HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)

HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)
KEBEBASAN SEAN


__ADS_3

Sesampainya di rumah, sikap Humaira sedikit berbeda. Dia terlihat banyak melamun. Yurin yang juga baru sampai langsung menghampirinya. Dengan senang hati, dia akan memberikan syal itu sebagai hadiah untuk Humaira di hari ulang tahunnya. Saat dilihat, wajah Humaira seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kau kenapa nak?" tanya Yurin.


"Aku baru saja menangkap pelaku yang sudah menembak ayah waktu di bandara."


"Lalu?" tanya Yurin penasaran.


Humaira memberitahu bibinya jika pelaku itu adalah pria yang dibayar Sean untuk menembaknya. Humaira sekarang tahu jika awalnya yang menjadi sasaran tembak itu seharusnya dirinya, tetapi sang ayah yang melihat itu langsung pergi menyelamatkannya.


"Apa kau yakin Sean yang menyuruh pria itu untuk menembak mu? Bisa saja kan pria itu berbohong."


"Tidak mungkin pria itu berbohong bi, untuk apa dia melakukan semua itu?"


"Tapi untuk apa Sean menyuruh pria itu untuk menembak mu?"


Humaira kembali memberitahu Yurin jika dia yang sudah membuat Sean di penjara selama lima tahun. Dia menjadi saksi saat di persidangan mengenai kasus yang menimpa Sean saat di hotel. Dia terbukti membunuh seseorang di kamar hotel dan diketahui olehnya. Sean melakukan semua itu untuk membalas dendam padanya. Dia tidak akan membiarkan orang yang sudah membuatnya menderita hidup dengan tenang. Buktinya saja waktu bertemu dengan Sean di rumah sakit, dia terus membahas rencananya untuk membalas dendam. Yurin sedikit terkejut mendengar hal itu. Dia pikir Sean di penjara karena tertangkap saat melakukan aksinya, tapi ternyata Humaira lah yang memasukkannya ke dalam penjara.


"Jika memang Sean yang membayar orang itu untuk membunuh Humaira, itu berarti dia dan kakeknya sama saja, mereka sama-sama seorang pembunuh." batin Yurin.


Yurin meminta Humaira untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu dan memberikannya pada Humaira.


"Apa ini bibi?"


"Buka saja, sayang!"


Saat di buka ternyata isinya sebuah syal. Humaira terlihat sangat bahagia dengan hadiah itu. Dia langsung mengenakan syal itu dan melihat dirinya di cermin.


"Kau sangat cantik dengan syal itu, sayang." puji Yurin.


"Terima kasih, bibi."


Humaira sangat berterimakasih pada Yurin karena dia tahu syal itu hadiah darinya, tetapi, Yurin sendiri juga menyembunyikan kebenarannya. Saat waktunya tiba nanti, ia akan memberitahu tentang syal itu pada Humaira. Saat mengenakan syal itu, Humaira menjadi teringat dengan seseorang. Dia teringat dengan Azizah. Begitu besar rasa rindu yang ada untuknya, hanya saja Humaira takut untuk datang kembali ke rumah besar itu. Dia tahu semua orang di sana sangat membencinya karena sudah membuat Sean di penjara.


Malam itu Humaira mendapat telepon dari Dokter Nilam. Dia mengundang Humaira untuk datang ke acara ulang tahunnya di sebuah restoran mewah besok malam. Dengan senang hati Humaira menerima undangan itu. Besok adalah hari Minggu. Humaira akan mengajak bibi Yurin untuk mencari kado untuk dokter Nilam. Jam sudah menunjukkan pukul 23.30 malam. Humaira baru saja naik ke tempat tidurnya. Saat menatap layar ponselnya, besok adalah tanggal 5 Desember dimana Sean akan bebas dari penjara. Humaira sedikit khawatir dengan kata-kata Sean saat di rumah sakit, dia begitu berambisi untuk memiliki dirinya. Tapi walau bagaimana pun, ia tidak akan pernah mau hidup berdampingan dengan pria yang sudah membunuh ayahnya.


Di satu sisi, semua orang di rumah besar Jeevan pun sudah tidak sabar menunggu hari esok dimana Sean akan bebas. Malam itu Zura dan Edgar masih berada di kantor. Mereka mengumumkan pada semua pegawai jika bos besarnya itu akan bebas besok pagi. Edgar meminta mereka untuk menyambut kedatangannya kembali di kantor dengan meriah. Jangan ada seorang pun yang bertanya tentang hal apapun padanya, kecuali hanya masalah yang berkenaan dengan pekerjaan kantor. Zura menyuruh pelayan untuk membersihkan dan merapikan ruang kerja kakaknya. Dia ingin ruangan itu sama persis seperti semula tidak ada perubahan dalam hal apapun, karena Sean tidak suka dengan perubahan pada ruang kerjanya jika bukan ia sendiri yang memintanya. Saat mengantar Zura pulang, Edgar sempat bicara dengannya sebentar. Besok pagi ia akan datang ke rumah Zura untuk pergi bersama menjemput Sean di penjara. Zura pun menyetujuinya. Tidak terasa akhirnya mobil Edgar sampai di depan rumah besar Jeevan.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang. Sampai jumpa besok."

__ADS_1


"Sampai jumpa."


Saat Zura masuk, dia pergi ke kamar Azizah untuk melihat keadaannya. Tiba di sana, Zura juga melihat ada ibunya yang sedang memberikan obat.


"Bagaimana keadaan mu nenek?" tanya Zura.


"Aku sudah lebih baik nak, tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan."


Nasreen memberitahu Zura jika besok keluarga besar Jeevan mendapat undangan dari dokter Nilam. Dia mengundang semua orang untuk datang ke acara ulang tahunnya besok malam. Dokter Nilam adalah sahabat baik Azizah waktu SMA. Dia akan merasa tidak enak jika tidak datang ke acara bahagianya. Azizah meminta Zura untuk menemaninya mencari kado yang spesial untuk dokter Nilam. Mereka akan pergi besok pagi setelah menjemput Sean di kantor polisi. Azizah pun berharap jika Sean bersedia untuk hadir di acara penting dokter Nilam karena dia adalah dokter pribadi Sean saat dia masih kecil. Saat akan pergi menuju kamarnya, Zura melihat pintu kamar Saffiya yang terbuka. Saat dilihat, semua barang di kamar itu sangat berantakan. Karena merasa sangat penasaran, Zura akhirnya masuk ke dalam. Ia mencoba memanggil-manggil Saffiya tapi sepertinya dia sedang tidak ada di rumah. Zura melihat pecahan vas yang berantakan di lantai juga isi bantal yang berhamburan seperti bulu ayam.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" ucapnya.


Saat membuka lemari bajunya, ternyata lemari itu sudah kosong. Tidak ada satupun baju Saffiya yang tertinggal. Zura pergi menemui ibunya untuk memberitahu semua itu. Mendengar penjelasan ibunya, Zura sangat terkejut jika ternyata Saffiya tidak lagi tinggal di rumah ini. Dia memutuskan untuk kembali ke rumah orangtuanya setelah apa yang terjadi padanya dengan Sean kemarin siang.


"Memang apa yang terjadi pada mereka ibu?" tanya Zura.


"Kakakmu memutuskan untuk menceraikan Saffiya setelah ia bebas dari penjara. Dia bilang jika dia sudah tidak lagi mencintainya. Di tambah lagi dengan beredarnya kabar tentang kedekatan Saffiya dengan Adinata. Kakakmu terlihat sangat marah."


Terjawab sudah semua pertanyaan yang ada dalam pikiran Zura. Mendengar berita akan perceraian kakaknya itu, Zura merasa sangat kasihan dengan Saffiya walau dia sering membuatnya jengkel dan pernah bersikap tidak baik padanya, tetap saja ia pernah menjadi kakak iparnya. Mereka pernah pergi bersama, tertawa bersama, bahkan saling menguatkan di dalam situasi apapun. Tapi walau bagaimanapun jika memang perceraian sudah menjadi keputusan akhir yang diambil kakaknya, Zura tidak bisa melakukan apapun. Dia harap setelah itu kakaknya mendapat seorang perempuan yang jauh lebih baik dari Saffiya. Memikirkan soal pendamping pengganti Saffiya, tiba-tiba saja Zura teringat dengan Humaira. Ia adalah perempuan yang cocok untuk kakaknya di masa mendatang nanti.


"Kenapa kau senyum-senyum seperti itu?" tanya Nasreen yang merasa aneh dengan sikap putrinya.


"Tidak ibu, hanya saja aku sedang memikirkan pendamping yang cocok untuk kakak nanti."


"Nanti saja aku beritahu, aku sudah lelah dan ingin pergi tidur. Dah..."


\*\*\*


Hari sudah pagi. Cuaca terlihat sangat cerah. Semua orang di keluarga Jeevan tengah bersiap untuk menjemput Kebebasan Sean dari penjara. Terlihat mobil Edgar sudah terparkir di depan rumah Jeevan. Zura langsung turun dan berpamitan pada semua orang untuk pergi ke kantor polisi lebih awal bersama Edgar. Sementara itu, Sean akhirnya sudah bebas dari masa hukumannya, kini ia sudah bisa menghirup udara segar kembali setelah bertahun-tahun berada di dalam sel tahanan. Sean meminjam ponsel petugas untuk menghubungi Edgar. Saat menerima panggilan dari Sean, Edgar terlihat sangat senang. Sean meminta semua orang untuk tidak menjemputnya ke kantor polisi. Dia akan meminta Toni, selaku anak buahnya yang akan datang menjemputnya. Tidak lama Sean pun menutup teleponnya.


"Apa yang kakak katakan di telepon?" tanya Zura.


"Dia meminta kita untuk tidak menjemputnya ke sana."


"Kenapa?"


"Entahlah, tapi kau tidak perlu khawatir karena aku sudah menyuruh Toni untuk menjemput Sean."


Edgar memutar balik mobilnya. Sementara itu, semua orang tengah bersiap untuk pergi. Di pintu keluar, mereka melihat mobil Edgar yang sudah kembali. Zura turun dari mobil dan memberitahu semua orang.

__ADS_1


"Kenapa kalian sudah kembali?" tanya Nasreen.


"Kakak tidak ingin kita menjemputnya,"


"Tapi kenapa?"


"Aku tidak tahu ibu, sudahlah sebaiknya kita tunggu saja kakak di rumah. Kau tahu kan jika kita tetap pergi ke sana sikap kakak mungkin akan berbeda."


Mereka pun akhirnya menunggu kepulangan Sean di rumah.


Pagi itu, Humaira baru saja selesai membersihkan rumah. Setelah itu, dia membuat sarapan untuk bibi Yurin. Saat sarapan Humaira meminta bibinya itu untuk menemaninya mencari kado ulang tahun.


"Siapa yang berulang tahun sayang?"


"Kepala rumah sakit tempat aku bekerja bibi. Dia mengundang ku ke acaranya nanti malam. Baru saja aku mendapat undangannya. Tapi undangan itu untuk dua orang. Bibi bersedia kan untuk pergi kesana bersamaku?"


"Baiklah, kebetulan bibi juga sedang tidak ada kegiatan nanti malam. Bibi akan pergi denganmu ke pesta itu."


Di satu sisi, Saffiya pun sedang mencari kado untuk dokter Nilam di mall yang sama. Dia pergi dengan ditemani ibunya. Saat akan masuk ke toko perhiasan, langkah Saffiya tiba-tiba saja terhenti. Dia sangat terkejut melihat Humaira yang berdiri di depannya dalam keadaan baik-baik saja.


"Apa aku tidak salah lihat?" ucap Saffiya sambil mengucek-ngucek matanya.


"Kenapa nak? Kau melihat siapa?" tanya ibunya.


"Tidak ibu, kita pergi ke toko yang lain saja."


"Loh? Bukankah ini toko biasa dimana kau membeli perhiasan? Kenapa kita harus pergi ke toko lain?"


"Sudahlah ibu, aku akan mencari kado yang lain saja."


Saffiya langsung mengajak ibunya pergi dari sana. Dia masuk ke sebuah toko dimana semua barang-barangnya merupakan produk dari merek terkenal, yaitu Dior. Saat ibunya sedang memilih-milih, Saffiya pergi ke toilet untuk menghubungi Roy, pria yang pernah dibayar untuk melenyapkan Humaira. Saffiya terus menghubungi nomor itu tapi tidak ada aktif. Dia mulai terlihat kesal. "Kau sudah mempermainkan aku, Roy. Lihatlah aku akan memberimu perhitungan!" ucapnya.


Setelah mendapatkan kado, Saffiya langsung pulang. Di dalam perjalanan, dia terus memikirkan siapa sebenarnya orang yang sudah Roy lenyapkan. Jika itu bukan Humaira, lalu siapa? Di tengah perjalanan, Saffiya meminta sopir untuk menurunkannya.


"Kenapa kau turun disini?" tanya ibunya heran.


"Aku harus pergi ke rumah seseorang, ibu. Kau pulang lah lebih dulu."


"Kau bisa pergi dengan sopir setelah mengantar ibu."

__ADS_1


"Tidak perlu, aku akan pergi naik taksi saja."


"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan, sayang."


__ADS_2