
Saat masuk ke dalam toilet ternyata bibi Yurin sudah tidak ada di sana. Ketika Humaira keluar dia melihat Sean yang sedang berjalan ke arahnya. Humaira terus berjalan dan berpura-pura tidak melihatnya. Tiba-tiba saja Sean mencekal tangan Humaira erat.
"Apa-apaan kau ini? Lepaskan tanganku!"
"Kenapa? Apa kau mencoba untuk menghindar dariku?"
Sean menarik Humaira ke dalam pelukannya. "Kau sangat cantik dokter!" bisik Sean pelan.
Wajah Humaira memerah saat mendengar pujian Sean. Dia memberitahu Humaira jika gaun yang ia kenakan adalah gaun pemberiannya. Dia menyuruh sekretarisnya untuk menelpon dan berpura-pura mengaku sebagai seorang desainer supaya dia percaya jika gaun itu benar-benar dari dokter Nilam sebagai pakaian seragam bagi dokter dan perawat yang bekerja di rumah sakitnya dan akhirnya semua itu berjalan sesuai rencana. Hanya Humaira dan Sean yang mengenakan pakaian dengan warna yang sama dalam pesta itu.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"
"Apa kau masih tidak mengerti juga? Sudah aku katakan berulang kali jika aku hanya menginginkan dirimu, itu saja."
Deg... Deg.... Deg...
Mendengar hal itu detak jantung Humaira berdegup kencang. Sean menarik tangan Humaira dan menyuruh dia untuk merasakan detak jantungnya.
"Sepeti inilah detak jantungku saat aku sedang berada di dekatmu."
Humaira langsung melepaskan tangannya. Dia tidak mau Sean tahu jika detak jantungnya pun berdebar sangat kencang. Humaira langsung pergi karena pesta sebentar lagi akan dimulai.
Melihat kedatangan Humaira yang di susul oleh Sean, Saffiya yakin jika mereka baru saja bertemu satu sama lain. Saffiya sangat marah ketika melihat warna pakaian yang dikenakan Humaira ternyata sama dengan yang dikenakan Sean. Di tengah-tengah acara, Saffiya meminta izin kepada dokter Nilam untuk menyampaikan sesuatu di hadapan semua orang. Melihat keberadaan Saffiya di atas panggung, semua orang saling bertanya-tanya. Mereka mulai fokus mendengar apa yang akan Saffiya sampaikan. Seketika lampu di acara itu padam. Semua orang terlihat panik hanya saja dokter Nilam dengan cepat menyuruh semua orang untuk memasang lampu yang ada di ponsel mereka. Ruangan itu kini terang dengan cahaya ponsel. Saffiya yang tadi berdiri di tengah panggung sekarang menghilang. Dokter Nilam menyuruh semua orang untuk tenang. Dia sudah menyuruh seseorang untuk mengecek lampunya. Tidak lama lampu di ruangan itu kembali menyala. Saffiya terkejut saat tahu pria yang tadi menariknya dari panggung adalah Sean.
"Kenapa kau menarikku turun?" tanya Saffiya.
"Aku tahu kau akan mempermalukan Humaira di hadapan semua orang bukan?" Saffiya melihat Sean yang begitu mempedulikan Humaira sampai tidak membiarkan dirinya mempermalukan Humaira di depan banyak orang.
"Apa lampu di ruangan tadi mati karena ulahmu?" tanya Saffiya.
"Tepat sekali! Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu kehidupan Humaira, termasuk dirimu."
Sean pergi meninggalkan Saffiya dan kembali masuk. Pada pukul 23.45 dokter Nilam menyuruh dokter baru yang bekerja di rumah sakitnya untuk naik ke atas panggung. Dia memperkenalkan mereka kepada semua orang. Sesaat kemudian mik itu berada di tangan Humaira. Dia terlihat sedikit gemetar saat memperkenalkan dirinya di hadapan semua orang terlebih lagi dia melihat Sean yang sejak tadi terus memandangnya tanpa beralih sedikit pun.
"Apa kau datang bersama kedua orang tuamu nona Humaira?" tanya MC.
Humaira menceritakan sedikit kehidupannya di hadapan banyak orang.
"Kedua orang tuaku sudah meninggal. Ibu meninggal sejak aku berusia 12 tahun. Sementara ayahku, dia baru saja meninggal dua tahun lalu saat kami akan kembali ke Maroko."
Humaira memberitahu semua orang jika seorang mafia kejam yang telah membunuh mereka. Sampai saat ini ia masih mencaritahu siapa keluarga dari mafia itu. Humaira tidak bisa lagi menyembunyikan air matanya. Perasaannya kini campur aduk.
"Apa yang ingin kau lakukan jika suatu hari nanti kau bertemu dengan keluarga dari mafia itu?" tanya ssalah seorang tamu yang hadir.
Dokter Nilam meminta para tamu untuk tidak menanyakan apapun. Dia tidak ingin hati Humaira terluka kembali dengan semua pertanyaan itu. Tapi Humaira dengan senang hati akan menjawab apapun yang mereka pertanyakan. Suatu kebanggan dapat berbagi mengenai kehidupannya di depan orang-orang hebat seperti semua tamu yang hadir di ruangan itu. Bukan untuk menunjukkan kelemahan ataupun kesedihan, melainkan menunjukkan pada semua orang jika dia mampu melewati semua rintangan yang ada dalam hidupnya. Dia seorang perempuan tegar, kuat, dan bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Tidak mudah menjalani hidup sebagai Humaira Azkayra Az-Zahra. Dokter Nilam berdiri di samping Humaira untuk menguatkannya.
__ADS_1
"Apa kesalahan ibu dan ayahku sampai dia tega melenyapkan mereka? Dia tidak memikirkan jika perbuatan kotornya itu membuat aku hidup seorang diri. Aku bermimpi ketika aku sukses nanti ayah dan ibu tersenyum menyaksikan kesuksesan itu. Tapi karena mafia itu semua impianku lenyap. Mereka hanya bisa melihatku dari atas sana." ucap Humaira bercucuran air mata.
Azizah terlihat sedih mendengar semua itu.
Humaira memberitahu semua orang jika masih memiliki satu orang lagi yang membuatnya kuat sampai sekarang ini. Dia adalah Yurin. Humaira berjalan ke arahnya. Dia memperkenalkan Yurin pada semua orang. Dia adalah seorang sahabat dari ayahnya. Setelah kepergian kedua orangtuanya, Humaira tinggal bersama bibinya. Humaira juga mengucapkan terima kasih atas kado yang sudah ia dapat darinya. Syal itu terlihat sangat indah ketika ia kenakan. Azizah terlihat sangat lemas setelah mendengar semua itu. Terlihat keringat dingin keluar dari tubuhnya. Dia akhirnya tahu siapa Yurin sebenarnya. Seketika Azizah pingsan. Semua orang terlihat panik. Ketika Humaira akan menghampirinya, Yurin menahannya. Sean meminta sopir untuk menyiapkan mobil. Yurin membawa Humaira pergi lebih dulu dengan alasan jika kepalanya terasa sangat pusing. Humaira berpamitan pada dokter Nilam karena tidak bisa berada di pestanya sampai selesai. Taksi yang dipesan Yurin sudah sampai. Dia segera membawa Humaira pergi dari sana.
\*\*\*
Tiba di rumah, Sean segera menghubungi dokter pribadi neneknya. Semua orang terlihat sangat panik. Sebelum dokter itu datang, Azizah sudah sadarkan diri.
"Kau tidak apa-apa nenek?" tanya Sean khawatir.
Azizah tiba-tiba saja menangis. Semua orang dibuat bingung dengan sikapnya.
"Kau kenapa ibu?" tanya Emir.
Azizah menggenggam tangan Sean erat. Dia terus menatapnya tanpa mengatakan apapun. Sean tahu jika neneknya itu ingin menyampaikan sesuatu hanya saja ia tidak ingin orang lain mengetahuinya. Sean meminta Azizah untuk tetap tenang. Dokter sebentar lagi akan sampai. Sean merasakan tangan Azizah gemetar dan dingin. Tidak lama dokter datang. Dia mulai memeriksa keadaan Azizah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, hanya saja tekanan darahnya yang turun. Dia membutuhkan istirahat lebih banyak lagi. Dokter mengingatkan Azizah untuk tidak memikirkan sesuatu hal yang berat, karena itu akan mempengaruhi kesehatannya.
"Apa kau sedang memikirkan sesuatu yang membuatmu tertekan nyonya?" tanya dokter.
Azizah terlihat sangat gelisah. Dia terlihat bingung mendengar pertanyaan dokter. Melihat sikap Azizah seperti itu, dokter sangat yakin jika ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Dia terlihat sangat tertekan hanya saja ia tidak berani untuk mengatakannya. Dokter meminta Sean untuk membuat neneknya melupakan masalah itu. Tidak baik jika Azizah terus terbebani oleh masalahnya itu. Sean meminta neneknya itu untuk beristirahat. Besok pagi jika ia sudah kembali tenang, Sean akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Di satu sisi, mobil yang ditumpangi Yurin telah tiba di depan rumah. Humaira menuntun bibinya masuk. Yurin berbaring di sofa sementara Humaira pergi untuk membuatkan secangkir teh hangat. Tidak lama Humaira datang.
"Minum dulu teh nya, bibi!"
"Terima kasih nak."
"Kau kenapa nak?"
"Aku mengkhawatirkan nenek, bibi. Bagaimana keadaan dia sekarang ini?"
Humaira memberitahu bibi Yurin jika dia pernah bekerja sebagai dokter pribadi Azizah. Dia begitu baik dan perhatian. Hanya saja ketika Humaira mengungkap pembunuhan yang dilakukan Sean di hotel itu, semua orang di rumah besar itu membencinya. Azizah meminta Humaira untuk berhenti bekerja. Dia tidak ingin orang di sana menyakitinya. Yurin baru tahu hubungan dekat yang terjalin antara Humaira dan Azizah. Jika saja Humaira tahu siapa sebenarnya Azizah, mungkin dia akan membencinya. Bahkan tidak akan dia menginjakkan kaki di rumah terkutuk itu. Yurin mengambil ponsel Humaira darinya. Dia meminta Humaira untuk segera membersihkan tubuhnya dan pergi tidur. Ponselnya akan ia kembalikan besok pagi.
"Tidak perlu kau menahan ponselku seperti ini, bibi."
"Tidak nak, jika ponsel ini terus berada di tanganmu, kau pasti akan memainkannya.
"Baiklah, aku akan pergi tidur sekarang. Selamat malam!" ucap Humaira.
"Selamat malam sayang!"
\*\*\*
Hari sudah pagi. Sean tertidur di ruang kerjanya. Saat bangun ia langsung bersiap dan tidak lupa melihat kondisi neneknya. Tiba di kamar, Sean melihat Azizah yang masih tertidur. Ia tidak ingin membangunkannya. Saat di meja makan Sean mendapat telepon jika pemimpin perusahaan besar di Oman akan datang untuk menemuinya. Sean meminta sekretaris untuk mengatur jadwal pertemuannya. Sean belum tahu apa maksud dari kedatangan tuan Syamsir ke Qatar. Sebelum pergi Sean meminta pelayan untuk menghubunginya saat nanti neneknya sudah bangun. Tidak lupa juga untuk menyiapkan sarapan untuknya.
Di sisi lain, Humaira bersama Yurin sedang sarapan. Selesai sarapan, Yurin mengembalikan ponsel Humaira padanya. Saat dibuka, terdapat beberapa pesan masuk dari dokter Nilam. Dia meminta Humaira untuk datang lebih awal. Ada sesuatu yang penting yang ia ingin bicarakan dengannya. Humaira langsung pergi bersiap-siap. Yurin mengikuti Humaira ke kamarnya.
__ADS_1
"Kenapa kau terburu-buru nak? Bukankah jadwal praktek mu nanti siang?"
"Dokter Nilam menyuruhku untuk datang sekarang bi. Ada hal penting yang ingin ia bicarakan."
"Baiklah, kalau begitu bibi akan pesankan taksi online dulu untukmu."
"Tidak perlu bi, aku akan membawa mobil sendiri."
"Tapi nak..."
"Aku pergi dulu bibi, dah..."
Jalanan pagi itu sedikit macet. Humaira sempat memberi kabar pada Nilam jika ia akan sedikit terlambat. Di jalan yang sama, mobil yang ditumpangi Sean pun terjebak macet. Humaira membuka kaca mobilnya karena merasa sedikit kepanasan. Keberadaan Humaira itu diketahui Sean. Dia meminta sopir untuk membuka kaca mobilnya. Saat melirik ke samping, Humaira sedikit heran dengan kaca mobil yang ikut terbuka. Sopir itu terus memperhatikan Humaira.
"Kenapa dia terus menatapku?" ucap Humaira dalam hati. Dia merasa tidak nyaman dengan tatapan itu. Humaira kembali menutup kaca mobilnya.
"Kenapa kau menatapnya pak?" tanya Sean.
"Maaf tuan muda, nona itu terlihat sangat cantik. Walau dandanannya yang sederhana, tetap saja tidak bosan orang melihatnya."
"Lain kali jaga pandanganmu itu darinya. Kau bisa menatap perempuan manapun, tapi jangan dia!" ucap Sean memperingatkan sopirnya dengan sedikit candaan.
"Maafkan aku tuan."
"Dia memang sangat cantik, sampai aku sendiri pun sulit untuk berpaling darinya." ucap Sean dalam hati.
\*\*\*
Tiba di rumah sakit, dokter Nilam sudah mengumpulkan semua dokter untuk membicarakan hal penting. Humaira yang baru saja datang ikut bergabung. Dokter Nilam memberitahu semua orang jika tanah kosong yang ada di samping rumah sakitnya itu sudah ditaksir oleh seorang pengusaha dari Oman mencapai 17 triliun. Harga taksiran itu jauh di atas taksiran yang sempat diajukan dokter Nilam pada pemerintah. Dia hanya bisa membeli tanah itu dengan harga 10 triliun saja. Jika dipikir-pikir pemerintah pasti akan menjual tanah itu pada pengusaha Oman yang sudah jelas harganya jauh lebih fantastis.
"Kita bisa mencari tempat lain lagi dokter." ucap salah satu dokter.
"Aku bercita-cita ingin membangun rumah sakit milikku sendiri bersebelahan dengan rumah sakit yang dibangun ayahku ini. Aku ingin membangun rumah sakit yang bebas biaya bagi mereka rakyat-rakyat kecil dan yang tidak mampu membayar."
Humaira ikut bangga dengan mimpi besar yang dimiliki dokter Nilam. Mimpi itu begitu mulia dan akan bermanfaat bagi mereka yang tidak mampu ketika akan pergi berobat. Dokter Nilam meminta jalan keluar untuk itu semua. Dia mempersilahkan para dokter yang ingin menyampaikan pendapatnya mengenai hal itu.
"Bagaimana jika kita menawar tanah itu di atas 17 triliun dokter? Kita bisa bertaruh harga dengan pengusaha Oman itu."
"Aku tidak yakin untuk bisa membayar dengan harga sebanyak itu."
Dari sekian banyak pendapat, dokter Nilam belum mendengar pendapat dari Humaira. Sejak tadi dia terus saja mendengarkan.
"Bagaimana menurutmu Humaira?"
"Kita tunggu saja dokter. Jika pengusaha itu kelihatan baik, dan mudah diajak bicara, kenapa kita tidak membicarakan semua ini dengannya? Kau bisa memberitahu mimpi besarmu itu padanya, siapa tahu dia tertarik dan tidak jadi membeli tanah itu."
__ADS_1
Dokter Nilam sangat setuju dengan pendapat Humaira. Dia akan melihat dulu seperti apa pengusaha dari Oman itu.