HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)

HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)
KEPERGIAN SANG AYAH


__ADS_3

Malam itu, Sean tidur hanya beralaskan tikar. Sudah banyak orang yang tidak bersalah harus tinggal di dalam penjara hanya untuk menanggung semua kesalahan yang sudah ia perbuat. Kini Sean bisa merasakan seperti apa hidup di dalam sebuah tahanan. Selesai makan malam, Ulya pergi menemui Saffiya di kamarnya. Terdengar dia sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Keberadaan Ulya diketahui Saffiya dari pantulan cermin yang ada di kamarnya. Dia langsung menutup telepon itu.


"Sedang apa kau disana bibi?"


Ulya sedikit terkejut karena keberadaannya diketahui Saffiya. Ulya pun masuk ke dalam. Dia memberitahu Saffiya jika tadi sore dia melihat dirinya bertemu dengan seorang pria di taman.


"Siapa pria itu? Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ulya.


Saffiya terlihat sangat gugup. Dia memberitahu Ulya jika pria itu adalah teman kerjanya di lokasi syuting. Ulya tersenyum mendengar alasan Saffiya yang tidak masuk akal itu. Saat mereka sedang berbincang, ponsel Saffiya berdering. Entah panggilan dari siapa, dia langsung mematikan ponselnya karena takut jika Ulya mengetahuinya. Saffiya meminta Ulya untuk keluar dari kamarnya karena dia akan istirahat. Saat akan pergi, Ulya melihat ponsel Sean yang berada di atas meja rias Saffiya. Ulya yakin jika pria yang tadi Saffiya temui ada hubungannya dengan Sean. Tiba di bawah, Ulya menyuruh pelayan untuk mengambil ponsel Sean yang berada di kamar Saffiya secara diam-diam. Pelayan awalnya merasa takut jika perbuatannya itu diketahui Saffiya. Dia pasti akan marah dan langsung memecatnya. Ulya akan memberikan uang tips kepada pelayan itu jika dia berhasil mengambil ponsel Sean. Tidak lama Saffiya memanggil pelayan dan menyuruhnya supaya datang ke kamarnya. Di kamar, mata pelayan itu mencari-cari keberadaan ponsel Sean.


"Apa kau melihat handuk kecilku?" tanya Saffiya.


"Biar bibi yang carikan non,"


Saffiya terlihat sedang menelpon seseorang di balkon. Pelayan melihat ponsel milik Sean dan langsung mengambilnya. Selesai menelepon Saffiya pergi untuk berias. Dia melihat seperti merasa ada yang hilang di atas meja riasnya. Pelayan terlihat sangat ketakutan. Dia takut jika Saffiya menyadari ponsel Sean yang hilang.


"Apa kau mencari sesuatu nona?" tanya pelayan.


"Tidak bi, apa kau sudah mendapatkan handuk kecilku?"


Pelayan memberikan handuk itu dan langsung pergi. Pelayan melihat Ulya yang sedang menunggunya di dapur. Dia langsung menyerahkan ponsel Sean padanya. Ulya merasa kesulitan karena dia harus mencaritahu password apa yang Sean gunakan untuk ponselnya. Beberapa kali Ulya mencoba, dia selalu gagal. Saat memasukkan nama Saffiya, ponsel itu langsung terbuka.


"Ternyata sangat mudah membuka ponsel ini," ucapnya. Ulya melihat panggilan masuk dan keluar. Dia mendapatkan satu nomor yang tidak dikenal. Waktu panggilan itu berlangsung sekitar pukul 13.00 siang. Ulya langsung menyalin nomor itu ke dalam ponselnya. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara teriakan Saffiya. Dia pergi menemui pelayan dan menuduhnya sebagai seorang pencuri. Semua datang untuk melihatnya.


"Ada apa ini?" tanya Nasreen.


"Pelayan ini sudah mencuri sesuatu dari kamarku, ibu. Dia mencuri ponsel Sean yang ada di atas meja riasku.


Pelayan itu mencoba untuk membela diri. Dia sama sekali tidak mencuri apapun dari kamar Saffiya. Mendengar hal itu, secara diam-diam Ulya pergi ke kamar Saffiya dan menaruh kembali ponsel Sean pada tempatnya. Nasreen meminta Saffiya untuk tenang. Dia tidak percaya jika pelayan rumahnya itu mencuri. Sudah bertahun-tahun dia berkerja untuk keluarga Jeevan, tidak pernah sekalipun pelayan itu melakukan hal buruk apalagi sampai dia harus mencuri. Tidak ada orang yang percaya dengan Saffiya. Dia membawa Nasreen ke kamarnya.

__ADS_1


"Kenapa ponsel Sean ada disini?" tanya Saffiya heran. "Tadi aku sudah mencarinya tapi tidak ada."


"Lihatlah! Ponsel Sean ada dan tidak hilang. Tapi kau seenaknya saja menuduh pelayan rumah ini sebagai pencuri." ucap Ulya.


Saffiya meyakinkan pada Nasreen jika tadi ponsel Sean benar-benar tidak ada. Dia juga merasa heran kenapa ponsel itu sekarang ada.


"Sudahlah sayang, kau mungkin lelah setelah seharian ini. Pergilah tidur!" ucap Nasreen.


\*\*\*


Pagi yang cerah. Humaira dan sang ayah baru saja ke luar dari hotel. Mereka pergi dengan menggunakan taksi menuju bandara. Saat taksi itu pergi, sebuah mobil mengikutinya dari belakang. Dia adalah pria yang disuruh Saffiya untuk menghabisi Humaira. Kurang lebih satu jam, akhirnya mereka sampai di bandara. Ketika Humaira akan menyerahkan visa dan paspor pada penjaga terlihat pria itu akan membidik Humaira dari lantai atas. Sang ayah melihat ada sebuah cahaya merah di dekat tubuh putrinya. Melihat asal cahaya itu, sang ayah langsung berlari menyelamatkan putrinya.


"Humaira.... awas nak!" teriak sang ayah.


Dor! Dor! Dor!


Sang ayah jatuh dengan bersimpuh banyak darah. Humaira sempat melihat wajah penembak itu. Saat sang ayah dilarikan ke rumah sakit, keadaannya sudah sangat mengkhawatirkan. Sesampainya di sana, dokter memberitahu Humaira jika ayahnya itu sudah tidak ada. Mendengar hal itu, Humaira dilanda dengan kesedihan yang sangat mendalam atas kepergian sang ayah. Jika saja ayahnya tidak menyelamatkannya, mungkin bukan ayahnya yang tiada tapi dirinya. Humaira tetap melakukan penerbangan menuju Maroko dengan membawa jenazah ayahnya. Dia akan menguburkan sang ayah di dekat makam ibunya. Selesai pemakaman, Humaira melihat ada seorang perempuan paruh baya yang sedang menunggunya di depan rumah. Saat dilihat perempuan itu ternyata wanita yang pernah ia tolong ketika kesulitan membawa barang belanjaannya. Dia juga yang telah memberi Humaira gelang itu.


Nenek itu memeluk Humaira dan memberitahunya jika ia adalah sahabat baik dari Walid. Dia begitu terkejut mengetahui kepergian Walid yang secara tiba-tiba.


"Apa ayahmu sakit?" tanya nenek itu.


Humaira mengajak si nenek untuk masuk. Dia mengambil untuknya segelas air.


"Ayah meninggal karena di tembak oleh orang tak dikenal. Awalnya tembakan itu mengarah kepadaku, tapi dengan cepat ayah menyelamatkanku."


Selepas kepergian sang ayah, Yurin mengajak Humaira untuk tinggal bersamanya di Qatar. Di sana ada rumah peninggalan orang tuannya yang sudah lama tidak di huni. Rumah itu lumayan besar. Akan sangat sayang jika sampai rumah itu kosong. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya Humaira ikut bersama Yurin ke Qatar sekaligus untuk mencari orang yang sudah menembak ayahnya. Mereka pun akhirnya melakukan penerbangan saat malam hari.


\*\*\*

__ADS_1


Hari ini adalah hari persidangan Sean. Semua anggota keluarga hadir dalam persidangan itu. Saat hakim ketua meminta Humaira untuk datang sebagai saksi, Zura langsung maju ke depan. Dia memberitahu hakim jika Humaira sudah kembali ke negaranya Maroko. Dia hanya menitipkan sebuah rekaman CCTV itu padanya untuk diberikan pada hakim saat persidangan nanti. Hakim pun menerima bukti itu. Saat diputar, bukti itu sangat menguatkan Sean atas kasusnya itu. Sekuat apapun pengacara yang di sewa Saffiya, Sean tetap bersalah. Semua terlihat sangat tegang menunggu keputusan hakim. Tidak lama hakim ketua masuk. Dia bersiap untuk membacakan hukuman apa yang akan diberikan pada Sean.


"Berdasarkan bukti yang saya terima, menyatakan jika tuan Sean Barra Jeevan terbukti bersalah. Maka dari itu, pengadilan memutuskan untuk memberikan hukuman padanya berupa hukuman penjara selama lima tahun." ucap hakim ketua sambil mengetuk palu.


Semua tidak siap untuk kehilangan Sean. Azizah lebih dulu pergi ke mobil tanpa bertemu dengan Sean. Dia tidak bisa menahan kesedihannya melihat cucunya itu harus di penjara selama lima tahun. Azizah meminta sopir untuk segera mengantarnya pulang ke rumah. Sean mencoba untuk kuat. Dia meminta Edgar untuk mengganti kepemimpinan perusahaan Jeevan selama ia berada di penjara. Ketika sampai di rumah, semua terasa berbeda. Rumah terasa sangat sepi semenjak Sean ada di penjara. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Nasreen masih tidak bisa menerima jika putranya itu harus di penjara. Dia menyalahkan Humaira untuk semua itu. Sementara Saffiya, dia masih menunggu kabar dari pria itu. Tidak lama ponselnya berdering. Saffiya pergi untuk mengangkatnya. Dia terlihat sangat senang mendengar jika pria itu telah menghabisi Humaira. Sesuai perjanjian, Saffiya akan membayar mahal pekerjaannya itu. Pria itu terpaksa berbohong demi uang. Jika tidak mungkin Saffiya akan menghabisinya saat tahu bukan Humaira yang ia tembak melainkan orang lain.


\*\*\*



Tiba di Qatar, Yurin dan Humaira harus naik taksi lagi saat akan menuju rumahnya. Jarak rumah dari bandara lumayan sangat jauh. Perjalanannya kurang lebih menghabiskan waktu dua setengah jam. Tiba di sana, Humaira bisa melihat keindahan laut dari rumah nenek Yurin. Humaira membawa semua barangnya ke dalam. Rumah itu sangat kotor juga berdebu. Pantas saja karena selama ini tidak ada yang menghuni rumah itu. Yurin meminta maaf pada Humaira karena dia harus membersihkan rumah itu terlihat dahulu. Humaira sama sekali tidak keberatan. Dia malah sangat bersemangat untuk membersihkan rumah itu. Melihat nenek Yurin yang mulai kelelahan, Humaira memintanya untuk istirahat sebentar. Dia yang akan meneruskan semua pekerjaannya.


Saat malam tiba, Humaira baru selesai dari pekerjaannya. Rumah terlihat sudah bersih dan rapi. Berhubung tidak ada makanan di rumahnya, nenek Yurin mengajak Humaira untuk makan malam di luar sekaligus berbelanja untuk isi kulkasnya. Perjalanan kota malam itu macet. Taksi yang ditumpangi nenek Yurin dan Humaira ternyata bersebelahan dengan mobil Edgar. Saat menengok ke arah samping, Zura sempat melihat Humaira sekilas. Saat akan memanggilnya taksi itu sudah jalan.


"Ada apa?" tanya Edgar.


"Baru saja aku melihat kak Humaira dalam taksi itu," jawab Zura.


"Bukankah kau bilang Humaira sudah kembali ke Maroko?"


"Aku tidak tahu, mungkin dia kembali untuk sebuah urusan."


"Sudahlah, kau mungkin salah lihat tadi."


Zura sangat yakin jika yang ia lihat dalam taksi itu adalah Humaira. Untuk menghilangkan rasa penasarannya, dia meminta Edgar untuk mengikuti taksi yang ada di depannya. Sampai akhirnya taksi itu berhenti di depan sebuah restoran. Saat dilihat, orang yang keluar dari taksi itu bukanlah Humaira, melainkan orang lain.


"Apa kau sudah puas? Lihatlah! Bukan Humaira yang keluar dari taksi itu," ucap Edgar.


"Tidak mungkin aku salah lihat tadi, itu jelas-jelas kak Humaira yang ada dalam taksi itu." ucap Zura dalam hati.

__ADS_1


Saat mobil Edgar pergi, tidak lama sebuah taksi berwarna kuning berhenti di depan restoran. Keluarlah nenek Yurin dan Humaira dari taksi itu.


__ADS_2