HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)

HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)
MENGOBATI LUKA SEAN


__ADS_3

Malam itu, Sean melihat dua orang pria dalam satu sel yang sama sedang melakukan sesuatu agar bisa kabur dari dalam penjara. Terlihat pria itu memegang sebuah pisau dimana ia akan melukai temannya. Seketika Sean langsung merebut pisau itu darinya. Ia tidak akan membiarkan rencana mereka berhasil.


"Berikan pisau itu padaku!" ucap pria itu dengan penuh amarah.


"Ambil saja jika kau bisa!"


Saat pria itu sedang mencoba merebut pisau itu dari Sean, teman satunya lagi mengeluarkan pisau dan menusukkannya tepat di perut Sean. Mendengar suara keributan, polisi langsung datang dan melihat Sean yang sudah terluka. Dia meminta petugas untuk membawa Sean ke rumah sakit secepatnya. Tiba di sana, perawat langsung membawa Sean ke ruangan. Dia pergi untuk memanggil dokter. Saat tiba, Humaira terlihat sangat terkejut mengetahui pasien itu adalah Sean, begitupun Sean dia tidak pernah membayangkan akan bertemu kembali dengannya di sini. Humaira tersadar dari lamunannya. Dia langsung mengobati luka di bagian perut Sean. Humaira meminta perawat untuk menyiapkan suntikan. Butuh beberapa jahitan untuk menutupi lukanya. Saat Humaira akan menyuntikkannya pada Sean, dia langsung menolaknya.


"Jahit lah lukaku ini saat aku dalam keadaan sadar. Sakit ini tak seberapa dibanding dengan semua apa yang sudah kau lakukan terhadapku." ucap Sean.


Humaira menjadi hilang fokus. Ia meminta perawat untuk memanggil dokter lain karena tiba-tiba saja ia merasa tidak enak badan. Saat kembali perawat memberitahu Humaira jika semua dokter sedang melakukan praktek. Mau tidak mau Humaira harus segera mengobati luka Sean. Saat Humaira mulai mengobati lukanya, tangan Sean menggenggam erat tangan Humaira. Ia mencoba untuk menahan rasa sakitnya. Humaira merasa tidak nyaman karena sejak tadi Sean terus saja menatapnya. Tiba-tiba saja Sean tertawa kecil. Humaira heran dengan tingkah aneh Sean.


"Apa ada yang lucu?" tanya Humaira.


"Kenapa tanganmu gemetar seperti itu? Apa jantungmu juga tidak karuan saat berada di dekatku?" ucap Sean.


Humaira mencoba untuk melepaskan tangannya dari genggaman Sean, tapi genggaman itu terlalu kuat. Sean memberitahu Humaira jika sebentar lagi masa hukumannya akan berakhir. Dia berjanji akan membalas semua itu. Kemana pun ia pergi, Sean pasti akan mendapatkannya. Humaira terlihat sangat berkeringat. Sean langsung mengelap keringat itu dengan tangannya.


"Jaga sikapmu itu!" ucap Humaira sambil mengibaskan tangan Sean.


Setelah luka itu di jahit, Humaira membungkusnya dengan perban. "Sudah selesai." ucapnya. Humaira pergi untuk menemui petugas.


"Sean harus datang kembali untuk mengganti perbannya, jika tidak maka lukanya akan infeksi."


"Kapan dia harus kembali?"


"Kembalilah setelah tiga hari!"


Petugas menunggu Sean di luar. Sementara itu, perawat datang dan memberitahu Humaira jika Sean terlihat sangat kesakitan ketika akan berjalan. Humaira datang dan membantu Sean berjalan.


"Aww!" lirih Sean pelan.

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja?" ucap Humaira sambil memegang perut Sean.


"Kenapa? Apa kau mulai peduli padaku?"


Humaira terdiam. Dia membawa Sean menemui petugas. Sebelum pergi, Humaira dibuat terkejut karena Sean yang tiba-tiba saja memeluknya.


"Kita akan bertemu kembali dokter. Aku akan menjadikanmu milikku seutuhnya." bisik Sean pelan. Humaira tertegun mendengar perkataan itu. Dari nada bicaranya, Sean terdengar sangat meyakinkan.


\*\*\*


Malam itu, Azizah sedang berbaring di kamarnya. Dia terus saja memikirkan perkataan perempuan tadi sampai kepalanya merasa sangat pusing. Dia pergi untuk mengeluarkan kotak itu kembali.


"Siapa pemilik dari syal ini?" ucap Azizah. Dia terus bersedih memikirkan semua itu. Seorang pelayan datang ke kamarnya. Dia memberitahu Azizah jika makan malam sudah siap. Azizah meminta pelayan untuk pergi dari kamarnya. Ia tidak akan turun karena tidak berselera makan. Di bawah, pelayan bertemu dengan Zura dan Edgar.


"Dimana nenek? Apa dia sudah makan?" tanya Zura.


"Sejak tadi nyonya mengurung dirinya di kamar. Dia bahkan tidak mau makan."


"Bagaimana keadaan nenek?" tanya Zura.


"Dia terlihat sangat depresi, sepertinya banyak hal yang sedang ia pikirkan sampai kondisi tubuhnya menurun drastis."


Dokter menyarankan pada Zura supaya neneknya itu dirawat di rumah sakit sampai kondisinya benar-benar pulih. Azizah butuh istirahat yang cukup dan menghilangkan semua beban yang ada dalam kepalanya. Itu akan membuat keadaannya cepat membaik. Zura memaklumi jika neneknya itu belakangan ini terlihat bersedih karena memikirkan Sean juga sikap semua orang di rumah yang berubah drastis. Malam itu, Zura memutuskan untuk menamani neneknya di rumah sakit bersama dengan Edgar.


Di satu sisi, Humaira baru saja tiba di rumah. Saat masuk Humaira sudah bisa mencium wangi masakan. Dia pergi ke dapur. Di sana sudah ada beberapa makanan yang sudah Yurin siapkan untuknya. Sementara Yurin sejak tadi ia tidak terlihat. Saat pergi ke kamarnya, Humaira melihat Yurin yang sudah tertidur. Ia sempat membuat catatan kecil yang ditempel di pintu kamar Humaira.


"Makanlah nak, aku sudah menyiapkannya untukmu."


Humaira pergi mandi lalu turun untuk makan. Saat makan, Humaira kembali teringat dengan perkataan Sean tadi. Ia takut Sean akan melakukan hal yang nekat padanya. Selesai makan, Humaira membuka ponselnya. Ia menerima pemberitahuan terkini tentang hubungan Saffiya dengan Adinata yang semakin meresahkan. Media berhasil menangkap kebersamaan mereka saat di New York. Komentar Saffiya pun menjadi soroton. Ia terlihat sangat bahagia disandingkan dengan Adinata yang merupakan pengusaha berlian terbesar ketiga di dunia.


"Apa Saffiya lupa jika ia masih istri dari Sean?" ucap Humaira.

__ADS_1


Saat sedang fokus membaca berita itu, tiba-tiba saja bel rumah berbunyi. Humaira ragu untuk membukanya. Ia sempat melihat ke kamera CCTV yang ada di dekat pintu masuk dan yang datang adalah seorang kurir. Humaira langsung membuka pintunya.


"Dengan nona Humaira Azkayra Azzahra?" tanya kurir itu.


"Ya, aku sendiri."


Kurir itu pergi untuk mengambil sesuatu. Saat dilihat, ternyata sebuah paket bunga yang sangat besar. Humaira meminta kurir itu untuk membawanya masuk ke dalam.


"Siapa yang mengirimkan semua ini?" tanya Humaira penasaran.


"Aku tidak bisa memberitahumu nona, kalau begitu aku permisi dulu."


Humaira terus bertanya-tanya siapa pengirim bunga itu. Saat dilihat-lihat ternyata terdapat sebuah kertas kecil dalam bunga itu.


"Bunga ini tidak secantik dirimu. Wanginya pun kalah dengan aroma wangi tubuhmu. Bunga ini sebagai ucapan rasa terima kasihku karena kau sudah mengobati lukaku. Sampai bertemu kembali, dan oh iya jangan lupakan perkataan ku tadi!"


Sean Barra Jeevan.


Humaira langsung merobek kertas itu. Dia tidak menyangka walaupun dirinya sedang dalam sel tahanan, tapi ia masih bisa mengirim paket bunga seperti ini padanya. Humaira merasa semua itu adalah lelucon.


"Kapan dia memesan paket ini? Ponsel siapa yang ia gunakan?" ucap Humaira sambil tertawa memikirkannya.


Humaira mencium aroma bunga itu yang wangi, sayang jika ia harus membuangnya begitu saja. Humaira membiarkan bunga itu berada di rumahnya. Dia lalu pergi ke kamarnya untuk istirahat.


\*\*\*


Pagi itu, berita tentang Saffiya bersama dengan Adinata sudah tersebar dimana-mana. Saat di meja makan, Nasreen terlihat sangat kecewa karena beraninya Saffiya berkhianat pada putranya. Selama ini ia selalu mendukung setiap keputusannya, dan memenangkan dirinya saat bertengkar dengan Sean tapi sekarang ini dia terlihat sedang bersenang-senang dengan orang lain di Amerika. Nasreen langsung menyingkirkan surat kabar itu dari hadapannya. Ia langsung menghubungi ponsel Saffiya. Tidak lama Saffiya menjawab panggilan Nasreen.


"Halo ibu! Apa kabar? Aku sangat merindulanmu disini," ucap Saffiya manja.


"Hentikan sandiwaramu itu! Kau sudah mempermalukan keluarga besar Jeevan dengan menjalin hubungan dengan pria lain. Jangan lupa nak, kau ini masih istri dari Sean! Jaga sikapmu itu dimana pun kau berada!" Nasreen langsung mematikan teleponnya. Saffiya kaget melihat Nasreen yang memarahinya seperti itu. Saat Saffiya akan meneleponnya kembali, ponsel Nasreen tidak aktif. Saffiya mulai cemas dengan posisinya di rumah besar itu. Ia takut namanya dicoret dari menantu keluarga Jeevan. Hari itu juga, Saffiya memutuskan untuk kembali ke Qatar. Dia tidak ingin apa yang sudah ia miliki sekarang ini akan hilang saat tak lagi menjadi bagian dari keluarga Jeevan. Walau hari itu Saffiya harus mempromosikan film barunya, ia tetap pergi meninggalkan semua itu. Promosi film miliknya tidak berarti apapun dibandingkan dengan posisinya yang sekarang ini sedang terancam di rumah besar itu. Saffiya meminta sang manajer untuk segera memesan tiket pesawat untuk kepulangannya ke Qatar.

__ADS_1


__ADS_2