membuat Sean di penjara." jawab Saffiya.


Saffiya sempat mengancam pria itu jika dia sampai tidak melakukan perintah itu, maka dia tidak akan segan untuk menjebloskannya ke dalam penjara karena sudah menjadi kakak tangan seorang mafia. Karena merasa takut dengan ancaman Saffiya, pria itu akhirnya menerima perintah. Sebelum pergi, Saffiya memberikan alamat hotel tempat tinggal Humaira.


"Jangan sampai lolos! Hubungi aku jika semua pekerjaan mu itu sudah selesai."


"Bagaimana dengan bayarannya?"


"Kau tidak perlu khawatir, saat pekerjaanmu itu telah selesai, aku akan membayarmu dengan sangat mahal."


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu."


Ulya sangat penasaran dengan perbincangan yang ada di antara mereka. Kelihatannya perbincangan itu sangat serius. Sebelum Saffiya mengetahui keberadaannya, Ulya langsung pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


\*\*\*


Malam sudah tiba. Edgar mengajak Zura untuk turun makan malam. Pelayan terlihat sangat kerepotan. Zura membantu pelayan itu untuk menghidangkan makanannya.


"Kau sangat cantik nona, apa kau kekasih tuan Edgar?" Pertanyaan pelayan itu terdengar di telinga Edgar.


"Do'akan saja bi, semoga dia mau." ucap Edgar menggoda Zura.


Mendengar hal itu, Zura langsung membantahnya. Dia memberitahu pada pelayan jika dia adik dari Sean sekaligus teman kerja Edgar. Mereka tidak memiliki hubungan apapun. Bahkan jika harus berteman sekalipun mungkin Zura harus berpikir seribu kali lagi untuk menjadi teman Edgar.


"Jangan bersikap seperti itu, nona. Nanti kau bisa jatuh cinta pada tuan Edgar. Kan repot jadinya." ucap pelayan itu.


"Itu tidak akan pernah terjadi bi!" jawab Zura.


Berbeda dengan keluarga besar Jeevan, mereka masih mencari cara untuk membebaskan Sean. Tiba di rumah, Ulya memancing Saffiya supaya mengatakan yang sebenarnya kemana dia pergi tadi, tapi dengan mudahnya dia mengatakan pada semua orang jika tadi sore dia pergi menemui pengacara terbaik ayahnya. Dia melakukan semua itu demi Sean. Ketika Ulya akan membongkar kebohongan Saffiya, tidak lama pelayan datang dan memberitahu Saffiya jika ada orang yang sedang menunggunya di luar. Saffiya yakin jika itu adalah pengacaranya. Dia langsung menyuruh pengacara itu masuk dan memperkenalkannya pada semua orang.


Ulya merasa sedikit heran kenapa pengacara itu benar-benar datang. Padahal tadi sore dia melihat Saffiya menemui seorang pria dan seingatnya wajah pria itu dengan pengacara jauh berbeda.


"Kau lolos untuk hari ini, Saffiya. Tapi lihat aku akan mencari tahu siapa sebenarnya pria yang tadi kau temui di taman."


Nasreen datang menemui ibunya di kamar. Dia memberitahu sang ibu jika di bawah sudah ada pengacara terbaik Saffiya yang akan menangani kasus Sean. Nasreen tidak melihat reaksi apapun yang ditunjukkan ibunya.


"Kenapa ibu terlihat masih bersedih?" tanya Nasreen. "Ibu..., Sean akan segera bebas dengan bantuan pengacara itu. Semua kasus yang ditangani olehnya tidak pernah ada yang gagal."


Nasreen memberitahu ibunya jika persidangan Sean akan dilaksanakan tiga hari lagi. Pengacara itu akan membela Sean di persidangan nanti. Nasreen berharap ibunya juga ikut hadir untuk melihat kebebasan Sean. Dia akan merasa sangat sedih jika neneknya sendiri tidak hadir dalam persidangan itu.


"Aku akan hadir, nak. Kau tidak perlu khawatir." jawab Azizah singkat.


Kebebasan Sean adalah harapan terbesarnya saat ini. Tapi yang membuat Azizah bersedih karena darah sang suami mengalir dalam diri Sean. Dia tumbuh menjadi seorang mafia kejam dimana hari ini dia menyaksikan cucu kesayangannya itu telah melenyapkan nyawa seseorang. Saat Azizah tengah melamun, tiba-tiba ponselnya berdering. Azizah melihat panggilan masuk dari Humaira. Dia langsung mematikan ponselnya. Tidak lama Humaira mengirim pesan pada Azizah. Saat dibuka, ternyata isi pesan itu adalah...


'Nenek... aku tahu kau marah padaku karena kejadian hari ini. Tapi aku hanya ingin mengucapkan terimakasih untuk semua kebaikan yang sudah kau dan keluargamu berikan padaku. Aku pamit yah nek... Aku dan ayahku akan kembali ke Maroko besok pagi. Tetap jaga kesehatanmu, dan istirahat yang cukup. Saat kita bertemu lagi nanti, kau harus sudah sembuh. Aku sangat menyayangi mu nenek...


Membaca isi pesan itu, Azizah berlinang air mata. Sean harus di penjara, dan sekarang dia mendapat kabar jika Humaira akan kembali ke Maroko. Dia akan pergi meninggalkan Qatar untuk selamanya.


"Kenapa aku harus kehilangan seorang gadis baik sepertimu, nak? Kau sudah aku anggap sebagai cucuku sendiri dan sekarang kau pun akan pergi meninggalkanku."

__ADS_1


__ADS_2