HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)

HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)
MENEMUKAN PELAKU PENEMBAKAN


__ADS_3

Tepat pukul 12.00 malam, Yurin pergi ke kamar Humaira untuk memberinya kejutan. Dia masuk ke kamarnya secara diam-diam. Yurin mencoba untuk menyalakan lampu karena saat masuk kamar Humaira terlihat gelap. Itulah salah satu kebiasaannya dimana ia selalu mematikan lampu saat tidur. Saat lampu dinyalakan, Humaira merasa sangat silau. Dia mulai membuka matanya perlahan. "Selamat ulang tahun, sayang!" ucap Yurin dengan membawa kue ulang tahun. Humaira langsung terbangun. Dia melihat layar ponselnya, ternyata sudah tanggal 27 November dimana itu adalah hari ulang tahunnya. Yurin meminta Humaira untuk meniup lilinnya. Kebahagiaan Humaira bercampur dengan kesedihan. Dia teringat dengan mendiang orang tuanya. Genap sudah Humaira berumur 26 tahun.


"Terima kasih banyak, bibi." ucap Humaira sambil memeluknya.


Mereka pergi ke bawah untuk memotong kuenya. Saat turun, Yurin terkejut melihat paket bunga yang cukup besar. Dia merasa rumahnya kini berubah menjadi taman bunga.


"Siapa yang mengirim paket sebesar ini?" tanya Yurin.


Humaira sempat terdiam. Dia mencari alasan jangan sampai bibinya tahu Sean lah yang mengirim paket itu. Jika dia sampai tahu, akan banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya.


"Mmm... temanku yang mengirimkannya bibi," ucap Humaira.


Yurin pun percaya dengan perkataan Humaira. Malam itu, mereka sangat menikmati kuenya. Selesai makan, Humaira kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya. Sementara Yurin, dia masih memikirkan cara bagaimana ia dapat mengambil syal itu dari Azizah. Bagaimana pun, syal itu harus segera jatuh ke tangan Humaira seperti yang diinginkan ibunya sebelum meninggal. Syal itu adalah hadiah terakhir darinya. Yurin akan menemui Azizah kembali untuk mengambil syal itu.


\*\*\*



Pagi yang cerah, membuat semua orang tidak sabar menunggu kebebasan Sean yang tinggal beberapa hari lagi. Satu Minggu sudah Azizah dirawat di rumah sakit, kini ia memutuskan untuk pulang. Tiba di rumah, Nasreen langsung membawa ibunya ke kamar. Sementara Zura dan Edgar harus kembali ke kantor untuk urusan pekerjaan. Saat akan pergi, Zura melihat sebuah taksi yang berhenti tepat di depan rumahnya. Saat dilihat ternyata Saffiya yang baru saja datang.


"Selamat datang kak," ucap Zura.


Saffiya tidak menghiraukan sapaan Zura. Dia bergegas masuk dan langsung menemui ibu mertuanya. Nasreen terkejut melihat kedatangan Saffiya.


"Untuk apa kau datang lagi ke rumah ini?" tanya Nasreen.


"Jangan bicara seperti itu, ibu. Aku ini masih menantumu, aku istri sah dari Sean." ucap Saffiya.


Nasreen terlihat sangat marah dengan apa yang sudah Saffiya lakukan selama Sean di penjara. Nasreen meminta Saffiya untuk mengemas semua barangnya. Dia tidak lagi membutuhkan seorang menantu seperti dirinya di rumahnya. Saat Sean bebas nanti, Nasreen akan meminta dia untuk menceraikan Saffiya. Mendengar perkataan ibu mertuanya, Saffiya memohon pada Nasreen agar bisa memaafkan semua kesalahannya. Dia mencoba untuk mengklarifikasi hubungannya dengan Adinata, mereka tidak memiliki hubungan apapun kecuali hanya sebatas partner kerja. Saffiya meminta Nasreen untuk memberikannya kesempatan kedua, dia berjanji akan menjadi istri yang lebih baik lagi bagi Sean jika perlu dia akan keluar dari dunia perfilman itu demi Sean. Mendengar perkataan Saffiya, sepertinya dia sangat bersungguh-sungguh. Nasreen akhirnya memaafkan Saffiya dengan syarat dia harus berhenti dari pekerjaannya menjadi seorang aktris. Walau semua itu berat bagi Saffiya, tapi tidak ada cara lain untuk membuatnya tetap bertahan di rumah besar itu.


Untuk menebus semua kesalahannya, Nasreen mengajak Saffiya untuk menemui Sean di penjara. Tiba disana, Saffiya langsung memeluk erat suaminya itu. Tidak lama Sean langsung melepas pelukan itu.


"Ada apa kalian datang kemari?" tanya Sean dingin.


"Aku sangat merindukanmu, Sean." ucap Saffiya.

__ADS_1


Sean tersenyum kecut mendengar perkataan Saffiya. Tanpa basa-basi Sean meminta petugas untuk membawanya kembali masuk.


"Tunggu pak!" ucap Saffiya pada petugas itu. "Beri aku sedikit waktu untuk bicara dengan suamiku."


Saffiya meminta Sean untuk menatap wajahnya. "Apa kau sudah tidak lagi mencintaiku?" ucapnya.


Dengan tatapan yang sangat dalam, Sean akhirnya mengungkap semua isi hatinya. Dia mengatakan di hadapan Saffiya jika ia sudah tidak lagi mencintainya. Cinta ia sudah hilang sejak Saffiya tak lagi datang mengunjunginya saat ia berada di dalam sel tahanan. Bahkan, lebih banyak berita yang ia dengar tentang kedekatan istrinya itu dengan seorang pengusaha berlian.


"Aku dan Adinata tidak memiliki hubungan apapun Sean, percayalah! Sampai kapan pun aku akan tetap mencintaimu," ucap Saffiya meyakinkan Sean.


"Bagaimana pun kau menjelaskan semua itu, perasaan ku tetap sama. Aku sudah tidak lagi mencintaimu."


Waktu berkunjung telah selesai. Petugas membawa Sean kembali masuk. Saffiya terlihat sangat lemas. Dia tidak siap jika harus kehilangan Sean dan menjadi janda. Bagaimana pun caranya, Sean harus kembali ke dalam pelukannya. Dia akan mencari cara supaya Sean tidak menceraikannya.


\*\*\*


Siang itu, Yurin datang kembali ke rumah besar Jeevan. Dia bertemu Nasreen di sana.


"Untuk apa kau datang lagi kemari?"


"Aku ingin bertemu dengan pemilik rumah ini."


Yurin tidak pergi begitu saja. Dia meminta Nasreen untuk memanggilkan Azizah. Dia yakin saat tahu dirinya datang, Azizah akan bersedia untuk menerimanya di rumahnya. Nasreen pun pergi menemui ibunya di kamar. Saat itu Azizah tengah berbaring dengan mengenakan syal miliknya. Nasreen tidak ingin mengganggu waktu istirahat ibunya. Saat akan pergi, Azizah mengetahui kedatangannya.


"Untuk apa kau datang kemari, nak?"


"Ada perempuan yang ingin menemui ibu di bawah."


"Perempuan yang mana?"


"Perempuan yang mengaku sebagai sahabat dekat ayah."


Azizah langsung bisa menebak jika itu adalah Yurin. Azizah meminta Nasreen untuk membantunya turun ke bawah. Dia menemui Yurin di ruang tengah. Melihat kedatangan Azizah, Yurin langsung melirik syal yang dikenakannya. "Bukankah itu syal yang dihadiahkan istri Walid untuk Humaira?" batinnya.


Yurin melihat keadaan Azizah yang masih sangat lemas. Dia tidak ingin terlalu menekannya karena takut kondisinya akan semakin memburuk.

__ADS_1


"Untuk apa kau datang lagi kemari?"


"Untuk syal yang ada di lehermu itu, nyonya."


Yurin memberitahu Azizah jika putri dari pemilik syal itu tengah berulang tahun hari ini. Dia terlihat sangat sedih karena di hari bahagia ini kedua orangtuanya sudah tidak ada lagi bersamanya. Jika dia tahu sang ibu meninggalkan kado terakhirnya sebelum ia pergi, mungkin hatinya akan sedikit terobati. Mendengar hal itu, hati Azizah merasa tersentuh. Mungkin syal miliknya itu adalah syal milik orang lain yang direnggut paksa oleh suaminya. Dengan kebesaran hati, Azizah melepas syal itu dan merapikannya kembali. Dia memanggil pelayan dan menyuruhnya untuk mengambil kotak kayu miliknya yang ada di dalam lemari. Tidak lama kemudian, pelayan datang dengan membawa kotak itu. Azizah memasukkan kembali syal itu ke dalam kotak lalu menyerahkannya pada Yurin.


"Tolong sampaikan ucapan selamat ulang tahunku pada putri wanita itu! Meski kau bersikeras untuk menyembunyikan dia dariku, tapi aku yakin cepat atau lambat aku akan tahu semuanya."


"Terima kasih nyonya, kalau begitu aku permisi dulu."


Di satu sisi, Humaira pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan yang sudah habis. Ketika sedang memilih sayuran, Humaira melihat seorang pria yang menembak ayahnya saat di bandara. Dengan cepat Humaira menghampiri pria itu.


"Permisi!"


Melihat wajah Humaira, pria itu langsung melarikan diri karena dia tahu gadis itu adalah gadis yang hampir saja ia tembak, namun sayang sang ayah yang akhirnya terkena tembakan itu.


"Hey! Jangan lari!"


Melihat pria itu yang sudah lari cukup jauh, Humaira mencari jalan pintas untuk bisa mendapatkannya.


"Brug!"


Pria itu menabrak sebuah tumpukan kardus di depannya. Saat ia akan bangun, Humaira datang dari belakang dan mencoba untuk menahannya.


"Ada apa ini?" tanya seseorang.


"Dia seorang pembunuh tuan," ucap Humaira.


Ketika pria itu akan dikeroyok massa, Humaira langsung mengamankannya. Dia membawa pria itu ke kantor polisi. Di sana Humaira memberi kesaksian atas kejahatan pria itu jika ia adalah pelaku penembakan yang terjadi pada ayahnya saat di bandara. Pihak kepolisian pun mulai membuka kasus itu. Sementara itu, pria tadi harus di bawa ke dalam sel tahanan terlebih dahulu untuk diamankan. Sebelum pergi, Humaira meminta pria itu untuk berkata jujur siapa orang yang sudah menyuruh dia melakukan hal jahat itu.


"Apa kesalahan kami padamu sampai kau tega menembak ayahku? Bagaimana jika semua ini dialami olehmu? Apa kau bisa menerimanya?"


"Maafkan aku nona, aku sangat menyesal. Aku hanya di suruh oleh seseorang."


"Siapa yang sudah menyuruhmu melakukan semua itu?"

__ADS_1


Pria itu sempat terdiam. Jika ia mengatakan kebenarannya, Saffiya tidak akan tinggal diam. Dia akan menyakiti istri juga anaknya. Dengan terpaksa pria itu akhirnya menyebut nama Sean. Mendengar hal itu, Humaira merasa sangat tidak percaya. Dia tidak percaya jika Sean sejahat itu padanya. Mungkin dia melakukan semua itu untuk membalaskan dendamnya karena sudah membuat ia di penjara. Selama perjalanan pulang, Humaira terus memikirkan hal itu.


"Kenapa aku harus bertemu dengan pria sejahat Sean? Lihatlah! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkannya." ucapnya.


__ADS_2